Sabtu, 05 November 2011

Hanya Sekedar Celotehan tentang Jilbab


 Beberapa waktu ini, gambar-gambar ini sering sekali saya liat. Di jejaring sosial, saat blogwalking, atau juga di BBM.

Segitu fenomenalnya kah?

Hampir semua yang menginformasikan gambar ini menyampaikan pesan yang serupa, “Ghazwul Fikr”. Sebuah perang pemikiran yang bertujuan untuk menjauhkan umat islam dari identitasnya yang semestinya. Begitu katanya.

Tapi, ada yang menarik dengan apa yang saya temukan ketika membaca komentar di BBM seseorang tentang fenomena ini. Ternyata tak semua orang bersuara negatif. Komentarnya sederhana saja menurut saya, tapi cukup menggelitik, “Biarawatinya cantik ya.” Atau komentar lain, “loh? Bukannya mereka yang ngikutin kita? Perintah berjilbab itu khan datangnya dari islam.” Dan hal-hal lain yang serupa.

Ah, ah.. jangan mendebat atau kecewa dulu. Saya tidak sepenuhnya negatif atau positif dengan tren jilbab ini. Cantik memang, saya pribadi pun sempat  terfikir untuk mengenakan jilbab semacam itu. Tapi, saya agak kurang suka kalau mengambil mentah-mentah model ini. Pertama, bentuk leher saya sepertinya akan tercetak jelas, dan alasan lainnya, terlalu umum. Saya juga kurang suka sesuatu yang menimbulkan kesan latah atau ikut-ikutan. Lalu saya berfikir, bagaimana kalau saya mengambil modelnya saja, kemudian menjadikannya tetap tampak syar’i?

Akhirnya kemarin sebelum kuliah saya terfikir untuk mengenakan dua jilbab paris sebagai alternatif. Satu jilbab saya kenakan lebih dahulu untuk menutupi leher, tapi tidak menutupi dada. Jilbab model lama yang salah satu bagian ujungnya saya sematkan melingkari kepala. Dan jilbab satunya lagi saya kenakan seperti yang biasa orang lain kenakan saat memakai model ini. Disampirkan loggar ke bahu, atau salah satu ujungnya disemat ke sisi wajah. Dan Alhamdulillah, saat di kampus, beberapa teman sekelas saya baik yang akhwat atau bukan belum akhwat memberikan suara positif dengan gaya jilbab saya. Oke, bukan itu intinya.

Saya pikir, daripada kita sekedar protes tentang isu-isu Ghazwul Fikr macam itu, kenapa kita tidak mencari alternatif lain yang tetap menarik dan tidak mengesankan kalau islam itu saklek, apalagi ketinggalan zaman. Mode itu mengikuti, dan islam itu bukan ajaran yang stuck di satu posisi khan?

Mode itu hanya sarana. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Di saat yang sama, saya juga terfikir, kalau tidak ada “muslimah” yang mau berkecimpung dalam mode ini, maka tren mode akan sepenuhnya dipegang oleh pihak yang tidak senang dengan islam.

Sebuah isu lama memang tentang Ghazwul Fikr. Tiga hal yang “mereka” sisipkan tentang bab ini, “Food, Fashion, and Fun”. Beberapa pembaca mungkin sudah sering mendengar tentang hal ini, bagaimana mereka menyisipkan Ghazwul Fikr dalam tiga hal tersebut. Saya fikir, dalam menyikapi hal ini kita jangan hanya memberikan larangan-larangan yang berbunyi : “Jangan blablabla”, tapi alangkah baiknya kalau di saat yang sama kita juga memberikan alternatif lain sebgai pengganti. Harus ada “agen perubahan” yang memperhatikan hal ini. Berkecimpung dalam tiga hal tersebut, agar masyarakat memiliki pilihan “kesenangan” yang lebih berkualitas dan utamanya dalam lajur yang semestinya.

Bismillah, ini sih hanya pemikiran saya saja. Dan saya harap, sedikit tulisan ini mampu menginspirasi beberapa pihak yang memiliki ide kreatif untuk menelurkan tren mode yang tetap berada pada jalur seharusnya.
^^

--- kampus, kelar praktikum Anatomi dan Morfologi Tumbuhan---