Senin, 12 Desember 2011

Himitsu no Niwa


Di taman kecil kita, kita menarikan tarian pelangi. Di taman kecil kita dulu kau meratap, dengan pandang yang tak bisa dibilang berseri, seakan menggugat hidup. Di taman kecil kita, pada hari yang cerah pandangmu justru tampak penuh luka. Mencari pembenaran tentang sesuatu yang kau tahu salah. Di taman kecil ini saat aku tengah berimaji, melempar tubuh tinggi sambil berharap pergi dari bumi. Aku melihat setitik cahaya darimu, air mata yang pantulkan sinar bulan yang saat itu purnama.

Tempat ini biasa saja, taman kecil yang lama ditinggalkan dan tanpa sengaja menjadi taman rahasia kita. “Ini tempatku menggugat hidup” katamu satu hari saat bulan bersinar sedikit kemerahan.
Seperti matamu malam itu. “Semua luka yang tak bisa kutorehkan, kubuang disini.”

Aku tercenung. Tak sungguh-sungguh mengerti maksud katamu. Tapi aku mengerti butiran kaca yang selalu mengalir darimu tiap malam. Indah. Kataku dalam hati. Air matamu memantulkan cahaya bulan yang kadang kebiruan. Entah sejak kapan aku mulai larut dengan semua itu.

Ini taman rahasia kita. Sebuah petak kecil di sudut kota. Ada ayunan mungil di sini. Dengan karat yang sudah tak berbilang. Dengan jerit engselnya yang tak terelakkan. Tempatku melempar asa. Terbang dari bumi. Mungkin dalam bentuk yang berbeda kita sama. Menyadari penatnya kehidupan manusia.

Lama kita tak saling menyadari. Hingga entah kapan aku mulai tahu, di bangku kecil dekat semak mawar kau menggurat sesuatu. Pada tanah yang masih basah setelah hujan tadi sore. Kupikir kau hanya orang yang tak sengaja hadir di taman yang awalnya kukira milikku saja. Kau disana dengan sebilah ranting kecil. Membelangi aku yang baru sadar tentang hadirmu. Bermain dengan tanah yang masih mudah diarahkan. Dan perlahan aku mulai menyadari bahwa keberadaan kita disini satu alasan : pergi dari padatnya perasaan manusia yang berpilin memenuhi udara. Kita sama meski tampak berbeda. Pencinta udara murni. Wangi alam. Sunyi malam. Kita sama. Meski banyak yang menjadikan kita berbeda.

Waktu berlalu. Saat entah kapan aku mulai meninggalkan cerita-cerita tentang angkasa. Kau masih memantulkan cahaya bulan dengan airmata. Hanya saja aku menyadari satu hal : banyak yang semakin indah di taman ini. Tanah yang dulu kau gurat sambil memunggungiku, kukira hanya sekedar mengungkapkan airmata dengan tongkat kecil yang kau pakai seperti para pelukis mencipta dunianya. Ada makhluk hidup lain disana, menari seiring hembus angin. Mencerahkan taman yang tadinya hanya berupa suram. Kelabu. Hanya ayunan karat, bangku kayu reyot, dan semak penggigit. Kini taman ini tak lagi satu warna. Bunga bermekaran di sudut kau menggurat tanah dengan wajah terluka. Seperti pelangi yang jatuh ke bumi.

Di sudut lain taman. Tempatmu menatap tanah sambil bersandar pada sepasang tangan yang kau topang dengan kaki yang menjejak. Meski sesekali bukan tanah yang kau tatap, tapi langit. Sambil menyandarkan tubuh ke bangku yang mulai berkeriyut. Meratap nasib. Memaki udara yang semakin liar dengan nafsu yang menggeliat-geliat. Ada satu waktu. Entah berapa lama sejak detik mulai berlari, atau jam terengah-engah mengejar menit yang berjalan. Aku duduk disana. Pada hari saat aku tak bisa terbang ke langit tinggi. Ada cat yang masih basah di ayunan yang biasa menerbangkan anganku tinggi. Aku duduk di singgasanamu. Kursi kayu yang kutahu sudah banyak dimakan rayap dari ratapannya. Tapi hari itu, kursi tamanmu, singgasanamu, diam. Tak bersuara meski hanya lirih mungil. Warnanya pun tak lagi kayu pudar. Kau memolesnya. Mungkin pada hari dimana aku terlalu larut dalam imaji. Atau saat aku terlalu disibukkan dengan dunia di luar taman sana. Kau memolesnya dengan warna yang hampir serupa. Kau memolesnya, dan mengganti beberapa bagiannya. Kau menguatkannya. Singgasanamu melabuh segala rapuh. Yang kini tampak kembali teguh.

Ini taman rahasia kita. Satu tempat kecil di sudut kota yang hanya kita pengunjungnya. Ini taman rahasia kita. Tempat kita mengistirahatkan diri dari segala bau obsesi dan nafsu manusia. Ini taman rahasia kita. Tempatmu membuang segala luka, dan tempatku memulai imaji tak berbatas.

Ini taman rahasia kita. Tempatmu selalu menggugat hidup. Ini taman kita, tempatku mengerti sesuatu karena kamu : Tak masalah menggugat hidup. Tak masalah merutuk manusia. Dan di taman ini kau merangkai sesuatu. Yang indahnya juga tak berbilang. Kau merutuk, kau menggugat. Namun kau juga membangun hal lainnya.

Ini taman rahasia kita. Satu tempat di sudut kota. Yang kini tak lagi sesuram aku pertama tiba. Ini taman rahasia kita. Meski tak pernah berniat tuk merahasiakannya. Ini taman rahasia kita. Karena tak pernah ada yang tiba selain kita. Ini taman kita, sebab kita sama. Membutuhkannya setelah lelah dari pekatnya nafsu manusia.