Senin, 31 Desember 2012

Kita

Kita awan kecil
Yang putih. Indah. Mempesona.
Bertabur anggun di kemilau langit biru.
Bergugus. Bertiup. Berarak.
Meneduhkan pejalan yang ringan menjemput asa

Kita awan kecil yang rindu menyatu
Berkumpul. Bergulung
Menyampaikan berkah langit kepada bumi.
Membangkitkan potensi bumi ke permukaan..

Kita awan...
Yang kecil dan meneduhkan. Indah..
Yang besar dan memberi bakti.
Dinanti..

1 Night Before New Year

Akhirnya tadi pagi memutuskan untuk pulang ke kampus. Tadi pagi ada Sidang Umum MPM KM IPB yang akhirnya tertunda lagi karena hal yang belum saya tahu persis kejadiannya.
Oke. Mohon doanya aja buat kelancarannya di depan nanti. Semoga KM IPB cepat selesai masalahnya..
:D

Terus ada janji sama temen sekelompok buat ngerjain tugas yang jadi tiket masuk UAS. Fuuu~~~ dan ternyata netbook tercinta yang sempet dikasih nama "Hippu" sakit.
Mudah-mudahan bisa cepet ke dokter dan tugas saya cepet kelar ya Allah....

Dan ketiga, sebenernya ini alasan utama balik kampus hari ini.
Ada syuro sore hari tadi. Dan sepertinya karena belum diajak tidur bener, finally waktu yang seharusnya buat syuro malah dibuat tidur.
T.T
Ah, banyak dosa saya sama yang hadir syuro.

Dan ternyata temen satu kontrakan baru bakal muncul di kampus tahun depan. Great lah! Malam ini ngabisin waktu sendiri di kost yang harusnya buat 4 orang itu.
Karena lapar dan malas masak juga akhirnya setengah mager juga jalan ke luar buat beli makan. Ditambah bingung kalo makan sendiri di rumah plus Hippu yang lagi ga bisa dibuat nonton... jalanlah saya ke fast food yang ada di kampus. Ermmm.... fast food bukan yaa, agak lama juga sih sebenernya. Tapi lumayanlah jarang ada orang muncul. Dan isinya juga -alhamdulillah- pada sendiri semua.
Hahha...
xP

Dan saya baru sadar kalo ini...satu malam sebelum tahun baru 2013.
Sebentar....ini bukan satnite kan?
*tengok kanan kiri*

Minggu, 30 Desember 2012

Sister and Bear

Dua bungsu + beruang.
Hiburan sendiri liat mereka.

Dulu saya pernah sekecil ini juga yaa....
:D

Kamis, 27 Desember 2012

My Little Sista

Ini adekku yang ke 8. Hahha. New comer alhamdulillah. Namanya Tsabita Shabrina Amaliya insya Allah..

Mau share kejadian tadi sore ahh...
Ceritanya tadi umi lagi siap-siap buat pergi, dan aku yang lagi gendong dia diminta angkat jemuran dulu di atas.

Umi : kaka.... itu jemuran angkat dulu ya. Adeknya taro di tempatnya aja.
Aku : hoo.... sampah kali. Taro di tempatnya.. *sambil jalan ke kasur si dedek*

Pas banget mau ditaro di tempat tidurnya, kontan dia langsung nangis sediiiiihhhh banget. Hwaaa.... ga tega, abang....
x(
Maap ya dek...

Terus karena aku ngangkat jemuran, jadinya si adek digendong umi dulu. Tapi nangisnya ga berenti-berenti masya Allah. Sampe aku selesai angkat jemuran, umi suruh aku gendong dia lagi sama minta maaf. Umi mau shalat dulu juga sih. Baru nangisnya udah agak mendingan tuh pas aku gendong. Udahan umi shalat, adeknya aku kasih umi lagi, soalnya aku belum shalat juga. Hehhe...
Finally, diajak ngobrol dulu sama umi baru deh dia ketawa lagi. So cute...
xD

Buat pelajaran aja, ternyata emang ngomong ga boleh sembarangan. Anak kecil yang baru bisa nangis aja bisa sedih yang artinya dia paham. Apalagi yang udah gede.

Oke. Minta maaf juga buat semua yang aku pernah salah ngomong yak.
Didn't meant to...
>,<

Rabu, 26 Desember 2012

Celoteh Newbie (1) : Qiyadah & Jundiyah


"Undzur maa qoola, wa laa tandzur man qoola"
Kepercayaan. Kesempatan.
Saya pikir dua hal ini ditambah bimbingan cukup untuk membuat seseorang naik ke tahap selanjutnya.
"Lihat esensi yang dikatakan, bukan siapa yang mengatakan"
Berikan kepercayaan secukupnya, dan bimbing ia perlahan. Karena seringkali orang kurang berkembang bukan karena kurangnya potensi, tapi kurangnya kepercayaan dan kesempatan.

Terkadang, ada kondisi dimana orang yang kita kurang percaya, orang yang kita anggap kurang mampu, menjadi pemimpin kita. 
ats-Tsiqoh. Percaya.
Hal kedua setelah al-Fahmu pada 10 arkanul Bai'ah.
Percaya saja siapapun dia kemarin, jika saat ini ia yang menjadi qiyadah kita, maka Allah merasa bahwa sudah waktunya orang tersebut untuk sanggup.
"Laa yukallifullah nafsan illa wus'aha"
Hal ini bukan hanya untuk membantu kita merasa ringan atas ujian yang datang. Tapi bagaimana kita belajar percaya bahwa orang lain pasti mampu menjadi lebih baik, bahwa orang lain mampu mengemban amanah yang saat ini baru ia cicipi.

Okelah, kita sama-sama belajar, kalau ada yang salah dalam postingan ini, dengan segala kerendahan hati saya minta koreksinya.
^^

Saya percaya banyak orang yang mampu dan lebih baik dalam mengelola atau memimpin dibanding siapapun yang saat ini tengah menjadi pemimpin. Tapi percaya saja bahwa Allah punya rencana. Mengajarkan seorang jundi agar mampu menjadi qiyadah bagi orang yang lebih baik darinya, dan mengajarkan seorang qiyadah agar ikhlas menjadi jundi orang yang selama ini ia pimpin.

Setiap orang punya potensi. Itu hal yang menjadi fokus utama saya. Tinggal bagaimana kita mengarahkan setiap potensi ini agar berkembang indah, dan bukan tenggelam apalagi sampai gugur. Entah kita sebagai qiyadah atau jundi. Saya percaya, dimanapun kita, selau ada cara untuk meningkatkan potensi siapapun. Asal kita tahu celahnya.

Bismillah...
Saya harap kita bisa sama-sama belajar, tentang apapun.
Sebab hidup adalah berlari,
berlari menuju kebaikan yang lebih dari sebelumnya.

Kamis, 20 Desember 2012

Tetap Tegak



Hari ini langitku gerimis
Ada guntur kecil yang meringis
Tapi tak apa, selama bumi masih satu
Selalu ada tempat berlabuh

Hari ini langitku sayu
Awan mendung menggayut setengah malu
Tapi tak pernah ada gulita sempurna
Mentari dimanapun, asal masih punya asa

Hari ini banyak kata yang agak berat diterima telinga
Lalu kenapa?
Aku masih tegak berdiri,
berarti masih banyak cadangan energi

Hari ini ada yang bergemuruh
Rusuh
Lalu selama aku tidak runtuh,
bukankah Tuhan percaya aku berpotensi tangguh?

