Rabu, 28 September 2011

DemoSantri (Based on True Story)


 ini cerita lama sebenarnya, sekitar 6 tahun lalu, waktu aku kelas dua Tsanawiyah, setingkat SMP lah. Akhirnya bisa juga dibuat cerpen meski masih banyak banget kurangnya. 
Buat yang pernah satu sekolah sama aku, mungkin masih ingat tentang kejadian yang "heboh" ini..
Maaf kalo feel yang ada di cerita ini kurang mengena, insya Allah akan terus diperbaiki, baik judul maupun ceritanya.
:D
 Selamat membaca..
^^/
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Bruk!
“Bergegas!”
“Ya, tunggu.”
“Bergegas! Yang lain sudah disana!”
Keributan di luar serta merta memancingku untuk melongokkan kepala keluar jendela. Rangkuman mata pelajaran bahasa Indonesia yang kurangkum untuk ujian esok hari tak jadi menarik lagi.
“Ada apa sih?”
Rupanya tak hanya aku yang terpancing rasa penasarannya. Beberapa teman sekamar mulai merapat ke jendela. Beberapa mengintip sambil berdiri, beberapa menumpang kasurku yang berada di atas agar lebih nyaman melihat, beberapa lainnya menarik kain seadanya untuk menutup rambut dan menjulurkan kepala lewat pintu.
“Ada apa sih kak?” Vania yang baru datang bertanya kepada salah seorang dari mereka.
“Lihat saja, ada sesuatu di depan Resepsionis Pondok,” jawab si kakak sekedarnya, tangannya sibuk menalikan sepatu lalu berlari mengejar kawannya yang lain. Tampak sangat tergesa-gesa.
Rasa penasaran kami semakin memuncak melihat kejadian yang tampaknya langka di pondok ini.
***
“Sara, semester ini kita harus dapat nilai sangat bagus ya!” ujarku.
“Oke, meskipun aku gak mau sekolah di sini lagi, tapi aku juga gak mau kena DO,” timpalnya.
“Ayo, ayo belajar yang bener!” Rifa menyemangati.
Malam ini aku dan Sara berjuang mati-matian untuk Ujian Akhir Semester dua. Bagaimana tidak, pelanggaran yang kami lakukan sudah melewati batas toleransi. Entah akan dimaafkan atau tidak. Kami sama berharap jika nilai kami bagus mungkin pondok akan menimbang ulang untuk mengeluarkan kami.
Hari ini malam memang sedikit tak bersahabat. “Angin musim ujian” biasanya kami menyebutnya begitu. Angin dingin yang membuat kulit kering dan bibir pecah-pecah. Bahkan air hangat yang baru diambil dari kamar pengurus asrama langsung dingin pada langkah ke lima dari pintu. Gelas kosong di tengah-tengah aku, Rifa, dan Sara kerap kali oleng bahkan sedikit terbang karena angin. Dingin memang, padahal kami sudah memakai jaket dan selimut. Tapi tengah-tengah lapangan basket asrama tetap menjadi tempat favorit kami, tak peduli sedingin apapun angin malam. Karena dari seluruh sisi lapangan, tempat ini yang paling tepat. Komposisi cahaya yang cukup terang untuk membaca ulang rangkuman yang telah kami buat tadi siang. Dan cukup gelap juga sehingga bintang masih tampak ramai di langit sana. Oh ya, satu hal yang utama. Lingkaran di tengah lapangan, cukup untuk menampung kami bertiga dan imajinasi kami tentang ritual-ritual aneh.
Rangkuman sudah habis dibaca separuh. Susu hangat sudah berkali-kali menjadi dingin dan habis kami minum. Di lapangan pun hanya tinggal kami bertiga. Tapi semangat belajar itu masih jua tak surut. Nilai sempurna dan terselamatkan dari status Drop Out. Sudah, itu saja motivasi kami. Rifa tengah melontarkan lelucon agar kami kembali segar ketika pengurus asrama yang kami sebut ‘Lady Di’ datang mengusik.
“Ayo masuk kamar, sudah malam!” katanya yang di telinga kami terdengar menyebalkan.
Ga mau! Kita masih mau belajar.” Sahut Sara cuek sambil tetap menekuri kertas-kertasnya.
“Masuk kamar! Atau teteh catat sebagai pelanggaran,” ancamnya yang membuat Sara semakin berang.
