Kamis, 03 November 2011

Hak Siapa ?


Ini tentang bayangan yang selalu ku kejar sejak pertama melihatnya. Ah, tak perlu lah diceritakan lagi tentang itu. Karena sudah pernah aku bahas sebelumnya di sini. Bagaimana aku melihatnya pertama kali. Yang aku tahu, sejak aku mengenalnya aku terus melihatnya, mengamatinya, dan perlahan perasaan itu tumbuh dan berkembang. “Aku ingin melampauinya”.

Andai aku Shindo Hikaru, maka ia adalah Akira Toya. Tapi, aku bukan Shindo Hikaru. Ya, aku masih tak cukup pantas disejajarkan dengan persaingan Shindo Hikaru dan Akira Toya yang terus berlatih mengasah kemampuannya. Aku yang sekarang hanya bermimpi, berangan, berharap mampu melampaui dirinya.

Ini bukan sekedar tulisan. Ini adalah catatan. Pengingat. Kalau aku tahu bahwa aku yang sekarang masih tak cukup pantas berharap mampu melampaui dirinya, maka yang aku perlukan adalah berusaha menjadi pantas untuk memiliki harapan yang tinggi.

“Penyesalan itu adalah hak orang yang kuat.” Kalimat dari sebuah komik yang pernah aku baca –lupa judul— mungkin FairyTail atau semacamnya. Ya, hak orang yang kuat. Karena orang yang lemah tak pantas merasa menyesal. Karena toh mereka lakukan atau tidak hasilnya akan tetap sama. “Karena itu, jadilah kuat ! Agar dirimu pantas untuk merasa menyesal.”

Ini adalah sebuah catatan. Agar jika suatu saat aku merasa lelah dan memberikan banyak kelonggaran, atau bahkan lupa tentang “tujuan itu”. Semangat itu, kesadaran itu akan kembali dan membuat jemariku terkepal lagi, dadaku bergemuruh kembali, punggungku tegak lagi, dan kakiku mampu menapak bumi lagi.

“Kalau aku kehilangan salah satu bakatku, aku hanya perlu berusaha. Mungkin saat ini aku kehilangan bakat belajar, hal yang bisa dimengerti dalam sekali dengar bahkan oleh orang bodoh sekalipun aku perlu mendengarnya seribu kali untuk bisa mengerti. Kalau memang begitu, aku hanya tinggal belajar seribu kali lebih keras dari orang lain kan?” (Ueki, The Law of Ueki)

---Break kuliah siang, di lobi Sylvasari---