Minggu, 23 Oktober 2011

After Long Waiting

“Mengapa cerita pertama itu begitu sulit terlupakan?”
“Jangan berhenti, mungkin hanya tinggal satu langkah lagi garis finish-nya”
“Keajaiban itu adalah hasil dari do’a yang bertemu usaha”

And this is my story...
After Long Waiting
“Ya Allah, semoga tahun ini aku bisa ‘bertemu’ dengannya. Semoga ‘cerita’ ini dapat menemukan kesimpulannya” –sebuah do’a di awal tahun 2010—
------------------------------
  Kuningan, di salah satu pesantren di kaki Gunung Ciremai, pertengahan tahun 2010.
C.I.R.E.B.O.N
Apa? Setengah tak percaya aku memintanya kembali mengulang ceritanya.
“Ya, kemarin di pertemuan guru TK, tiba-tiba ada ibu-ibu yang nyamperin umi. Katanya ibu dari temen SD kakak yang sering kakak ceritain itu. Umi sih ga inget. Setelah dia cerita, baru umi inget kalau yang dimaksud itu orang yang sering kakak ceritain. Terus cerita-cerita, katanya sekarang anaknya SMA di Cirebon. Di pesantren apa gitu, umi lupa namanya.”
Badmood yang semenit lalu ada, tiba-tiba hilang. Aku langsung masuk kamar dan cerita ke temen-temen. Saking semangatnya, aku lupa kalau kasur asrama itu ga seberapa tinggi, dan kepala aku sukses “kenalan” ama tepi ranjang. Sakit sih, tapi ya sudahlah. Mood aku bener-bener lagi bagus saat ini.
-----------------------------------
(gunung Ciremai nya ketutup awan, gedung di ujung itu kantor Tarbiyah atau Pembinaan)

Beberapa minggu berselang setelah hari itu. Suasana kamar di hari menjelang sore itu santai seperti biasanya. Meskipun di luar berdiri gagah kantor tarbiyah atau pembinaan, tapi di dalam kamar beberapa santri sibuk bermain dengan gadgetnya masing-masing. Berkirim pesan singkat dengan santri putra di balik dinding, mendengarkan radio yang disimpan di bawah meja setrika, atau menyelipkan headset MP3 ke telinga. Aku di sudut kamar, di ranjangku, sibuk dengan MP3 dan setumpuk majalah anime, sambil sesekali mengusili teman sebelah ranjangku yang juga sedang sibuk dengan MP3 dan handphone-nya. Ya, di pondok kami barang-barang tersebut bukan barang yang legal untuk dimiliki. Sama dengan tidak diperbolehkannya keluar area pondok tanpa izin. Tapi di kamar ini, sederet peraturan itu hampir terasa tidak ada.
“Ned, gue kok tiba-tiba pengen es krim SpongeBob ya.” Gumam Nisa, teman sebelah ranjangku.
“Cabut yuk,” tanggapku santai. Masih sambil membaca ulasan salah satu anime di majalah.
“Err.. beneran nih? Tapi gue pengen sekalian ke si teteh sih.” Lanjutnya. “Lu mau ga?”
“Ayo.”
Tak butuh waktu lama untuk kita berdua siap-siap. Ini hari sekolah, jadi tidak aneh kalo ada santri yang masih keluyuran dengan seragam sekolah, yang untungnya juga seragam perizinan. Poin menguntungkan buat orang-orang yang hobi cabut, alias kabur tanpa surat izin keluar.
Karena khawatir terlalu lama di si teteh, warnet yang biasa kita kunjungi, aku dan Nisa memutuskan untuk ke si teteh lebih dulu. Saat itu aku hanya anak kelas tiga SMA yang payahnya masih hobi senang-senang dan addicted dengan game online. Tapi disamping itu, aku juga anak SMA yang hobi nyari informasi yang mau diketahui sampai dapat. Karena itu, hari ini tidak seperti rutinitas online yang biasanya kulakukan. Bukan jendela facebook yang biasa aku buka berlama-lama dan ganti status yang sudah direncanakan mau di update. Bukan juga posting puisi-puisi yang lebih tepat disebut curhat abstrak di blog yang lebih mirip buku diary.
