Rabu, 14 Desember 2011

Perbedaan yang Membuat Kita Sama

Waktu di pondok dulu aku inget kalau pemilihan pengurus, atau panitia suatu kegiatan berdasarkan pertimbangan akhlak yang tercermin lewat poin pelanggaran. Perbedaan di sana ada pada seberapa besar poin tersebut. Karena secara penampilan memang satu dengan lainnya tak terlalu berbeda.

beberapa saat yang lalu, seorang teman bercerita, "Apa gue ga mungkin ada di posisi itu kalo jilbab gue ga gede?"

Ah, kenapa selalu begini. Apa yang salah tentang perbedaan. Akhwat-ikhwan. Cewek-cowok. Kadang aku juga ga ngerti apa yang ngebedain mereka. Kalau cuma sekedar penampilan,
gampang banget orang luar kalo mau nyusup. Tinggal menyamakan penampilan luar, dan... "I believe in you".

Hidup itu indah karena adanya perbedaan. Dakwah itu luas karena setiap anggotanya memiliki perbedaan. Bayangkan saja satu paragraf tulisan yang hanya berisi huruf "a" dari awal sampai akhir. Apa bisa dipahami maksudnya? Atau pelangi yang hanya terdiri dari satu warna, apa bisa disebut pelangi?
Atau seperti proses fermentasi pada yogurt, untuk membuat yogurt baru kita butuh sejumlah bakteri dari yogurt lama buat dipindah ke susu biar jadi yogurt baru. Kalau ga begitu, ga akan jadi yogurt baru khan?

Setiap orang punya ladang dakwahnya masing-masing menurut aku. Dengan cara yang masing-masing pula. Meskipun, "cara kita berpenampilan itu mencerminkan siapa diri kita". Tapi ga berarti dengan begitu perbedaan menjadi tak perlu. Tapi ga berarti secara penampilan kita mesti sama. Ga ada yang salah dengan berpendapat bahwa berpenampilan akhwat atau ikhwan itu perlu. yang jadi salah adalah waktu kita menganggap itu suatu keharusan dan akhirnya malah menganggap bahwa yang ga seperti iu salah dan ga layak buat ada di jalan dakwah.

Masih menurut pendapat aku pribadi. Penampilan atau pembawaan diri yang berbeda satu dengan lainnya justru baik untuk memperluas sayap dakwah. Orang baik dengan tampilan 'sempurna' ga berarti ga akan punya orang yang bersikap skeptis sejak awal. Orang yang "bebas" itu perlu, dan orang yang "saklek" juga diperlukan. Dengan begitu satu karakter dengan karakter lainnya akan saling menyeimbangkan dan menguatkan.