Ga usah diancam pun kami juga mau masuk kok,” jawab Rifa kalem. Air tenang menghanyutkan. Rifa menarik tangan Sara dan aku hingga Sara terpaksa mengalah, meski tatapan sebalnya masih tak mau kalah.

“Giliran aku mau belajar diganggu. Kalau sudah di blacklist, nakal atau baik pun sudah tak berguna. Dengar kan tadi dia bilang mau dicatat sebagai pelanggaran? Itu curang!” Sara berang. “Kita keras kepala sedikit langsung diancam pelanggaran!”
Aku diam. Masih dengan pakaian lengkap. Belum ingin masuk kamar. Sara dan Rifa pun sama. Seperti menunggu sesuatu. Sebal memang, tapi di masa penentuan ini kami tak boleh terlalu banyak membantah kalau tak ingin dikeluarkan. Atau setidaknya jangan sampai ketahuan melakukan pelanggaran.
“Jam berapa sekarang?” Tanyaku. Pandangan kami bertiga beralih ke jam dinding.
“Baru jam segini. Aku belum mau tidur. Belum mau masuk kamar.”
“Hm… keluar lagi yuk!” Rifa tersenyum penuh rencana.

“Jangan sampai ketahuan siapa-siapa. Satpam juga jangan. Inget! Lurusin niat cuma untuk belajar!” bisik Rifa.
“Tapi, kita gak bisa belajar di tempat gelap, Fa.” Bisikku. Sedetik kemudian Sara menyalakan lampu kelas tempat kami berada, yang langsung dimatikan lagi olehku begitu menyadari ada kemungkinan Lady Di patroli untuk mematikan lampu di gedung atas asrama. Gedung yang posisinya persis di belakang gedung kelas tempat kami ada saat ini.
“Ke belakang kelas. Ayo cepat pindah tempat!”
Sebelum kami sempat berbelok, terdengar suara motor satpam dari kejauhan. Serentak kami bertiga masuk ke kelas terdekat. Suara motor itu semakin mendekat dan akhirnya berhenti tak jauh dari kelas yang kami masuki. Bisa masalah kalau mereka salah paham. Degup jantung kami berlomba dengan doa yang kami untai bertiga.
“Aku deg-degan banget,” ujarku lega begitu suara motor itu menjauh. “Kita pulang saja yuk. Khawatir itu sebagian dari ragu-ragu kan. Dan katanya kalau ragu-ragu kan lebih baik ditinggalkan.” Sara dan Rifa menimbang sesaat sebelum akhirnya setuju.
***
“Haa..” Sara melengos. “Kaget banget. Si Lady Di itu muncul tiba-tiba. Interogasi pula. Memangnya santri yang pernah ketahuan keluar malam hanya kita saja?”
“Iya sih, tadi ekspresinya seperti khawatir banget. Aneh.” Sahutku sambil menghempaskan badan ke kasur.
“Bosan. Aku masih malas di kamar. Keluar lagi yuk!” Usul Sara.
Langit malam memang selalu lebih dari cukup untuk menghilangkan kepenatan. Tapi cahaya lampu gedung asrama membuat gemintang itu hanya tampak sedikit. Karena itu, kami menyukai bagian tengah lapangan basket yang letaknya agak jauh dari gedung asrama. Tapi, duduk di tengah lapangan basket pada saat ini tentu saja adalah hal yang salah. Bisa kacau urusannya kalau kami sampai kena tegur tiga kali dalam dua jam. Ditambah lagi track record kami yang jelas-jelas terancam dikeluarkan. Menggali kubur sendiri itu sih.
Nah, makanya ada satu tempat lagi yang kecil kemungkinan akan didatangi orang selain kami. Tempat yang katanya satu dari tiga kerajaan jin di pondok ini. Terserah mau percaya atau tidak. Yang jelas, kami tak peduli. Toh yang namanya jin itu ada dimana-mana, selama kami tidak mengganggu, buat apa mereka jahil, jadi dimana pun seharusnya sama saja. Yang pasti tempat ini cukup gelap untuk bisa melihat keindahan malam. Letaknya yang lebih tinggi dari gedung lain juga merupakan nilai tambah. Daya pandangnya jadi sedikit lebih jauh. Rasanya seperti melihat gambar kota kecil di atas kertas, dengan barisan pohon dan hutan di sekelilingnya yang tampak menjaga kota yang tengah tertidur itu. Lalu, di sudut kertas itu banyak cahaya kecil-kecil yang bagiku tampak seperti kunang-kunang. Kota kecil itu pondok kami yang dikelilingi hutan. Dan cahaya kecil-kecil itu sebenarnya cahaya jalan raya yang letaknya agak jauh dari pondok.