Hari ini aku menelusuri google dengan satu keyword : Syarif Hidayat. Entah kenapa aku percaya kalau hari ini akan ketemu nama sekolah tempat dia belajar sekarang. Aku hanya punya sedikit petunjuk. Nama lengkap dia yang bisa dibilang cukup jarang, karena biasanya adalah Syarif Hidayatullah, tapi dia ‘hanya’ Syarif Hidayat. Ditambah dengan asumsi kalau semua siswa kelas 3 SMA dan sederajat yang ikut Ujian Nasional pasti dia punya nomer ujian yang terdata dan masuk ke mesin pencari ini. Sekedar mencoba-coba aku memasukkan nomer Ujian Nasional milikku, dan benar saja, sesuai dugaan, namaku muncul.
Seperti anak kecil yang menemukan mainan baru aku mulai mengetikkan namanya dan beberapa kata tambahan yang kurasa tepat. Dan dengan sabar, aku menelusuri semua hasil pencarian yang ada, entah sampai halaman ke berapa. Benar-benar seperti anak kecil yang diberikan puzzle yang jumlahnya 500 keping untuk dirangkai. Aku begitu bersemangat. Kadang, sempat ada ragu juga, “apa bakal ketemu?” setelah satu jam lebih aku berkutat dengan google itu, dan masih belum ada yang kutemukan. Tapi kemudian aku teringat, “Seringkali orang berhenti justru di saat ia tinggal selangkah lagi mencapai finish”. Memang sih ini benar-benar motivasi yang rasanya salah tempat. Tapi benar-benar terasa menyenangkan bagiku hari itu. Beberapa kali aku tersadar bahwa bibirku masih melengkung membentuk garis tipis senyuman. Dan aku tahu bahwa mataku berbinar. Entah semangat macam apa yang kurasakan, tapi rasa penasaran membuatku tak ingin berhenti sebelum menemukan dengan pasti nama dan lokasi sekolahnya saat ini. Benar-benar hal yang percuma memang. Tapi, sekali lagi, ini menyenangkan. Sangat menyenangkan.
Sudah hampir dua jam aku berkutat dengan google. Jendela facebook sudah kututup sejak tadi. Dan tanpa sengaja, aku menemukan situs entah Depdiknas atau apa. Yang pasti di sana ada nama-nama sekolah yang mengikuti Ujian Nasional. Sebelumnya, aku memastikan kalau ini situs dengan peluang yang cukup untuk memungkinkan aku melihat namanya. Pertama, aku memasukkan “Kuningan” di pilihan kota. Kota tempat pondok pesantren-ku berada. Dan aku semakin semangat saat nama pondokku ada disana, dan semakin bersemangat saat menemukan bahwa nama ku juga ada, juga nama teman-teman sepondok lainnya. Kemudian aku mengganti kota “Kuningan” dengan “Cirebon”. Ini bukan hal yang cepat ternyata. Ada begitu banyak SMA dan sederajat di Cirebon, Lalu aku ingat, umi bilang dia sekolah di pesantren, yang artinya SMA Negeri bisa dicoret. Lalu yang kedua, aku mulai berasumsi lagi, kalau orang Jakarta yang jauh-jauh sekolah di Cirebon pasti ga akan milih pesantren yang jumlah santrinya terlampau sedikit. Dengan ini, hampir separuhnya ter-eliminasi. Dan sisanya, aku periksa satu per satu.Entah, hari ini aku terlalu sabar dan semangat. Satu jam kemudian aku mulai ragu lagi, tapi aku masih enggan berhenti. Khawatir kalau justru tinggal satu sekolah lagi yang mesti kuperiksa.
Nama Syarif memang banyak. Sangat banyak, tapi hanya satu Syarif Hidayat yang aku tahu. Bukan Syarif Hidayatullah atau Syarif-Syarif lainnya. Dia yang lahir bulan Juni 1992 kalau aku tak salah ingat (bersyukur di kartu Ujian ada tanggal lahirnya juga). Oh ya, siapa orang ini? Dia teman satu TK dan satu SD ku, kita sekelas sejak TK sampai kelas 4 SD. Pribadi yang entah sudah sangat lama tampak begitu menarik. Entah dengan pakaian taqwa atau kaos biasa. Entah saat bercanda dengan teman-temannya, bermain dengan anak kecil, atau berbicara dengan yang lebih tua. Entah saat ia usil, tertawa, menyanyi di salah satu acara sekolah, atau melantunkan adzan. Hampir semua. Tapi dengan berada di satu sekolah selama delapan tahun, dan enam tahun berada dalam kelas yang sama. Sama sekali tidak membuat kami menjadi akrab. Bahkan selama itu aku hanya melihatnya dari kejauhan, terlalu pemalu dan takut untuk memulai pembicaraan. Dan sejak kelulusan SD sampai saat ini, aku kelas 3 SMA, aku belum pernah melihatnya lagi. Ini memang hal konyol. Sangat konyol. Kadang aku menganggapnya seperti mimpi anak kecil. Bahkan aku tak tahu bagaimana sifat dan wajahnya saat ini. Tapi, tetap saja aku tersenyum saat mengingat dirinya yang ada di memori masa kecilku. Tapi tetap saja, aku membuat akun di jejaring sosial hanya untuk menemukan keberadaannya. Tapi tetap saja, saat ini aku sangat bersemangat memanfaatkan mesin pencari hanya untuk menemukan tempat dia berada sekarang. Entah setelah itu bagaimana, aku hanya ingin menuntaskan rasa penasaranku. Mungkin selanjutnya aku akan mencari dimana dia kuliah, sekali lagi menatapnya dari kejauhan, atau justru menghampirinya, atau bahkan aku hanya penasaran, dan lalu perasaan itu selesai sampai di sini tanpa kelanjutan. Terserah saja.