Selasa, 18 Desember 2012

Melepas Batas



Tanpa terasa ini sudah tahun keempat sejak aku menetapkan batasan itu : 
"Enggan menjadi dewasa. Enggan kehilangan sifat kekanakan"
Mungkin aneh, kebiasaan mengamati orang lain membuatku memutuskan untuk membuat batasan itu. Karena setiap orang yang memutuskan untuk "Menjadi dewasa" selalu terlihat berat. Selalu terlihat seakan langit di bebankan ke pundaknya sendiri. Terlihat seakan-akan hanya ada satu pundak yang mampu menjaga bumi tetap pada porosnya. Selalu terlihat lelah, temperamen, dan hilang senyum. Okelah, kalaupun ada seringkali senyumnya terasa kosong. Formalitas. Dan hal seperti itu benar-benar tak sedap dipandang mata. Dan terasa menggangu siklus kehidupan, menyerap segala keceriaan yang ada. Dan itu benar-benar menyebalkan.

Sabtu, 15 Desember 2012

Kagum


Aku mengagumimu seperti kuncup kepada langit
terus tumbuh tinggi hingga semakin mendekati

Aku mengagumimu seperti bulan kepada matahari
Mencoba bersinar sepenuh hati
tanpa perlu kamu ketahui

Aku mengagumi seperti burung kecil kepada rajawali
mencoba terbang dengan kepak kecil setiap hari
Hingga kita dapat bersisi di ketinggian bumi

Kamis, 13 Desember 2012

Bukan Sekadar untuk Bertemu


merindumu... 
seperti berdiri di tengah angin
berhembus lembut penuh perhitungan

merindumu... 
seperti berada dalam padang
bunga yang bermekaran

merindumu... 
seperti menyusun bait-bait lagu
meraba, agar terdengar satu

Sabtu, 08 Desember 2012

Catatan Satu per Tiga


Hai kamu yang disana! Apa kabarnya? Masih bisa dengar suaraku? Masih bisa lihat aku?
Malam menurunkan tirai kegelapan, asal tahu kamu ada itu sungguh lebih dari cukup untuk membuatku tidur dengan nyenyak.

Ssshh... diamlah. Ada anak kecil bermain di bawah tetes ratusan air. Wajahnya sumringah. Hahha, aku sedikit cemburu. Seiring usia yang bertambah, seperti memasukkan koin ke celengan ayam yang kita taruh di pojok ruangan. Semakin lama semakin berat. Hilang cara bahagia karena hal-hal sederhana.

Selasa, 04 Desember 2012

"Allah Tahu dan Sudah Mencatat Niat Kakak..."

"Ketika kita berusaha lebih dan tetap bersyukur atas apa yang terjadi, mungkin itulah yang dikatakan ikhlas."

Dulu....
Dulu sekali, saat itu aku berniat mengikuti sebuah acara. Entah tarhib ramadhan, konser kemanusiaan, aksi solidaritas, atau kegiatan lainnya semacam itu. Ada lebih dari dua orang anak kecil di rumah, dengan persiapan yang tentu saja memakan waktu lama. Membosankan, dan benar-benar menguji kesabaran.

Waktu persiapan yang lama, belum pula perjalanan yang panjang. Ini Jakarta. dengan tingkat kepadatan jalan yang benar-benar menyebalkan. Dan benar saja, begitu sampai disana, yang kudapat hanya penutupan. 
Kesal? Tentu saja. Sebal? Apalagi. Tangis? Sungguh, itu tak tertahankan. Meski enggan menyalahkan saudara sendiri, tapi rasa kesal itu benar-benar meluap tak terbendung. Aku terisak. Menahan perasaan agar tak keluar menjadi pertengkaran. Berulang kali meraung, sedih.

Abi mengangkatku, mendudukkanku di gendongannya. Berjalan perlahan sambil menuntun adikku yang lain dengan tangan satunya. Berulang kali aku menghapus air mata. Terlalu gengsi menangis di tempat setinggi itu. Lautan manusia mulai berbalik arah. Acaranya sudah selesai. Beberapa menoleh ke arahku yang masih tersedu di bahu abi. 

"Kakak turun." Ujar umi. Selalu terdengar seperti akan marah. Meski hendak menolak, tetap saja tak pernah bisa.
Abi menurunkanku perlahan. Aku berdiri di atas rumput. Masih sibuk menghapus airmata yang tak kunjung berhenti. Abi menepuk bahuku lembut, yang malah membuat airmata semakin deras mengalir.

"Kakak mau ikut. Kakak mau ikut.." Ujarku berulang kali sambil terisak. 

Senin, 03 Desember 2012

Dreamer. Partner. Fighter


Ada waktu aku berjalan jauh
Lalu lelah dan kembali
Menemukanmu masih di tempat yang sama
dengan sinar wajah yang tak jua berubah

Ada waktu aku berjalan entah kemana
hilang di pengasingan
tak mengenal barang satu nama
lalu lelah. jiwa dan raga

Lalu kamu hadir
meski tak selalu dengan senyum terpasang
seringkali kita hanya bersisian
membiarkan kata hati menguntai tanpa suara

Rabu, 28 November 2012

Chasing You

tetap lihat ke depan.
jangan menoleh.
tetap berlari.
biar aku yang mengejar,
biar aku yang menyesuaikan.
sampai nanti...waktu ketika kita bersisian.
dan kita bisa melangkah beriringan.
saling dukung, untuk cita kita yang tak pernah ada perubahan.

Selasa, 27 November 2012

a Star


Hari ini...
memutuskan untuk melihatmu sambil menundukkan pandangan.
mencarimu tanpa menoleh kiri-kanan
mengejarmu sambil berlari ke arah yang mungkin hanya bersisian

Rabu, 21 November 2012

Cagar Rusa : Camp Garuda #1 "Harapan itu Masih Ada"

"Kita tidak memiliki kekurangan, kita hanya berproses" 
 -Munir, 2012-
Sebuah sambutan singkat dari Ketua Garuda Keadilan Bogor, Muhammad Sirojammuniro pada saat launching Garuda Keadilan Bogor kemarin (18 november 2012) di Bumi Perkemahan Cimandala setelah rangkaian acara Camp Garuda #1 "Harapan Itu Masih Ada" (Cagar Rusa). Prosesi launching yang dihadiri oleh perwakilan dari Garuda Keadilan Pusat, pengurus Garuda Keadilan Bogor, dan seluruh peserta CaGar berlangsung dalam atmosfer yang khidmat dan kekeluargaan.

Senin, 12 November 2012

Kotak Putih

Kotak putih itu akhirnya sampai ke pemiliknya, awal november kemarin.

Terkadang, memang butuh sedikit bahkan banyak jalan memutar yang perlu dilalui hanya untuk menemukan bahwa sejak awal kita telah berada di tempat yang dituju.
Proses.

Jumat, 26 Oktober 2012

Rechange! Upgrade!

"kalau mau membenahi orang lain, benahi diri sendiri dulu lah..."
"bantu diri sendiri, biar bisa maksimal bantu orang lain.."

Akhir-akhir ini kalimat di atas kerasa "jleb" banget.
Kalo jaman sekolah dulu ada yang namanya Program Diet, sekarang juga pelan-pelan mau berubah. Program Pembenahan Yaumiyah kali yaa... Hahha..
Kemarin sempet pengakuan dosa sama temen, dan memang tampak kalo dia agak "amazing" pas tau tingkah temennya yang satu ini.
Oke, anggap saja itu masa lalu.