Dari semua tempat di pondok, inilah tempat yang paling aku suka. Tenang, cantik, dan menentramkan. Kadang kami hanya melihat bintang, kadang saling bercerita, kadang menghafal qur’an, atau kadang juga bermuhasabah. Apa sajalah yang terfikir untuk dikerjakan. Tak banyak yang mau kesini, apalagi malam hari. Dan itu menyenangkan. Begitupun saat ini, sebelum aku mendengar suara Lady Di yang memberi salam dengan suara rendah. Bulu romaku meremang. Ada perasaan tak enak yang tiba-tiba menyusup. Tak seperti biasanya. Aku berusaha menenangkan diri. Menyusun logika, mengira-ngira hal masuk akal lainnya. Tapi tak kunjung berhasil. Justru perasaan ganjil itu yang semakin menguat.
“Pulang yuk!” Aku menoleh. Rifa yang angkat suara.
“Sepertinya memang lebih baik pulang.” Kali ini Sara.
Tanpa perdebatan macam-macam akhirnya kami pulang. Lampu kantor divisi keamanan tampak gelap. Tapi aku merasa ada orang di dalamnya. Ah, malam ini rasanya ada yang tidak beres.
***
’Ala jami’it thalibaat min Qismu Art min marhalati ‘aliyah wa tsanawiyah hudhurukunna muntadzhor fii fashlu sabi’  ‘Wa’ haalan. Lakunna syai’un muhimmun jiddan. (Kepada seluruh anggota Divisi Kesenian SMP dan SMA ditunggu kehadirannya di ruang kelas 7E sekarang. Ada hal yang sangat penting)”
Tak lama setelah pengumuman itu, divisi OSIS sekolah yang lain juga dipanggil. Tak biasanya ada kumpul divisi serentak seperti ini. Dan entah kenapa juga atmosfer pondok terasa sedikit tegang.

“Ada yang tahu kenapa kita kumpul hari ini?” tanya Kak Tiffany, ketua Divisi Kesenian OSIS SMA. Kami diam, tepatnya bingung. Semua rapat divisi sebelumnya selalu dalam atmosfer yang hangat, tidak setegang ini.
“Langsung ceritakan saja, Tif,” sahut Kak Eva.
“Din, kamu lebih pintar cerita,” kata Kak Tiffany.
Kak Dini menghela nafas panjang, tampak begitu berat menceritakannya. Aku, Fathy, Ardia, dan Rina semakin bingung dan penasaran.
“Kamu aja Tif yang mulai,” hak cerita dialihkan lagi ke Kak Tiffany. Kami semakin bingung.
“Yah... rasanya kalian memang harus mengetahui fakta ini.” Kalimat pembuka yang terasa begitu berat. “Kalian ingat saat pertama kali datang ke pondok ini?”
Kami masih diam. Menerka-nerka arah pembicaraan yang dimaksud. Pasti bukan tentang mengembalikan formulir, berpisah dengan orang tua, adaptasi, dan semacamnya. Lalu tentang apa?
“Kalian ingat suasana saat pertama kali datang ke pondok ini? Bagaimana atmosfir pondok? Bagaimana santri? Bagaimana masjid?” Kak Tiffany menarik nafas panjang.
“Kalian tentu masih ingat bagaimana kondisi pondok ini saat kalian pertama kali datang. Suasana agamis yang terasa begitu kental. Pelanggaran yang dilakukan pun jika dibandingkan saat ini tentu hanyalah pelanggaran-pelanggaran kecil saja. Tapi perlahan, amosfir itu mulai luntur. Baju seragam yang sejak awal adalah gamis, tahun ini diubah menjadi rok dan kemeja. Bangunan asrama dan kelas yang diperbanyak, tapi bangunan masjid masih juga belum tersentuh. Kita tahu khan kalau atap masjid bagian tengah masih juga belum diselesaikan pembangunannya. Masjid yang sering bocor kalau hujan. Tapi, di atas masjid malah dibangun kelas baru. Padahal, seharusnya dana yang ada diprioritaskan dulu untuk perbaikan masjid.”  Ia menarik nafas lagi. Tampaknya sangat berat.
“Di pondok ini ada suatu konspirasi...”
***
“hey, hey, Fiya! Coba lihat ini!” seru Pangestika yang tengah berkutat dengan data-data di depan komputer.
