Kamis, 20 Oktober 2011

Mentari dan Rembulan

Sekuat apapun rembulan itu berlari, kau tahu ia tetap tak kan bisa memeluk mentari.
Lalu bagaimana dengan mentari? kau tahu, dia tak pernah lelah berbagi sinarnya pada rembulan. berharap sang rembulan dapat terus indah meski tanpanya.
Aku tahu. dan tak kan menyalahkan apa yang kau yakini. Tapi kau juga mesti mengerti, tak selamanya mereka saling memantulkan. Keindahan cahaya yang kau tahu, terkadang tak seperti yang mereka tahu. Ada waktu, dimana rembulan memutuskan untuk berhenti, tanpa mentari perlu tahu.

Seperti aliran sungai, ada waktu dimana sungai mulai membelah menjadi dua atau lebih anak sungai. Mereka tak kan bisa berbalik, tak kan sanggup mengejar. Tapi setiap butir air yang mengalir itu tahu kenapa mereka akan bermuara. maka mereka memutuskan untuk tak melawan aliran sungai, mengikuti, tapi bukan pasrah. Itulah cinta yang kupahami. Ia di hati, sebuah esensi dari kepahaman mereka tentang muara cinta, sang Illahi.
Itulah, mengapa rembulan yang tak dapat memeluk mentari tak perlu berduka. Karena sejatinya muara hati adalah Illahi. Aku hanya berfikir, untuk mengarahkannya ke tempat yang semestinya. Berjalan kepada tujuan yang sama, agar pada saatnya nanti, hati-hati yang berhimpun dalam cintaNYA, karena cintaNYA, sudah pasti akan bersama, sudah pasti tanpa kecewa.
Itulah, cinta Rembulan dan Mentari yang kupahami.

.: kelar ujian Biokimia, setengah galau. Hahha..