Sabtu, 05 November 2011

Tiga Belas : dari kaki gunung hingga kota hujan

Ini angka sial menurut sederet legenda dan mitos-mitos. Itulah kenapa tidak ada lantai 13 di beberapa pusat perbelanjaan atau penginapan.
 
Tapi ini adalah angka yang cantik.

Tiga Belas. Ini angka yang mengajarkanku banyak hal tentang kasih sayang.

QawsKauzaa. Pelangi artinya, ini bahasa arab, yang dengan sedikit modifikasi jadi nama yang indah. Seperti pelangi, ada begitu warna yang berpadu dalam harmoni. Ada begitu banyak sifat, karakter, dan segala hal di angkatan tiga belas ini. Ini angka sial. Katanya. Tapi kita mengubahnya menjadi angka yang begitu berarti. Perpecahan yang sempat terjadi, malah jadi cerita manis di saat ini. Ada yang datang, ada yang pergi. Ini yang mebuat kita semakin banyak memiliki saudara. “Uhibbuki fillah” bukan kata yang aneh lagi untuk didengar, kadang kita mengungkapkannya tak hanya dengan bahasa arab, tapi juga dengan bahasa indonesia atau bahasa inggris, tetap tak menjadi hal yang aneh. Bagaimana kita melalui banyak pos sebelum akhirnya lulus. Melewati PPM di desa-desa, pulang sedikit lebih lama karena menghafal Qur’an dan Hadits sebagai syarat lulus, sarapan di Serabi Cibulan setiap hari jum’at, padahal izin keluar pondok hanya sebulan sekali. Menentukan gamis untuk Haflah. Ingin yang terbaik. Bagaimana “menumpang” di “calon kamar” santri baru saat malam menjelang Haflah karena kamar kita sudah ditempati penghuninya yang baru. Dan akhirnya, banjir airmata yang mengharukan di hari Haflah yang ditungggu.

Tiga belas berikutnya ada di sebuah kampus di kota hujan.

Untuk pertama kalinya menatap dunia yang begitu heterogen. Satu kelas dengan mereka yang tak hanya berbeda gender, tapi juga agama. Dan rasanya benar-benar berbeda dengan apa yang pernah aku bayangkan. Tak semudah bayanganku tapi juga tak sesulit itu. Menyenangkan. Melalui waktu yang hanya satu tahun di kelas Tingkat Persiapan Bersama. Kelas TPB A13 dan semua ceritanya sejak ia bermula. Bertemu dengan orang yang tampak begitu mirip di awal dengan seseorang yang pernah kusuka di masa Aliyah. Ketua kelas yang unik  hingga sulit didefinisikan. Ketua rohis yang juga satu divisi di Lembaga Dakwah Kampus. Pentas teater yang menghasilkan jalinan keakraban, “Capung Production”. Sekretaris kelas yang begitu perhatian dan rajin mengirimkan pesan singkat tentang info apa saja, bahkan siapa yang berulang tahun hari ini. Hingga, satu kisah lagi, dimana aku mengerti apa yang dimaksud dengan : “La hasada illa fii itsnataini, Rajulun ataahullahu maalan fa shallathohu...”

Ya, seperti apa yang ditulis oleh ikhwan angkatanku di Aliyah : “Tiga belas : Kami Tahu Maknanya”

Dan setelah ini, entah tiga belas seperti apa lagi yang akan datang. Semoga itu selalu tentang hal baik yang indah untuk dikenang.