Balik ke topik..
Sejauh ini udah ada beberapa program yang mulai dijalanin. Yah, meskipun masih "di balik layar".
Dan namanya juga Di Balik Layar, jadi masih ketutupan. Bahkan mungkin belum ada yang liat progress nya...
Kalo ada "RUJAK-RUJAK"an pun belum kesebut juga.
Namanya bayi masih guling-gulingan.
Kalo istilah dunia hiburannya, masih "training", belum "debut". Kalo ga sengaja ada yang liat yaudah... tapi masih malu juga sih...
Nanti lah kalo udah semakin baik, mungkin baru bisa diungkapin pas "RUJAK" gitu...
Hahha...
Maaf ya, kawan...
^^"a

"Kalo mau benahi orang lain, mulai dari benahi diri sendiri dulu"

Siap mbak!
Dalam proses...
Insya Allah 10 lembar yang hilang kemarin akan saya kumpulkan lagi.
Semoga sekali ngumpulin langsung sebundel..
Dan ga terbang lagi...
Hahha..

Saya mau mulai dari balik layar dulu yaa...
mau semedi. mau memperkuat imun dulu, biar pas "debut" gak mengecewakan...
:D

Purezento

Di sebuah ruangan, di atas kasur yang penuh beragam buku, ada satu yang berbeda.
Buku itu dibungkus putih. Biasa saja. Di luarnya tertulis nama seseorang, lengkap beserta alamatnya.
Entah kapan akan sampai ke pemiliknya...
Masih menunggu.....sesuatu.


Rabu, 17 Oktober 2012

Terjebak


remah-remah roti yang disebar dua anak yang diusir
gagak lapar tak ragu mematuknya
semut, dan binatang kecil lain turut berlomba
dua anak tersasar hingga rumah yang mengundang lapar

nenek baik hati menyapa dan melayani
dua anak kenyang tak sanggup menahan kantuk
terbuai dalam mimpi, terbangun dalam bui
dua anak dibuat gemuk biar bisa jadi lauk

nenek baik jadi jahat tak terelak
rumah enak sekarang jadi muak
dua anak memutar otak
saatnya keluar memberontak

Selasa, 09 Oktober 2012

Paused

"Berhenti sejenak"
Berkali-kali terfikir tentang ini. Saat segalanya mulai tak sejalan dengan perkiraan. Berat. Memang.
Lalu saat kejenuhan itu rasanya mulai tak tertampung lagi, seperti gelas yang terus menerus diisi air, semakin lama ia akan kelebihan muatan. Lalu?
Ya, tumpah...

Rasanya ingin berhenti sejenak. Gelasnya terasa begitu keruh. Terisi dengan berbagai hal yang menghijab cahaya. Ya, pekat..
Namun, seringkali Sang Pengamat tak sejalan dengan apa yang kita mau. Yang melihat dari ketinggian tentu saja tahu bahkan kepada detil yang tak dapat kita lihat. Saat itu, tiba-tiba tersadar bahwa manusia begitu kecil. Terlalu kecil untuk tahu gambaran keseluruhan jalan hidup ini. Terlalu kecil untuk dapat melihat apa yang ada di balik gunung besar masalah yang saat ini terpancang di depan kita. Tapi Allah yang berada pada ketinggian, pasti mampu melihat apa yang dihijabi gunung besar itu. Maka Ia bisa memberi kita sesuatu yang dapat membantu kita. Meski, akan ada lebih banyak energi yang dibutuhkan. Akan lebih banyak waktu yang dikorbankan.

Berhenti sejenak.
Dan mengembalikan diri ke zona nyaman?
Tak jarang nasihat itu datang, "Lalu, setelah kamu berhenti, apa kamu yakin akan dapat kembali lagi, dan menjadi lebih baik?"

Lalu Allah "memaksa" gelas itu untuk dapat menampung lebih banyak air. Menuangkan banyak kesibukan alih-alih membuat kita berhenti bergerak. Tapi "air rabbani" pastilah jernih. jadi, kita hanya perlu terus maju, dan membiarkan Allah menuangkan lebih banyak air jernih ke gelas kita yang keruh. Suatu hari, air keruh itu akan menjernih perlahan. 

Belajar, tak harus mengulang segalanya dari awal. Tak harus berhenti untuk mengkaji. Kita bisa belajar sambil mengajar. Bisa membaca sambil berjalan.
Satu hal yang pasti....
Saat segalanya terasa berat, kembalikan lagi segalanya kepada Pemiliknya.

Ganbatte ne~~

Kamis, 13 September 2012

Kali ini, untuk hal yang sulit dikatakan

"Ikhlas itu ada tiga : di awal, tengah, dan akhir."
"Sabar itu tak berbatas..." seharusnya begitu. bagaimanapun aku ingin percaya dan selalu mencoba yakin bahwa memang sabar tak berbatas... namun... apakah ia tak bisa terganggu?
"Kak, bagaimana kalau tiba-tiba keikhlasan itu terganggu?" tanyaku ragu.
"Muraqabatullah" jawabnya, sederhana.

Sesungguhnya aku bukannya tak tahu, hanya kadang...saat ada sisi hati yang sedikit tersinggung, yang terjadi malah sebaliknya. Ketika pengorbanan rasanya tak terlihat memberikan hasil. Ada sisi hati yang mulai ragu ... "salahnya dimana?", lalu ketika kesalahan tak ditemukan dalam diri sendiri, malah kecewa yang hadir, "kenapa ia tak kunjung menunjukkan peningkatan?"
Lalu rasa lelah mulai merayap...perlahan-lahan. menggerogoti hati yang susah payah dijaga biar tak keruh.
Aku sempat berfikir untuk pergi.
Banyak hal kalau mau dijadikan alasan. Semakin hari alasan itu pun semakin banyak dan terasa menguat.

Duh Allah... Duh Rasul...
lantas, salahkan aku?
perih di dalam sini, bukannya tanda bahwa ada hati yang tergores? luka kecewa? atau dosa karena berburuk sangka?

Selasa, 28 Agustus 2012

Gerbong Kita

seiring tapak waktu
entah kenapa aku semakin senang
dengan banyaknya gerbong yang merantai

kereta sahabat.
sebut saja begitu
pada awalnya.

gerbong ini bertambah panjang seiring usia
tapi sama sekali tak memperlambat jalannya kereta
entah. mungkin gerbong ini punya cara
seperti pola migrasi burung dalam "V" yang mempesona

Minggu, 26 Agustus 2012

Bukannya tak Sabar


"Laa Taghdhob wa Lakal Jannah, Jangan marah bagimu syurga!"
terpatah-patah dan dengan mimik lucu anak kecil yang masih TK itu memamerkan hadits yang sudah dihafalnya di sekolah. lengkap pula dengan gerak tubuh yang membuat kakak dan orang tuanya makin tergelak.

JANGAN MARAH. Sederhana saja memang kedengarannya. Hadits yang melarangnya pun relatif singkat dan bisa dihafal dalam sekali dengar. Namun sebagaimana emosi lainnya, memiliki rasa marah adalah hal yang normal. Menghandel nya dengan baik pun bagi sebagian orang adalah hal yang cukup mudah.

ORANG SABAR. Biasanya orang yang jarang tampak marah akan serta merta mendapat titel itu. Titel yang baik? yah, mungkin... Lantas bagaimana jika dengan titel itu orang lain jadi merasa ringan berbuat apa saja.
"Toh dia tak akan marah," biasanya itu yang lantas terdengar dari orang yang sebut saja kurang mampu menghargai kesabaran orang lain. Atau belum mampu.

