Sabtu, 14 Januari 2012

Silently

Terima kasih kepada kemajuan teknologi. Batinku.

Entah perasaan darimana, tiba-tiba sebuah nama terlintas di pikiranku. Sebuah nama dari masa lalu. Sosok lelaki yang memiliki kepribadian sangat berbeda denganku. Prince Charming. Hahha. Namanya Syarif, dan dia memiliki banyak hal untuk dapat mempengaruhi orang. Ceritaku tentangnya hampir menyerupai cerita khayal kekanakan. Secret admirer. Dan entah kenapa aku menikmatinya. Menyimpan berjuta cerita tentang bagaimana aku melihatnya.

Waktu bergulir. Enam tahun lewat telah berlalu. Samar masih kuingat bagaimana Tuhan mengguratkan wajahnya. Mungkin tak persis sama, tapi aku tahu tak kan banyak berubah.
Perlahan kutekan tuts-tuts keyboard Hippu -nama netbook kesayanganku- menelusuri pertemanan dan mencari nama yang mungkin dia pakai.

Wajahnya semakin dewasa, kalau tak dapat dikatakan menua.
Foto pertama, ia yang tengah memegang alat pancing dan kacamata hitam menarik perhatianku. Ia sedikit berubah. Tak tampak sesederhana dulu. Namun semakin gagah. Foto yang lainnya menampakkan ia dan kawannya. Ia dengan jaket kulitnya, tampak cool, ditambah dengan senyum manis dan matanya yang agak sayu, kalau bukan datar. Namun, di tangannya terselip sesuatu : "Tuhan lima centimeter".

Banyak hal yang berubah dalam waktu enam tahun ini. Kita tercipta mungkin memang bukan untuk bertemu apalagi menyatu. Ditambah lagi fikroh yang saat ini menjadi peganganmu. Kita begitu berbeda. Semakin berbeda setiap tahunnya. Meski sejak awalpun kita memang berbeda. Kau yang berada di bawah guyuran cahaya saat kita pertama bertemu. Mungkin Tuhan mengirimmu padaku bukan untuk mengerti tentang cinta. Mungkin Tuhan mengirimmu sekedar agar aku memiliki sosok yang dapat kukejar, hingga akhirnya aku bisa berdiri di bawah cahaya. Hingga akhirnya aku bisa berbicara, tak hanya di depan kaca.