Sambil berfikir tentang hal-hal itu, aku menemukan namanya. Tertulis jelas. Syarif Hidayat. XX Juni 1992. Ya, entah keyakinan dari mana ini memang dia. Aku sumringah. Dan langsung offline. Online hari ini sudah selesai. Nisa sudah selesai sejak beberapa menit yang lalu.
Aku masih sumringah. Dadaku terasa begitu meluap-luap oleh rasa puas dan bahagia. Masih seperti itu sampai aku dan Nisa selesai membeli dan memakan eskrim Spongebob. Masih seperti itu, meskipun tiba-tiba hujan turun deras dari langit kuningan dan baju gamis hitam “kebanggaan” kami basah kuyup. Masih seperti itu meskipun sempat berpapasan dengan santri putra dengan tampang yang sama sekali tak “layak pandang”. Sangat berantakan. Masih seperti itu meskipun dua santri yang pulang “cabut” ini tak bisa melihat jelas karena hujan yang sangat deras dan kacamata berembun yang tak bisa dikeringkan. Masih seperti itu sampai kami tiba di kamar, dan sekali lagi kepalaku terantuk. Kali ini lemari. Masih seperti itu meskipun saat bersiap mandi lantai halaman kamar mandi yang kuyup (karena halaman kamar mandi tak ada atapnya) membuat keseimbanganku agak goyah dan tergores pintu kamar mandi yang dilapisi seng. Masih seperti itu, sampai malam menjelang tidur.
Hari itu, hari terbaik dalam masa kelas 3 SMA ku, dan semua teman sekamarku tahu kenapa aku begitu sumringah sepanjang hari berikutnya.
-------------------------------
Jakarta, malam hari dengan taburan “bintang di bumi” metropolitan, akhir tahun 2010.
Hari ini akhir tahun, 30 Desember. Ujian Nasional sudah berakhir sejak lama. Acara perpisahan atau yang kami sebut Haflatul Ikhtitam sudah beres sejak lama. Ijazah Depag dan Ijazah Pondok sudah rapi tersimpan di lemari. Kami sudah benar-benar dinyatakan lulus. Hanya tinggal menunggu pengumuman dimulainya masa perkuliahan. Dan itu artinya, aku bukan lagi di dalam pondok. Ya, malam ini aku tengah berkutat di rumah. Di depan laptop. Jam hampir menunjukkan pergantian hari saat satu notification facebook muncul. “Neng Chan memasukkan Anda ke dalam grup alumni SDIT NF ak 2004”
“Waah.. udah dibikin grup.” Aku mulai menelusuri nama-nama anggotanya, dan benar saja, ada nama dia disana!
Hohho.. Banzaaaiii!!!
Dengan begini, aku bisa benar-benar memastikan perasaanku akan lanjut atau selesai. Dengan senyum yang masih tersungging aku melihat fotonya satu per satu. Ya, ini memang dia. Aku masih ingat wajahnya, meskipun ini adalah versi “6 tahun kemudian”. Banyak yang berbeda dari dirinya. Tak hanya wajahnya, foto menceritakan banyak hal, karena sekedar status Facebook tak bisa mewakilkan semuanya. Dia berbeda. Tentu saja. Hari ini sudah 31 Desember. Akhir tahun 2010. Tahun ketigabelas. Dan aku tahu, tak kan ada tahun keempatbelas. Tapi aku puas. Sangat puas dengan bab ini dalam cerita hidupku.