Nah, lantas mungkin ada kalanya marah itu diperlukan. bukan untuk meluapkan emosi yang selama ini tertahan. Bukan karena kesabaran yang telah mencapai batasnya. Bahkan kadang mereka yang punya cukup kesabaran memang tidak merasa kesal sama sekali.

Lalu, untuk apa marah itu dilakukan?

Kamis, 23 Agustus 2012

Kemarin...

Kadang masa lalu itu seperti lompatan bintang
dan cahayanya yang memercik
terlalu indah untuk dipercaya
bahwa kenangan itu pernah ada

Kadang masa sekolah itu seperti naga
atau bahkan dinosaurus
yang tampak liar tapi mengagumkan
ragu pula apa ia nyata, atau fantasi saja

Kadang...
beda antara kemarin dan imajinasi
hanya seperti selapis kain, transparan pula

Kalau bukan karena kita punya ingatan yang sama
atau buku yang berdebu itu,
mungkin aku akan ragu apa benar semua itu nyata


Jumat, 17 Agustus 2012

Menjarak Sejenak

Ikhlas....
kadang saya bingung dengan definisi kata itu.

Syukur....
apalagi tentang yang ini.

Kerapkali saya diam, mencoba mengulik apa yang sedang dirasakan hati. Ah, atau mungkin saya terlalu banyak berlogika, lantas menempatkan perasaan dan logika dalam porsi yang masih timpang?
Lagi-lagi tentang seseorang, yang hingga saat ini saya masih belum tahu jawabannya. Atau saya yang kerap kali membantah jawaban yang sebenarnya saya tahu? Ada sesuatu yang dia miliki, dan itu tidak ada pada saya.

ini tentang seseorang yang begitu cemerlang, sampai saya merasa bias saat bersamanya. Sampai saya merasa ragu untuk bercerita, sekedar melayangkan tanya, "apa yang sungguh membedakan saya dan dia?" pada orang yang mengenal kami berdua.
dia cenderung sederhana dalam bersikap jika dibandingkan saya yang mungkin cukup kompleks bagi sebagian orang. caranya berbicara pun lebih ramah dan kekanakan dibanding saya. ini bukan berarti saya kaku, hanya saja, dalam beberapa kondisi dia tampak lebih "perempuan" dibanding saya. disamping itu, dia juga lebih keras kepala dan moody. Yah, saya memang lebih terlihat tenang memang, terlampau tenang malah, sampai banyak orang mengira saya hampir tak pernah terlihat marah atau tak menyukai sesuatu.

dia baik, cantik, lembut, dan sedikit kekanakan. mungkin itu hal yang diperlukan untuk membuat banyak orang "terkesan" sejak pandangan pertama. Mungkin itu hal yang membuat banyak orang mudah merasa sayang dan ingin melindungi.

Kamis, 02 Agustus 2012

Kita...Segenggam Pasir

Kadang "berusaha keras" bukan cara terbaik untuk mendapatkan sesuatu.

Ada sebuah hubungan, antar manusia. punya teori yang mungkin sedikit beda dengan apa yang biasa kita sebut "mimpi". Kita mungkin sempat berharap sesuatu pada seseorang. tapi yah, seperti biasanya, menjaga hubungan itu seperti menggenggam pasir. kau tahu khan? Semakin erat kau menggenggamnya makan semakin mudah ia jatuh melewati sela-sela jemarimu. sederhana. sangat sederhana malah.

Tapi, seberapa renggang kita mesti melonggarkan genggamannya?
ahh...
sudahlah, sejenak mari kita tatap matahari dan arak-arakan awan. menarik nafas seperlunya. biar semua kekhawatiran itu hilang.
sejenak mari kita menatap ke arah lain. ke dalam diri sendiri mungkin? biar orang itu juga punya waktu untuk dirinya sendiri. biar "genggaman" itu bisa sedikit melonggar, biar "pasir" di dalamnya tidak jatuh melewati "sela jemari".

lalu, setelah itu kita tinggal tersenyum. karena pasir yang ada pada genggaman yang terbuka juga bisa hilang diterbangkan angin. jarak yang terlalu rapat itu mesti direnggangkan, tapi jangan sampai terlalu renggang.

Kita ada, untuk saling memahami, satu dengan lainnya.
Kita ada, untuk saling menjaga, satu dengan lainnya.
Jadi, mari tersenyum, dan lanjutkan semuanya seperti biasa
^^

Sabtu, 14 Juli 2012

[IMHO] Ikhlas Diperhatikan

Belajar ikhlas itu... ternyata ga cuma dalam kondisi kita memberi ya. Semalam dengan kesadaran yang tinggal setengah aku memperhatikan timeline tweetdeck, dan terinspirasi dari tweet seorang teman, terfikir buat nulis tulisan ini.

Ikhlas ya.. seringkali kita berfikir bahwa memperhatikan orang lain, yang dalam arti lain memberi perhatian itu dibutuhkan keikhlasan. Tapi, dalam banyak kondisi, ada juga orang-orang yang terbiasa memberi perhatian dan justru merasa sedikit berat ketika diberikan perhatian berlebih. Ya, kadang-kadang hal seperti ini juga sangat mungkin sih. 

Jumat, 13 Juli 2012

If My Boy is Superhero


gimana kalo lu bangun tidur, terus tiba-tiba lu sadar kalo salah satu anggota keluarga lu itu bukan orang biasa. Apalagi kalo ternyata orang yang tidur di sebelah lu itu Superman misalnya? hwahaha... Oke, kita beranjak sedikit realistis. Buronan pemerintah. Internasional! Edaaaaannn....fenomenal ini. Misalnya di buron bukan karena dia jahat, justru karena dia membela kebenaran. keren khan.... keren banget, keren aja deh.

Hal yang pertama kepikiran mungkin keren banget banget banget. Punya pacar, suami, sodara, sahabat atau siapapun itu yang pembela kebenaran dan di buron. Lalu, kita jadi satu-satunya orang yang tahu, pemegang rahasia dia. Satu-satunya pemegang rahasia dia. Oke, ini amat sangat keren. Tapi, masalahnya justru ada disini. Apakah kita cukup mampu buat nyimpen rahasia amat sangat besar itu? Apa kita mampu buat diem aja, sementara di sebelah kita ada barang yang bagus banget banget buat dipamerin, hm? Dan lagi, apa kita siap buat punya kehidupan yang terancam? Apa kita siap buat ikut-ikutan jadi buron? Apa kita siap buat mati?

Rabu, 11 Juli 2012

Menurutmu... Siapa Kita?

menurutmu... siapa kita?
penari hujan yang menggeliat-geliat di antara ruang yang diciptakan ruahan air langit?
mencari tempat di tengah kekosongan yang labil.

menurutmu... siapa kita?
sekumpul organisme pesinis yang memejamkan mata saat kilat dan guntur memainkan iramanya?
tak tahan dengan banjir cahaya dan suara yang merangkak cepat.

menurutmu... siapa kita?
pujangga langit yang tak memiliki sayap.
kita mengeja kata yang kita kira baru ada. padahal hanya sekumpul kata yang maknanya baru kita tahu.