“Ada apa?” Fiya menghampiri Pangestika.
“Aku merasa ada yang aneh dengan data-data disini.”
Fiya memperhatikan data itu dengan lebih seksama kali ini. “Hmm... memang rasanya ada beberapa hal ganjil di sini.”
“Rasanya ada hal ganjil lain pada berkas yang kulihat ini Fi.” Hida ikut ambil suara.
Selang beberapa waktu kemudian kelima orang yang ada disana sibuk dengan data-data aneh yang tanpa sengaja mereka temukan.
“Gimana Fi?” Athoy tampak tegang.
“Hmm Fi, kalau memang data-data ini bermasalah. Rasanya kita harus sedikit hati-hati, ada orang yang akan datang.” Amani yang berada di dekat jendela mengingatkan. Serentak semua kembali sibuk dengan urusannya masing-masing, bersikap seolah tak ada yang terjadi sebelumnya.
Pintu terbuka, seorang wanita paruh baya memasuki ruangan dan mengedarkan pandang kepada lima orang itu. “Kenapa kalian disini?” tanyanya dengan wajah ramah.
“Meminjam komputer bu, komputer di kantor OSIS sedang rusak. Tadi kami sudah izin dengan penanggung jawab, katanya kami boleh memakai komputer di ruangan ini,” jawab Fiya.
***
Drap, drap, drap!
“Hida..! Hida..!” Terengah-engah Athoy berlari ke ruang OSIS.
“Hey, hey! Athoy, Athoy! Tenang donk. Ada apa sih? Heboh banget.”
“Assalamu’alaikum,” Fiya dan Amani menyusul kemudian.
“Si Athoy kenapa?” tanya Hida sambil mengangsurkan air mineral ke Athoy yang masih terengah-engah.
“Masih inget Bu Ratna?” Amani menanggapi pertanyaan Hida.
Hida mengangguk, “Yang datang ke tempat kita minjem komputer waktu itu?”
“Ya, tadi kita ketemu beliau pulang dari silaturrahmi ke tempat Pak Harno. Tiba-tiba beliau mencegat kita. Awalnya sih ngobrol biasa, tapi kemudian beliau bertanya macam-macam. Entah apa yang beliau pikirkan, tapi sepertinya beliau khawatir kita memberitahu Pak Harno tentang suatu hal.”
Hida menyimak.
“Beliau bertanya tentang apa yang kita bicarakan pada Pak Harno,” Athoy diam sesaat. “Dan ini sudah yang ketiga kalinya kita ketemu beiau sepulang dari rumah Pak Harno. Seperi dia sengaja menyusul.”

Cklek
Pintu ruang OSIS terbuka, serentak mereka menoleh ke arah pintu. Rupanya Pangestika tengah berdiri di sana.
“Fuh, untung saja sistem keamanan data di sini masih sangat sederhana.” Pangestika menghempaskan tubuhnya ke karpet, ikut duduk bersama keempat temannya yang sudah datang lebih dulu.
“Sepertinya memang ada hal yang aneh di pondok ini,” lanjut Pangestika santai seraya mengambil air mineral dan meminumnya. “Tadi aku baru saja dari kantor Badan Pengasuhan, meminjam komputer. Entah kenapa ada sebuah folder yang menarik. Sedikit sulit diakses dengan cara biasa. Tapi pengamanannya juga terlalu biasa. Ada beberapa file yang membuatku penasaran. Saat kubuka ternyata isinya daftar nama santri dan karyawan yang telah ditandai beberapa, dan file lainnya tentang perputaran uang di pondok ini.”
Keempat orang lainnya menyimak. Ada rasa ganjil yang tiba-tiba menelusup.
“Rasanya kita perlu menyelidiki hal ini.”
***
“Setelah hari itu, mereka berlima mulai mengamati keadaan pondok dengan lebih peka,” sambung Kak Meira yang sejak tadi diam disamping Kak Tiffany. “Sesuai dugaan, terjadi penyelewengan terhadap anggaran yang ada. Tak hanya itu, ada beberapa alasan yang menyebabkan pelanggaran-pelanggaran meningkat ke level yang lebih tinggi. Kurikulum dan hal-hal terkait pengajaran yang entah kenapa semakin mendekati “sekolah umum” dan sejalan dengan hal itu, apa yang menjadi ciri dari sebuah “pondok pesantren” malah semakin kabur.
