Minggu, 02 Oktober 2011

from Kyo Samurai Deeper

"Kalau lemah, lebih baik beri jalan ke atas, kalau kuat lebih baik tunjukkan jalan ke atas. Di tangan orang yang hanya berkaca pada masa lalu, masa depan hanyalah sebuah kehancuran"

saya nemu kalimat itu abis baca komik Kyo Samurai Deeper. komik lama sih, udah dari jaman kapan tau di rekomendasiin, tapi baru sempet baca beberapa waktu belakangan ini.

Oke, balik lagi ke kalimat di atas. saya nangkep dua hal penting di kalimat di atas. cukup nyinggung diri saya juga rasanya. hahha...
jadi, saya masuk ke golongan yang lemah atau kuat?
oke, bukan itu yang penting..

saya baca kalimat itu sampe tiga atau empat kali, saya pelototin, kok rasanya bagus, kok rasanya pas. tapi apa ya? saya mikir, saya baca lagi berulang-ulang.
ini komik emang bisa dibilang kasar, (iyalah, namanya juga tentang samurai) tapi dari komik kaya gini entah kenapa saya malah kepikr tentang jalan dakwah.
ga sinkron?
ahh sudahlah, ini hanya tentang bagaimana melihat sesuatu khan?

sekali lagi, jadi saya kuat atau lemah?
apapun jawabannya sebenarnya itu ga ada pengaruhnya.
saat kita berfikir kita lemah, posisi kita belum kuat untuk menjadi tulang punggung sebuah pergerakan, maka yang kita perlukan adalah menjadi seseorang yang bisa menjadi pengiring mereka yang disebut "pemimpin". mengantar mereka mencapai sebuah kepemimpinan yang berlandaskan islam.
hahha, aneh rasanya kalau saya menyebut sesuatu yang besar begini, kita sederhanakan sajalah dalam ruang lingkup dakwah yang lebih kecil : membantu terciptanya lingkungan yang islami.

lalu, kalau kita merasa kuat dan memiliki pengaruh. maka jangan ragu untuk maju dan menyerukan apa yang kita mampu. kharisma yang digunakan di jalan yang seharusnya, ide ide brilian yang ditempatkan agar dakwah itu sendiri semakin berkilau. kepekaan yang menjadikan orang di sekeliling kita tak lagi merasa tersisih. atau kemampuan akademik yang bisa kita tularkan ke orang sekitar. apa saja. kemampuan yang kita rasa ada pada kita, salurkan. tanpa rasa ragu.

hal kedua yang saya fikirkan adalah tentang masa lalu. berkaca pada masa lalu yang berarti kehancuran.
yah, bisa jadi.
kita yang hidup di masa kini tak mesti harus menjadi pantulan bagi masa kemarin. kita memiliki masa kita sendiri. maka yang kita perlukan adalah berjalan menatap masa depan. bukan hanya sekedar menjadi "copy" dari masa lalu.
melihat ke depan, membangun peradaban yang lebih maju dengan menjadikan masa lalu sebagai contoh untuk evaluasi. bukan contoh yang harus ditiru mentah-mentah.

wallahu a'lam bisshawab

.: menjelang buka puasa:.

note : terbuka untuk kritik.. ^^