Kamis, 28 Juni 2012

Saat Aku dan Kamu Beririsan dan Menjadi Kita


"Cinta itu..." katamu suatu hari. berbisik lembut dengan latar gemerisik daun, "adalah saat dimana aku merasa  bintang yang kulihat di langit malam menjadi perantara antara hatiku dan hatimu"
Aku diam. Ahh... kapan kah aku sungguh membantah katamu? Tak setuju pun aku hanya akan tersenyum seulas tipis. Setiap kata yang mengalir dari sungai suaramu entah kenapa terasa begitu gemericik.
Cinta? Aku bahkan belum terfikir hingga kesana.
Saat itu, aku hanya tahu bahwa aku mengagumimu. "Butir syurga yang jatuh ke bumi". Gumamku. Entah kenapa, beberapa kali kamu begitu terlihat menawan. bersinar dengan segala kesederhanaanmu. kau tak sempurna, jauh malah dari kata itu. Aku tahu banyak, bahkan lebih dari yang kau duga. Tapi sudah, hanya sampai situ. Merangkai pribadimu satu demi satu entah kenapa terasa begitu membahagiakan. Kamu mungkin tak kan tahu sejak kapan aku mulai menyimpan setiap tapak masa lalu yang kau tinggalkan. Aku menyukainya, bahkan sebelum menyadari bahwa itu adalah benih-benih "rasa".

Minggu, 10 Juni 2012

Sesuatu yang Salah

Ada seseorang yang membuat saya kagum, ya, mungkin sebatas kagum saja. Seperti biasa, kita mengambil yang baik, lalu menyimpannya dalam database kepribadian, memprosesnya hingga menjadi tampak begitu natural. Itu yang saya sebut "perbaikan diri".
Seperti biasa, saya menganggap dia perantara langit yang datang dalam hidup saya untuk mengajarkan arti baru kehidupan yang mungkin belum pernah saya sadari sebelumnya. Melihat dan mengamatinya dari jauh amat sangat lebih dari cukup buat saya.
Saya tak pernah benar-benar mencari kesempatan untuk bertemu, tak pernah pula benar-benar sengaja ingin bertukar kata, tak pernah juga benar-benar menyimpan riak-riak, menanam bibit rasa bahkan merawatnya agar mekar.

Sabtu, 09 Juni 2012

Something about us - 13


Inget waktu dulu, waktu masih di pondok, kadang ditegur temen-temen ikhwan karena kaos yang agak ngepas badan, atau kaos kaki yang lagi bandel ga dipake, atau kalo jalan-jalan pas liburan, tau disana ada ikhwan yang lagi jalan-jalan, sampe-sampe dibilang "berani banget lo pake celana, di sana ikhwan juga lagi main lho"
Inget juga dulu ada temen ikhwan yang negur "baju kamu yang ini jangan dipake lagi ya, agak ngebentuk badan."
Lain waktu lagi ada yang bilang, "akhwat tuh kalo lagi pake seragam, lengannya suka ga dikancing, suka kesingkap, terus keliatan tangannya, udah mana pada putih lagi"
Atau yang lain lagi, "kalo pake kaos kaki jangan yang belang-belang ya.."
Kapan-kapan ada yang titip pesen, "Akhwat tuh suka pake bedak ya? tolong donk sampein ke temen kamu, bedak, foundation, pelembab, atau apalah itu..jangan dipake terlalu tebal. Udah mana dasarnya putih, jadi aneh."
Terus pernah juga ada yang bilang, "Kalo liat perempuan yang jilbabnya lebar, terus pake rok, ga tau kenapa adem aja rasanya"

Selasa, 29 Mei 2012

Something We Call "BestFriend"


Dihadapkan pada fakta yang berbeda. Aku terkejut. tentu saja. Tapi ya, semakin dekat mungkin nanti akan semakin banyak fakta kontra yang terbuka. Lalu, entah kapan, akan saling bertanya-tanya. Kita rekat, tentu saja karena perbedaan yang jelas-jelas ada. Tapi memang, seringkali kita tak tahu seberapa besar jarak yang mesti direkatkan. Asal saling bicara, kupikir semuanya akan mudah. Asal saling terbuka, kupikir itu sederhana. Ya, bicara. Menyatakan apa yang memang ingin dinyatakan, apa adanya. Ini tak sekedar bagaimana kamu, siapa kamu, atau apa kabar dirimu. Bahkan kata-kata sederhana yang kadang ditanyakan seperti basa-basi. Kau mungkin tak tahu, aku melihatmu bahkan dengan mata terpejam. Aku mengamati, bahkan saat aku tak ada. Hati kita beresonansi, meski tak kau sadari.
Andai setiap malam, langit mengirimkan banyak buraq untuk mengangkut do’a manusia sepanjang hari ke langit. Mungkin butuh satu buraq khusus untuk mengangkut do’a yang kuuntai sepanjang hari untukmu.
Kita sama. Meski aku tahu kita juga berbeda. Sebab manusia tak pernah sungguh identik satu dengan lainnya. Seiring waktu, tak aneh jika suatu hari kita merasa dekat, dan asing di waktu yang sama. Tak masalah, sungguh, tak masalah. Bukankah kita hanya perlu lebih dekat lagi? Agar pertanyaan-pertanyaan yang membuat kita berjarak dapat terjawab. Mungkin akan ada kesalahan-kesalahan tak termaafkan yang muncul dari masa lalu. Tapi poin utamanya bukan itu. Kita belajar tentang menjadi lebih baik dari sebelumnya. Hingga kesalahan tak termaafkan itu kikis, meninggalkan kenangan tak terulang dan pelajaran berharga, juga kita yang lebih baik dari waktu sebelumnya.

Untuk Pemilik Langit



“Runa…” sapanya lembut, “Ada kondisi dimana tiba-tiba kita merasa hampa, gamang, bosan, entah karena apa. rindu, entah kepada siapa.”
aku diam.
“ada satu tempat di hati manusia” lanjutnya, “yang hanya bisa diisi oleh-Nya. Saat kita merasa tak nyaman karena sesuatu yang tak kita pahami, cobalah periksa tempat itu. Adakah Allah tengah disana?”
Kalimat itu sederhana saja. Tanpa unsur menggurui rasanya. Ya, kalimat sederhana dari murabbiyah pertamaku, 7 tahun lalu. Yang selalu saja berputar di kepalaku saat jenuh itu mulai menyapa. Saat kebosanan mulai singgah. Saat akal mencari-cari pembenaran dunia tentang sebab-sebab kejenuhan itu ada.
kalimat itu sederhana, tapi entah sudah berapa kali berhasil menyentil ego yang sok meraja di dalam diri.
Adakah Allah di hatimu?
Allah….
Biarkan aku menyapamu malam ini. Ada setumpuk tugas yang menuntutku untuk tawazun di sampingku. Tapi biarkan aku sejenak berkesah dengan-Mu meski tak hanya aku dan Kamu yang kan tahu
:)

Selasa, 15 Mei 2012

Kontribusi

Allah itu yang memilih.
Tapi sebagai hamba-Nya bukannya lebih baik kalo kita berusaha buat bisa terpilih.

Mungkin ada waktu, dimana saat kita telah terpilih, kita merasa banyak orang yang lebih baik dari kita tidak terpilih.
Mungkin Allah tahu, kalau kita bisa memberi yang terbaik.

Kontribusi penuh saat kita telah berdiri di tempat yang "dipilihkan".

Kontribusi, mungkin...
begitu cara kita menghargai diri kita sendiri sebagai pemain.
menghargai Allah yang telah memilih kita di tempat ini.
Dan juga menghargai mereka yang belum terpilih dengan menghilangkan tanda tanya yang mungkin sempat terlintas di hati mereka.