Berdasarkan apa yang didapat mereka berlima, dan bukti-bukti yang dengan susah payah mereka kumpulkan, semua hal ini bermula sejak kedatangan Bu Ratna dan suaminya ke tempat ini. Mereka yang dekat dengan Pak Harno yang merupakan pemimpin pondok menjadi mudah untuk mengusulkan ide-ide mereka dengan cara yang licin hingga tidak diketahui maksud sebenarnya.
Fiya, Hida, Amani dan yang lainnya pun sudah beberapa kali mencoba datang ke rumah Pak Harno lagi untuk membahas hal ini. Tapi entah kenapa mereka semakin sulit untuk bertemu dengan Pak Harno. Bu Ratna pun tampaknya mengetahui maksud kedatangan mereka, hal ini tentu saja semakin menyulitkan. Ditambah lagi, kondisi pondok yang semakin lama semakin aneh.”
“Eh, aneh bagaimana?” Rina spontan bertanya.
“Ada dua keanehan di pondok belakangan ini.”Jelas Kak Eva. “Pertama, apa kalian pernah dengar tentang bola api yang beberapa kali dilihat beberapa santri? Sesajen yang ada di kelas atas masjid? Dan juga ninja.”
“Ninja?” gumamku. Cerita ini rasanya semakin aneh saja. Tapi, seorang kakak kelas yang tengah haid dan tidak ikut shalat tahajud akbar memang pernah bercerita tentang bola api yang terbang melintas. Sesajen itu pun, aku juga pernah mendengar ada ustadzah yang melihatnya. Tapi tentang ninja, rasanya belum pernah dengar.
“Untuk apa ninja kemari?” Tanya Ardia.
“Entahlah, tapi Fiya dan Hida sudah beberapa kali melihat bayangan ninja yang melintas di atap gedung asrama tengah malam.”
“Lalu yang lainnya?” Tanya Ardia lagi.
“Apa kalian sadar kalau sudah beberapa waktu ini kelima orang itu jarang terlihat?” Tanya Kak Tiffany seraya menatap mata kami satu persatu dengan matanya yang memang tajam.
“Coba kalian bayangkan kalau tiba-tiba kalian ditelpon oleh nomor asing dan ia memanggil nama kalian seperti ini, ‘Tiffaaaannnyyyy’.” Sambung Kak Dini sambil menirukan suara yang membuat kami bergidik.
“Kenapa nama gue sih Din! Serem nih!” Kak Tiffany setengah bercanda.
“Lho? Telpon dari mana kak?” Pertanyaan yang wajar, mengingat di pondok ini membawa ponsel termasuk pelanggaran.
“Terkadang nama mereka dipanggil ke Resepsionis Pondok, atau terkadang dengan ponsel sitaan yang masih ada di kantor Divisi Keamanan, entah darimana mereka mendapat nomor ponsel tersebut.”
“Selain itu, sudah beberapa waktu ini pula, mereka selalu dikejar-kejar oleh Bu Ratna ini. Seringkali sampai dijemput ke kamar, pernah pula sampai ditunggu di depan kamar mandi. Dan sampai masa ujian saat ini pun hal itu tidak berkurang.” Kak Meira diam sejenak. “Bahkan mereka pernah diancam tidak akan lulus ujian, terkadang mereka juga diancam akan dibunuh.”
Cerita ini sukses membuat kami merinding.
“Karena itu, sejak halitu terus menekan dan mengejar mereka, mereka jarang keluar dari kantor OSIS dan kantor Divisi Keamanan. Bolak-balik di kedua ruangan itu. Kalau mereka sedang di kantor OSIS dan tiba-tiba Bu Ratna muncul mencari mereka, salah satu dari kami langsung bergegas ke kantor OSIS lebih dulu untuk memberitahu mereka. Lalu mereka akan pindah ke kantor Keamanan sebisa mungkin tanpa diketahui oleh Bu Ratna.”
Kami diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Lalu? Untuk apa hal ini diceritakan pada kami?” Fathy angkat suara.
“Kemarin, seluruh pengurus OSIS SMA telah bersepakat untuk tak menjadikan hal ini rahasia lagi. Setidaknya, biarkan seluruh santri tahu apa yang sebenarnya terjadi di pondok ini. Dan untuk itu, kalau hanya OSIS SMA saja yang bertindak, hal ini tak kan cukup. Inilah bentuk ikhtiar kita untuk masalah ini. Kalian tak perlu merasa takut. Dan jangan lupa ma’tsurat!” Terang Kak Tiffany.
