Senin, 16 Januari 2012

Memandang Nikmat dengan Teropong Semut

Beberapa puluh jam yang lalu sempet ngobrol-ngobrol sama temen, sebenernya cukup random juga yang diomongin, tapi okelah, let's see... sebut saja kami membahas nikmat.

Sebelumnya, ada yang bisa nebak kenapa saya membuat judul "Memandang Nikmat dengan Teropong Semut"? Kenapa teropong semut? memang semut punya teropong? memang ada teropong yang terbuat dari semut?
Ayo, ayo... ada yang tahu?
Okelah, abaikan saja.. saya juga ga tau kenapa saya buat judul itu. tiba-tiba saja judul itu muncul di otak saya beberapa detik lalu.
:p

Ga bisa nemuin semut lagi pake teropong, jadi ini aja ya gambarnya...
*maaf, saya ga bisa gambar, jadi gambarnya dari sini*
Yang mau saya bahas disini sebenarnya adalah tentang nikmat, dan bagaimana kita menyikapi nikmat yang datang pada kita. Seringkali kita hanya melihat ke satu arah, menatap terlalu lurus kepada apa yang kita harapkan hal itu terjadi, sampai-sampai seringkali kita lupa dengan "anugerah-anugerah" yang datangnya seperti gerimis. perlahan, sedikit. namun sering. kadang ada saatnya kita mesti sedikit "rihlah", keluar dari sudut pandang kita melihat diri sendiri, dan mencoba melihat diri kita dari sudut pandang orang lain.

Dua hal yang paling sering mampir di telinga saya adalah cerita tentang orang yang dianugerahi perhatian dan kepintaran. 
     Sebut saja Farih, anak yang memiliki banyak teman dan tentu saja perhatian yang kelihatannya cukup kalau tak mau dikatakan berlebih. Selalu ada orang yang bisa ia jadikan tempat bercerita saat ia sedih. Namun seringkali Farih mengatakan ia merasa sendiri, meski tak diungkapkannya di depan orang banyak atau secara langsung. Tak jarang Farih mengatakan kangen dengan sahabatnya yang saat ini tinggal cukup jauh, dan sepertinya hal itu ia katakan saat sesuatu tak berjalan menyenangkan untuknya. Setiap hari ulang tahunnya pun hampir selalu diingat oleh orang-orang di sekitarnya. Ucapan, hadiah, atau perayaan kecil dari teman mungkin sudah menjadi hal yang biasa setiap tahunnya. Sebagai remaja pun cukup banyak lawan jenis yang tertarik kepada Farih, beberapa di antaranya pun pernah mengungkapkannya. Tapi entahlah, yang terkesan dari Farih bagi orang yang (setengah) dekat dengannya adalah ia selalu membutuhkan perhatian.


     Lain Farih, lain pula Arika. Sebagai pelajar Arika dapat dikatakan pemalas. Di kelas pun Arika lebih sering tertidur. Apalah lagi mencatat yang dikatakan dosen. Ujian pun Arika lebih sering memakai SKS (Sistem Kebut Semalam), tapi entah kenapa hasil yang didapat Arika tak jarang berselisih sedikit dengan mereka yang berusaha lebih. Ini tentu saja menyebabkan orang-orang yang (setengah) dekat dengannya menyayangkan sifat pemalas Arika.

Ahh...
pegel juga nulis dengan bahasa aneh kaya gitu. Hahha..

Oke, kenapa saya disitu memakai sudut pandang orang yang (setengah) dekat dengan pelaku?
Karena orang yang (setengah) dekat inilah yang paling rawan "salah paham" dengan kita, dan menurut saya juga merupakan orang yang paling jujur dalam menilai. Ya... kita bandingkan saja dengan orang yang tidak terlalu kenal, orang yang papasan di jalan misalnya, apa mau mereka repot-repot menilai, mengomentari, perhatian, lalu memberi nasehat kepada kita?
Lalu kalau orang yang dekat, sahabat dekat atau orang tua misalnya. Mereka sudah mengenal kita, dan tahu mengapa kita melakukan hal itu, apa yang menjadi sebab, sejauh apa kita sudah berusaha mengatasinya, dan hal-hal lain  yang tak terlihat lainnya. Tapi orang yang (setengah) kenal mereka hanya tahu sedikit tentang usaha kita, hanya tahu sedikit tentang latar belakang kita, hanya tahu sedikit tentang jalan pikiran kita, hanya tahu sedikit dari banyak hal dalam diri kita. 

Pada kejadian Farih, orang-orang yang (setengah) dekat dengan Farih mungkin menganggap bahwa Farih tak cepat merasa puas. Apalagi kalau orang-orang (setengah) dekat ini ternyata termasuk tipe orang yang tertutup. Atau orang yang ceria tapi memiliki masalah segunung, ulang tahun hampir selalu dilupakan oleh orang sekitar, sering dijadikan tempat curhat tapi hampir tak memiliki tempat curhat, mungkin akan terlintas dalam fikiran mereka "Lu baru segitu aja masalahnya lebai banget, padahal orang di sekitar lu yang siap bantu lu lebih banyak dari orang yang mau bantu gue".

Atau pada kondisi Arika. Orang (setengah) dekat dengannya yang berusaha jauh lebih keras tapi hasilnya malah bisa jadi di bawahnya mungkin akan kecewa, sedih, cemburu, salah-salah menanyakan keadilan Allah. Masya Allah.

Oke, jadi apa yang mau saya tulis?
Jadi gini, melihat kita yang kerap sedih dan merasa kurang perhatian padahal  orang-orang (setengah) dekat dengan kita merasa kita lebih banyak diperhatikan dari dia, atau melihat kita yang kerap pemalas dan nilai kita stabil, atau dengan kata lain orang akan menyimpulkan kita punya "bakat" cerdas, tapi kita tak dimanfaatkan dengan berusaha lebih rajin. Apa tak membuat  orang-orang (setengah) dekat dengan kita merasa kalo kita tak mensyukuri nikmat yang sudah kita dapat?

Bersyukur itu tak hanya sekedar mengucap "Alhamdulilah yah..." lalu lupa. Memanfaatkan potensi yang kita punya juga bersyukur, belajar mandiri juga bentuk syukur, menampakkan keceriaan juga bentuk syukur, menjaga orang-orang (setengah) dekat dengan kita dari rasa iri, cemburu, bisa jadi juga merupakan bentuk syukur. Ada banyak cara mensyukuri apa yang kita punya. Jangan sampai kita termasuk orang yang tanpa sadar mengkufuri nikmatnya, jangan hanya memandang nikmat-Nya dengan teropong semut, yang daya jangkaunya tak luas.

Oke, Selamat ber-hari Senin,
mari bersyukur..
^0^//