Jumat, 20 April 2012

Ia Sebuah "Rasa", bukan "Status"

Fuwaa~~~
Setelah sekian lama rasanya ga mampir kesini. *bersihin sarang laba-laba*
Oke, kali ini gue pengen share aja hal yang "terlanjur" gue tulis di twitter, dan sayang rasanya kalo tenggelam di TL twitter begitu saja.
^^
  1. sahabat adalah "rasa". bukan status. itu yang ada di kamus gue :D
  2. "kenal" dalam kamus gue adalah paham dg sebenar-benar paham. bahkan sebelum dia mulai bercerita
  3. "kenal" dalam kamus gue adalah tahu bahwa dia ada di belakang gue bahkan sebelum gue membalikan badan.
  4. tapi faktanya, semakin dekat kita dengan seseorang, semakin kita paham banyak hal yang belum kita "kenal" dari dia.
  5. "aku sangat kenal kamu" kadangkala kalimat ini sama menyebalkannya dengan "aku ga kenal kamu"

Jumat, 30 Maret 2012

Sesuatu yang Begitu Dekat

Ga banyak hal yang bisa diungkapkan secara tepat.

Hari ini, hari Jum'at. Semua berjalan seperti biasanya. Bangun agak siang menikmati satu jam waktu sebelum kuliah. Berangkat agak siang, dan belajar sebentar untuk kuis praktikum hari ini. Biasa saja. Hanya ada beberapa hal yang sedikit berbeda, laporan yang sudah dikerjakan sejak lama, dan sms untuk turun aksi ke inbox yang datang dari banyak orang.

Semua biasa saja. Hingga sekitar pukul 10 kurang beberapa menit. Di tengah kegiatan praktikum yang sesekali diselingi canda seorang teman menghampiri, "Runa, Sekum Serum-G meninggal!". Setengah tak percaya, rasanya ada sms dari beliau juga pagi tadi. Penasaran aku membuka ponsel, memeriksa inbox, dan tak ada namanya disana. Apa tak sengaja terhapus? gumamku. memang tak jarang aku langsung menghapus sms yang baru masuk kalau isinya tak jauh berbeda dengan sebelumnya, atau kalau aku tak mungkin menghadiri acara itu.

Masih ada satu materi praktikum lagi yang mesti dikerjakan. Menunggu media biakan bakteri mendingin dan menunggu pengamatan dengan spektrofotometer. Masih dengan perasaan yang aneh dan tak percaya, aku menghampiri si pemberi kabar. Dia mengangsurkan pesan di BBnya, dari mahasiswa Departemen Matematika. Tak lama, ponselku bergetar, 
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun
telah berpulang ke Rahmatullah teman seperjuangan kita
Rifdah Izzatunnisa (Ilkom 46)
karena kecelakaan motor.
menabrak truk. jasadnya sudah dibawa ke PMI
Perasaan ini entah kenapa begitu aneh, tenang, atau bahkan otakku terlalu bingung mencerna kabar ini?

Minggu, 18 Maret 2012

Dengan Nama Tuhanmu


Bacalah! Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.

Ya, lagi-lagi tentang membaca, satu hal yang entah kenapa begitu saya suka, seperti makan bahkan bernafas mungkin ya. Ia begitu lekat menjadi bagian hidup saya sejak lama.

Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan!

Hari ini, begitu saya mendengar ayat itu lagi, ayat yang telah sering kita dengar dalam berbagai majlis keilmuan, apapun bentuknya. Saya jadi terfikir, bagaimana membaca dengan nama Tuhan? Kali ini, kalimat tersebut tak hanya terdengar sebagai : ‘dimulakan dengan Bismillah’ seperti yang didendangkan Raihan. Hari ini, saya mendengar itu sebagai sebuah perintah untuk mengenal Allah.

Minggu, 11 Maret 2012

Tarbiyah Ruhiyah (One night with LPQ)

 Mabit LPQ Perdana 10 Maret 2012

Materi : Tarbiyah Ruhiyah

Apa itu Tarbiyah Ruhiyah?

Pengertian singkatnya itu tentang bagaimana kita mendidik atau membina ruhiyah kita sendiri. Kan ada tiga komponen ruhiyah, yaitu Tarbiyah Ruhiyah, Fikriyah, kemudian Jasmani. Semuanya sebenarnya penting, tapi mungkin yang menjadi pokok adalah Tarbiyah ruhiyah.

Sebenarnya esensinya itu apa untuk diri kita sebagai aktivis dakwah? Pentingkah? Mengapa penting?
Misalnya begini, kalian misalnya katif di BEM, Dewan Mushala, kegiatannya banyak, berdakwah, dan blablabla. Tapi ternyata dalamnya kosong. Misalnya sehari itu ga tilawah, ga Dhuha, kira-kira masuk ga dakwah kita ke orang lain? Jadi istilahnya kita menyampaikan apa yang tidak dilakukan, maka itu tarbiyah Ruhiyah menjadi penting. Banyak pekerjaan dakwah, tapi hatinya kosong. Padahal yang penting itu hubungan dengan Allah dulu, baru dengan manusia.

Manusia itu mengalami masa-masa futur. Dimana ketaqwaannya meningkat, ada di QS Asy-Syams ayat 9 : “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa jalan kefasikan dan ketaqwaan”. Karena itulah, iman kita menjadi naik turun. Maka kefuturan itu wajar, namun jangan dijadikan alasan, tapi perbaharui dengan “Laa ilaha illa Allah”. Jadi, ketika kita tahu bahwa iman itu fluktuatif, maka berusahalah untuk meningkatkan ketaqwaan dengan cara :

Salah Jalan

Hari ini ada rencana mau ke IBF. tapi karena tadi pagi itu ngantuk berat, jadi gue memutuskan buat tidur dulu, sekalian nunggu Puspa yang katanya mau kesana juga. So damn, dan gue baru kebangun jam 11.40!!

Awalnya gue tetep niat mau kesana. Meskipun yaaahhh... masih ragu juga. Pasalnya, gue ga tau jalan, dan gue takut kemaleman pas pulangnya.. (hey, gue jalan sendirian!!) Dan karena gue ga punya uang, jadi gue ke ATM dulu, disana ketemu 3 kurcaci... (Nita, Hanin, sama Catur) mereka mau nonton "Negeri 5 Menara". Gue juga pengen nonton sih.. dan akhirnya... gue lebih memilih jadi perusuh mereka dan nonton berlima (plus Kuro)

Dan yaa... sangat menghibur


(bukan) Hafalan Shalat Delisa

Hari ini aku ada acara Mabit bareng temen LPQ. As closing kita makan-makan plus! (plus sesi taaruf maksudnya) Ada satu cerita yang menurut aku paling menarik.. 


*bener-bener langsung "ditumpahin" di marii 
Just Cekidot.. 




Hasna

Lahir di Pasar Minggu, di Lenteng Agung. Jadi lahirnya itu dulu di dukun beranak. Jadi lahir Agustus, pas bulan liburan, jadi ortu abi khan di Pasar Minggu, oh ya Hasna anak kedua, jadi liburan sama kakak. Nah, jadi lahirnya itu sebenernya belum waktunya. Jadi cari yang terdekat. Jadi “Misyi” (panggilan buat temen) itu punya kenal n dukun beranak. Tapi dulu tinggalnya di bekasi di Husnayain. Jadi awalnya mau dikasih nama Husna, tapi Husna udah banyak. Nama pertama itu Afifah Thohiroh. Hasna itu artinya cantik, kalo Shiddiqoh itu Jujur. Oh ya, Hasna anak kedua dari tujuh bersaudara. Kak Afifah beda dua tahun, sekarang di Mesir, udah nikah, punya anak 1. Jadi dia itu paling hebat, tamat SD tamat 30 juz. Jadi abi itu percaya sama anaknya kalo udah ada al-Qur’an di dalamnya.