***
Rapat serentak seluruh divisi OSIS selesai. Rupanya, divisi kami adalah divisi terakhir yang selesai. Atmosfer pondok mendadak terasa begitu berbeda. Tegang dan berat. Entah hanya perasaaku saja, atau memang nyatanya begitu. Sepertinya anggota divisi lain sudah menceritakannya lebih dulu.
Entah seberapa besar kecepatan transfer data di sebuah pondok pesantren. Karena hanya dalam waktu singkat. Satu atau dua jam kemudian seluruh pondok, dengan jumlah total sekitar seribu orang santri, sudah mendengar cerita tersebut. Beberapa tahu dengan tepat, dan ada juga yang tanpa maksud buruk mulai menerka, dan hasil terkaannya itu bercampur dengan berita asli.
Malam ini sungguh udara seakan semakin menyesakkan dada. Atmosfer yang tegang semakin bertambah berat dengan berbagai terkaan dan spekulasi negatif tentang hari esok. Alhasil, satu kamar yang terdiri dari dua belas ranjang tingkat, semakin tampak lebarnya. Dua belas ranjang tingkat itu didekatkan satu sama lain di tengah. Dengan tujuan menciptakan rasa aman di hati. Meski hal ini tidak terlalu logis juga, toh pada akhirnya mereka akan asyik dengan mimpinya masing-masing.
***
Beberapa hari kemudian, masjid semakin penuh dari sebelumnya. Sepertinya santri yang biasa shalat dan ma’tsurat di kamar telah memutuskan untuk meramaikan masjid.
Ka Fiya dan yang lainnya masih jarang terlihat. Sepertinya ada sesuatu yang kurang dalam ikhtiar ini.

“Ayo cepat!” Seorang santri kelas tiga SMA tampak sibuk menalikan tali sepatunya dan menyuruh temannya agar mempercepat persiapan. Di sampingnya, sebuah marka tergeletak, entah apa tulisannya.
Lalu, suara sekelommpok santri putra semakin jelas terdengar. Orang-orang itu semakin sigap bersiap.
“Ada apa kak?” Vania memberanikan diri bertanya.
“Terkait issue itu, kami mau aksi di depan gedung aula.”
Mendengar kabar itu, serentak kami bersiap memakai pakaian dan menuju gedung aula. Ada begitu banyak orang di sana. Santri putra pun sepertinya tahu tentang hal ini. Lautan massa. Ketua OSIS putra berdiridi lantai dua gedung aula, bertindak sebagai orator. Beberapa korban terkait juga maju untuk menyuarakan ceritanya. Beberapa ustadz yang mengetahui tentang keanehan di pondok ini juga ikut bercerita bahwa banyak dari mereka mendapat sms ancaman oleh nomor asing dan tidak dapat ditelpon balik, atau surat kaleng yang juga berisi ancaman.
Ada tiga hal utama yang diharapkan oleh mereka dapat dipenuhi oleh pihak yang bertanggung jawab atas pondok ini. Yang pertama adalah pengembalian identitas “pondok pesantren” sebagaimana mestinya. Yang kedua, transparansi dana dan memprioritaskan dana untuk memperbaiki masjid putri. Dan utamanya mengeluarkan Bu Ratna dan suaminya dari jabatan karyawan pondok.
Kepala sekolah, kepala yayasan, pemimpin pondok dan orang-orang penting lainnya akhirnya mengadakan rapat dadakan dengan pihak-pihak yang terkait dengan aksi teror yang dirasakan beberapa ustadz, ustadzah, dan santri ini.
Demo yang berlangsung sejak pagi akhirnya selesai hingga menjelang sore, dengan dipotong shalat dzuhur. Hingga dihasilkan keputusan untuk menerima gugatan yang diajukan santri. Bu Ratna dipecat, dan kondisi pondok kembali dibenahi. Seragam putri yang sempat atas-bawah diputuskan untuk dihapus dan kembali menjadi gamis di tahun ajaran berikutnya.
***
Keesokan harinya, demo di sebuah pondok pesantren ini menjadi headline di sebuah koran lokal. Dan entah kenapa ada keanehan dalam berita itu. Mungkin memang begitu adanya media.
Setelah semua kembali tenang, kejadian ini mungkin akan terhapus perlahan dari memori orang-orang, tapi tidak bagi angkatan kami. Setidaknya, ini membuat kami bersyukur atas peraturan-peraturan pondok yang terkadang terasa mengikat. Karena kami tahu, peraturan ini dibuat justru agar kami tetap ada dalam koridor yang seharusnya.