Jumat, 17 Februari 2012

Titip Salam Lewat Awan

"bolehkah?" tanyaku dalam hati
ah..sudahlah
aku menggeleng keras
berharap pikiran itu lepas
seperti serpih debu di tikar kayu

langit ceria, awan putih berarak berlatar langit biru
aku dibawah sini. di atas bumi yang terlapis debu
ada senyum kecil tersungging,
membayangkan awan menjatuhkan keranjang
kecil saja.
akan kuisi dengan berjuta kata, bahagia

lalu awan kembali pergi
digiring angin yang bertiup mengayomi
sampai ke atas kepalamu yang entah sedang apa
di suatu tempat di belahan bumi lainnya

keranjang kecil itu jatuh
cukup dekat hingga buatmu melirik ingin tahu
perlahan, tanganmu terulur meraihnya
--ah, andai tanganku bisa ada di sela-selanya--
matamu membaca bait yang kutuliskan penuh rasa
--menunggu waktu mata itu kan menatapku saja--
lalu bibirmu menggaris lengkung rembulan
--karenaku--

aku tersenyum kecil. lalu berdiri, dan berbalik pergi.
mengibaskan kepala sekali lagi.
dari semua mimpi, itu yang tak mungkin terjadi

karena awan tak membawa keranjang kecil
dan hujan selalu serupa air
dan kata juga rasa yang kutempa
mungkin tak kan sampai di tempatnya