Kalo Hasna biasa aja. Kalo kakak dari kecil kalo ditanya dijawab yang aneh-aneh gitu. Perawi hadits, blablabla gitu. Kalo Hasna dulu Tknya 3 atau 4x gitu, soalnya ga suka dijemput. TK pertama itu deket rumah, kalo dijemput, Hasna selalu udah pulang duluan. Trus dipindah ke yg jauh, biar ga bisa asal pulang sendiri, di TBZ (Thoriq bin Ziyad). SD juga di TBZ. SD cawu 3 pindah ke Aceh, dan itu udah punya 4 saudara, yang ke5 lahir di aceh. Jadi selisihnya itu 2 tahun-2 tahun. Awalnya ga mau pindah ke Aceh soalnya lagi konflik, tapi abi percayain anaknya kalo di aceh itu enak, polisinya pake jilbab, rumahnya bagus. Dan ternyata pas sekolah temen-temennya pada ga pake jilbab, beda sama sekolah yang lama, kita kecewa, tapi abi ngasih pengertian kalo itu SMA negeri dan lagi konflik. Hasna ama kakak di Min teladan. 

Kelas 6 SD ada kejadian Tsunami, jadi pindah ke Jakarta lagi, ke TBZ lagi. Tapi abi ada tugas di Aceh, jadi abi ga pindah, kakak mondok di Yapid. Trus umi balik lagi ke aceh, katanya ditemukan anak, tapi ga ada ortunya. Dan syaratnya itu harus punya air susu. Jadi di Jakarta itu tinggal Hasna sama ka Afifah. Trus ditanya abi, mau ke Aceh atau gimana? Jadi akhirnya Hasna sama kakak balik ke Aceh, di pesantren kakak juga, di Daarul Hijrah. Awalnya masih bagus, tapi pasca tsunami jadi ga kondusif lagi. Kakak tamat disana sampe lulus. Tapi angkatan Hasna Cuma 18 orang, jadi ga sampe tamat disana, terus ditanyain abi mau lanjut atau pindah ke SMA unggul? Tapi Hasna ga yakin lulus, soalnya disana itu pinter-pinter semua. Jadi pondok Hasna itu istilahnya “syurga di dalam hutan” soalnya letaknya di dalem hutan.

Kamis, 08 Maret 2012

Ia, Bunga yang Condong pada Mentarinya

Tentang seseorang yang selalu membuatku ingin berujar : "Uhibbuki Fillah" setiap kali melihat namanya. apatah lagi orangnya.

Seseorang yang entah sejak kapan membuatku tanpa sadar mengejar bayangnya. menanti waktu bekerja sama dengannya. menyelipkan namanya dalam doa-doaku. Doa akan sebuah pertemuan. Waktu dimana aku bisa melihatnya dan belajar banyak darinya. Kau tahu, bahkan mengingatnya pun tak jarang mataku panas. Entah rindu, entah iri.

Ia orang yang membuatku jatuh. terpukau, lalu tersadar. ia orang yang membuatku jatuh, juga orang yang membuatku bangkit. Ia dan ambisinya, ia dan cita-citanya, ia dan mimpinya, ia dan pemikirannya, ia dan cara pandangnya, ia dan tatapan matanya. Aku belum pernah menemukan orang sepertinya, yang begitu bersinar karena mimpi yang tampak meluap-luap dari dirinya. Aku tak pernah menemukan orang yang membuatku ingin menangis, cemburu, dan sayang di waktu yang sama.

Senin, 27 Februari 2012

Maaf, Gue Masih Abal-Abal (on the way to be expert)


Waktu kecil kalo gue pengen sesuatu gue ambil sendiri. Gue lakuin sendiri. Kaya waktu kelas 1 SD, gue belum dibolehin nyebrang, lantas gue nyebrang sendiri, main di jalan raya. Pertama ketauan dimarahin, keduanya dimarahin juga. Tapi gue ga kapok. Gue tetep nyebrang sampe akhirnya nyokap gue ngizinin bahkan minta tolong gue beli barang ke toko di seberang jalan.

Awalnya gue ga boleh jalan jauh-jauh. Jangankan ke luar kota. Ke perempatan jalan raya yang deket aja ga boleh. Tapi gue tetep nekat. Gue pengen beli mainan yang waktu itu Cuma dijual di indomart perempatan itu. Gue jalan sendiri awalnya. Pulang-pulang gue bawa mainan, pas nyokap nanya, gue jawab jujur aja kalo gue jalan sendiri ke sana. Gue dimarahin. Tapi biar aja, yang penting gue udah dapet mainannya. Besoknya gue kesana lagi, beli mainan lagi. Dimarahin lagi. Beberapa hari kemudian gue kesana lagi. Adek gue juga pengen beli mainan, jadi gue sama adek gue jalan kesana. 2 anak SD, dan 1 anak TK. Cewek semua. Jalan di pinggir jalan udah kaya kurcaci nyasar. Pulangnya nyokap gue liat mainan yang kita beli. Dimarahin lagi, tapi pas tau perginya bareng gue, marahnya agak reda.

Lain waktu rumah gue pindah ke tempat yang belakangnya kebon. Bukan kebun. Rumputnya bisa buat gue ngumpet. Ga keurus, tinggi banget. Ada kebon bambu juga. Gue pengen ngerasain sensasi idup di hutan. Gue masuk ke kebon, ngilang di balik rumput yang tingginya se-alaihim itu. Adek gue nyari, gue makin masuk ke dalem. Ga ada yang ngira gue maen kesana. Gue asik aja masuk, padahal banyak nyamuk. Badan gue gatel-gatel kena rumput sama digigit nyamuk. Gue maen sendirian sampe langit berubah oranye. Pulang dengan tampang ga berdosa. Bawa benda-benda ga jelas yang gue temuin di kebon. Pas ketemu nyokap gue ditanyain dari mana. Gue jawab dari kebon, gue dimarahin. Di sana ada uler lah, kalajengking lah, kaki seribu lah. Gue cuek. Itu gue kelas empat.

Minggu, 19 Februari 2012

Yang Beda dari Libur yang Lainnya


Selama liburan sebulan kemarin aku sedikit disibukan dengan kepindahan rumah. Bukan disibukan juga sih, mungkin lebih tepat dikatakan sebagai pengalaman yang cukup berarti.

Beberapa hari setelah datang ke rumah tiba-tiba Umi bilang kalau akhir bulan ini sudah harus pindah. Bingung, sedikit ga percaya, aku agak acuh. Ya, rasanya seperti ada orang yang bilang kalau ada tsunami padahal kita tinggal sangat jauh dari laut. Angin lalu. Dan anehnya sekeluarga pun tenang-tenang saja. Beberapa hari berlalu, aku tahu bahwa kabar itu benar.Tapi yah, mau bagaimana lagi? Bukankah hidup tetap harus berjalan? Umi tetap menjalankan aktivitas dakwahnya seperti biasa, begitupun Abi. Hanya saja, aku yang sudah terlanjur berjanji menemui teman di luar kota terpaksa batal. Masa iya aku yang anak pertama lantas pergi main padahal kondisi rumah lagi kurang stabil begini? Kalau Umi-Abi itu beda urusan, karena sejatinya setiap kader itu milik ummat bukan?

Delapan hari menjelang kepindahan, malam ini Umi mengajak aku dan adik laki-laki pertama aku datang ke calon rumah baru. Tidak terlalu jauh dari rumah saat ini, tapi cukup berkelok. Kata Umi, “Sayang grup pengajian yang sudah dibentuk disini kalau Umi pindah jauh bisa jadi balik lagi kaya dulu,” Jawabnya saat aku bertanya alasan Umi tetap bertahan dengan daerah disini.

Jumat, 17 Februari 2012

Sanah Helwa Murobbiyatunaa al-Mahbuubah

hari ini ga ada praktikum Mikdas yang jadwalnya itu pagi. Dan baguslah, finally, aku bisa tidur sampe agak siang...
hahha...

Tapi siang kita tetep ada SuHe (Struktur Hewan). Pokoknya semester ini "anugerah" banget deh buat aku yang takut hewan ini. Yeah, bayangpun lah, tersedia sangat banyak sekali kuliah (plus praktikum) yang ngebahas hewan. Pun yang ini. Dari judulnya aja --Struktur HEWAN-- jelas banget khan ada hewannya. Dan hari ini kita ngegambar belalang, tapi gue ga tau gue itu ngegambar belalang, kecoa, kamen rider, atau alien..

Titip Salam Lewat Awan

"bolehkah?" tanyaku dalam hati
ah..sudahlah
aku menggeleng keras
berharap pikiran itu lepas
seperti serpih debu di tikar kayu

langit ceria, awan putih berarak berlatar langit biru
aku dibawah sini. di atas bumi yang terlapis debu
ada senyum kecil tersungging,
membayangkan awan menjatuhkan keranjang
kecil saja.
akan kuisi dengan berjuta kata, bahagia

lalu awan kembali pergi
digiring angin yang bertiup mengayomi
sampai ke atas kepalamu yang entah sedang apa
di suatu tempat di belahan bumi lainnya

keranjang kecil itu jatuh
cukup dekat hingga buatmu melirik ingin tahu
perlahan, tanganmu terulur meraihnya
--ah, andai tanganku bisa ada di sela-selanya--
matamu membaca bait yang kutuliskan penuh rasa
--menunggu waktu mata itu kan menatapku saja--
lalu bibirmu menggaris lengkung rembulan
--karenaku--

aku tersenyum kecil. lalu berdiri, dan berbalik pergi.
mengibaskan kepala sekali lagi.
dari semua mimpi, itu yang tak mungkin terjadi

karena awan tak membawa keranjang kecil
dan hujan selalu serupa air
dan kata juga rasa yang kutempa
mungkin tak kan sampai di tempatnya

Minggu, 12 Februari 2012

Taushiyah...singkat saja


Sekelumit taushiyah dari ustadz Asep Nurhalim Lc. di MusGen Perdana LPQ Al-Hurriyah.

Pada suatu majelis, Umar bin Khaththab mengundang Abdullah bin Abbas untuk ikut ke mejelis tersebut.
Dalam majelis itu dibahas surat An-Nasr dan ditanya kepada para peserta majelis maksud yang terkandung dalam surat tersebut.
Hampir semua yang ada dalam majelis tersebut memaknai bahwa dalam surat tersebut diperintahkan untuk bertasbih, bertahmid, dan beristighfar ketika mendapat kemenangan. dan yang paling ditekankan adalah istighfar.
Dan ini merupakan surat terakhir yang turun secara lengkap. Surat ini turun pasca Fathu Makkah (sebuah kemenangan yang sangat spektakuler). Setelah terusir dari Makkah (tanah lahir) umat Muslim kembali menguasai tempat ini, dan istimewanya tanpa ada satu tetes darah pun yang tumpah. Pada saat itu, umat Islam datang dari segala penjuru. Orang-oerang Quraisy telah pasrah, mengira bahwa akan di aniaya sebagaimana mereka menganiaya umat islam pada masa sebelumnya. Namun, Rasulullah malah mengatakan bahwa mereka dibebaskan. Sehingga kaum Quraisy dengan rela hati masuk Islam.

Rabu, 01 Februari 2012

Red Chocolate Wear

Semalem liat ada HVS nganggur dan si adek lagi pada mewarnai. Iseng-iseng jadi deh gamis ini. Daripada kertasnya kebuang lagi, jadi aku upload sini deh..

Minggu, 29 Januari 2012

Ana Ukhtukunn Fillah



Aku memain jemari,
menerka-nerka tentang kita
sepuluh, seratus, bahkan seribu tahun lagi

"Cinta"
faktanya tak semudah yang diucapkan
aku, kamu, kita
aku tahu ada satu ikatan
tapi sampai kapan kita akan terus sama
melangkah menuju arah yang sama
meniti langkah yang sesekali mungkin berbeda

ada saat dimana aku dan kamu berselisih
bertahan dengan apa yang kita anggap paling benar
lalu kita terpisah

ada saat pada malam-malam temaram aku bersimpuh
mengenangmu dan memohon kebersamaan kita
ssemoga tetap sama. semoga tetap setia

aku ingin kita tetap satu
sepuluh, seratus, bahkan seribu tahun lagi
tak hanya di dunia, tapi juga alam setelah itu

Jumat, 27 Januari 2012

Antara Aku, Kamu, dan Golongan Darah

Hal yang entah mengapa terfikirkan..

Akhir-akhir ini Fakta Golongan Darah, Membaca Karakter Berdasarkan Golongan Darah atau hal-hal semacam itu sepertinya mulai populer di kalangan orang-orang yang meminati psikologi atau sekedar buat asik-asikan aja. Hal-hal yang terasa "gue banget" dan mudah dipahami, ditambah lagi visualisasi lucu yang gampang di-googling, misalnya saja yang di bawah ini, menjadikan hal ini jadi semakin menarik. Ya kan?

Selasa, 24 Januari 2012

Pesan Moral dan Pencitraan Bangsa dalam Sinetron Indonesia

Ini udah masuk minggu kedua aku di rumah. Dan yang paling kerasa bedanya adalah Suara TV. Entah sejak kapan suara "kotak ajaib" ini jadi terasa mengganggu. Padahal waktu jaman SD aku sering banget nonton TV. Dari film kartun -anime-, waktu itu masih jamannya Minky Momo, Hikaru No Go, Inuyasha, Kindaichi. yang masih lumayan bagus lah... Aku juga demen nonton model-model FBI, Xena, Hercules, dan bahkan pernah bela-belain bangun jam 2 pagi dan diem-diem nyalain TV cuma buat nonton serial mingguan "Charmed" --ada yang tau?-- yang entah asalnya dari negara mana..
::Tautan

Sabtu, 21 Januari 2012

Karya Stress Gue

Semalem gue diajakin jalan sama umi, sambil nunggu umi siap-siap gue juga siap-siap. Dan seperti biasanya, kalo di rumah gue pengennya pake jilbab model-model baru, yang belum pernah gue pake sebelumnya gitu..
Tapi, berhubung otak gue nge-blank.. gue malah ngisengin jilbab gue dengan model yang gue ga ngerti apa ini..
-,-a

Rabu, 18 Januari 2012

Yang Lebih Terang dari Mentari

Mungkin dia yang pernah hadir kau sebut "mentari"
tapi langit tak hanya ada mentari, lalu bumi
Yang menerangi, dan diterangi

Somewhere