Minggu, 19 Februari 2012

Yang Beda dari Libur yang Lainnya


Selama liburan sebulan kemarin aku sedikit disibukan dengan kepindahan rumah. Bukan disibukan juga sih, mungkin lebih tepat dikatakan sebagai pengalaman yang cukup berarti.

Beberapa hari setelah datang ke rumah tiba-tiba Umi bilang kalau akhir bulan ini sudah harus pindah. Bingung, sedikit ga percaya, aku agak acuh. Ya, rasanya seperti ada orang yang bilang kalau ada tsunami padahal kita tinggal sangat jauh dari laut. Angin lalu. Dan anehnya sekeluarga pun tenang-tenang saja. Beberapa hari berlalu, aku tahu bahwa kabar itu benar.Tapi yah, mau bagaimana lagi? Bukankah hidup tetap harus berjalan? Umi tetap menjalankan aktivitas dakwahnya seperti biasa, begitupun Abi. Hanya saja, aku yang sudah terlanjur berjanji menemui teman di luar kota terpaksa batal. Masa iya aku yang anak pertama lantas pergi main padahal kondisi rumah lagi kurang stabil begini? Kalau Umi-Abi itu beda urusan, karena sejatinya setiap kader itu milik ummat bukan?

Delapan hari menjelang kepindahan, malam ini Umi mengajak aku dan adik laki-laki pertama aku datang ke calon rumah baru. Tidak terlalu jauh dari rumah saat ini, tapi cukup berkelok. Kata Umi, “Sayang grup pengajian yang sudah dibentuk disini kalau Umi pindah jauh bisa jadi balik lagi kaya dulu,” Jawabnya saat aku bertanya alasan Umi tetap bertahan dengan daerah disini.


Rumah kami saat ini kecil tapi bertingkat. Di bawah untuk ruang tamu dan dapur, dan di atas dua kamar tidur dan ruang keluarga. Rumah yang saat ini sedang kami survey juga bertingkat, dengan ukuran yang jauh lebih besar dan lima kamar tidur. Cukup ideal untuk proporsi keluarga kami, dan juga ada ruang untuk membuat taman bacaan. Tentu saja harganya lebih mahal dari rumah yang saat ini kami tempati, tapi abi enggan.

Enam hari menjelang kepindahan. Umi memang tokoh yang cukup dikenal di tempat ini. Bagaimana tidak, sejak kami tinggal disini hampir setiap hari rumah kami selalu ada pengajian atau liqo. Dari anak remaja sampai orang tua. Berita kepindahan Umi juga sudah menyebar, pun calon rumah baru. Tampaknya semua tetangga (yang juga murid Umi) kurang setuju dengan rumah itu. Usut punya usut, meskipun rumah itu cukup “privasi”, sudut gelap di samping rumah kerap kali dijadikan tempat “transaksi” bahkan mengkonsumsi narkoba. Hal seperti ini benar-benar tak dapat ditolerir, apalagi dua adik laki-laki aku yang masih SMP dan SD cukup supel. Jadi hari itu Umi dan Abi kembali mencari rumah lain.

Empat hari menjelang kepindahan, Alhamdulillah rumah yang kali ini Abi setuju dan jaraknya tak terlalu jauh dari rumah kami saat ini. Rumah yang ini juga tingkat, tapi hanya dua kamar, dan dengan sedikit pembenahan bisa dijadikan empat kamar. Ruang tamunya juga lebih lebar dari rumah kami saat ini, jadi taman bacaan tetap bisa dibuat. Hanya saja harganya tentu juga lebih mahal.

Rumah kami saat ini harganya dua ratus juta dengan surat tanah yang tak pasti. Abi enggan membayar lunas sebelum surat-surat lengkap, tapi yang punya rumah malah memutuskan untuk mengembalikan uang yang telah kami bayarkan daripada mengurus surat tanah. Jadi kami harus pindah akhir bulan ini. Hanya tinggal beberapa hari. Rumah yang akhirnya positif akan dibeli harganya tiga ratus lima puluh juta. Seratus lima puluh juta bukan uang yang mudah didapat dalam waktu beberapa hari, apalagi baik Abi ataupun Umi memang penghasilannya tak pasti. Tapi Umi percaya kalau Allah itu dekat. Pasti bantu. Jadi Umi bilang kalau minta itu ke Allah, karena Allah kaya. “Uang dua ratus juta kemarin pun dari Allah (dengan perantara hamba-Nya tentu saja), jadi sekarang Umi mau minta sama Allah aja,” katanya berulang, ini bukan kali pertama. Kadang aku iseng bertanya, “Umi ga mau minjem?”

“Ga ah,” pasti Umi jawab begitu, “kalau minjem nanti pusing lagi bayarnya darimana. Minta sama Allah. Tapi ga berarti pasif. Makanya kehidupan tetap harus berjalan. Menjalin hubungan itu ikhtiar, Umi ngisi pengajian itu juga ikhtiar, meski disana Umi ga dibayar. Kalo dibayar manusia itu kecil, nanti mereka jadi kurang hormat, ‘khan gue udah bayar’ nanti mikirnya begitu. Yang penting pesannya nyampe, biar yang bayar Umi Allah aja, bayaran dari Allah lebih gede. Hahha...”

“Tapi itu semua berproses kak. Kaya yang tadi di kantor barusan. Umi masih dibayar, segini.” Kata Umi sambil menunjukkan isi amplopnya ke aku. “Segini itu buat makan juga udah abis. Tapi ga apa. Nanti lama-lama Umi maunya ga usah, kaya di kantor yang satunya lagi. Jadi kalau ga dibayar hubungan batinnya bukan antara guru dan murid lagi, tapi jadi lebih kekeluargaan. Hubungan hati ke hatinya lebih kuat sinyalnya. Nah, kalau kaya gitu nanti imbasnya bisa ke anak-anak Umi juga. Kaya waktu Darda di khitan kemarin, jadi banyak yang dateng. Darda khan juga jadi seneng. Nah, nanti kalau kakak ada acara khan juga bisa ...” lanjut Umi, mulai menggoda.

Februari, hari pertama. Seharusnya rumah sudah kosong. Pagi ini Abi tinggal di rumah, Umi ada sedikit urusan dulu. Tak lama setelah Umi pergi yang punya rumah datang, dengan berisiknya memasang plang : “Rumah ini Dijual”. Ah, ya sudahlah. Sebagian barang sudah di-pak dan dibawa ke rumah yang baru. Tapi masih sangat banyak juga barang di rumah ini. Menjelang dzuhur Umi pulang, lalu pergi lagi sebentar dengan Abi. Urusan rumah. Setelah dzuhur tetangga mulai berdatangan, membantu mengepak barang dan  memindahkan sebagian ke rumah baru. Di rumah baru tersebut juga masih ada yang menempati, dan memang uangnya belum dibayarkan, masih kurang, sementara si pemilik rumah enggan menerima cicilan, karena uang dari Umi-Abi juga akan digunakannya untuk membeli rumah lain. Dan yah.. jadilah untuk sementara barang-barang rumah menyebar di rumah tetangga yang murid Umi dan di rumah orangtua Abi.

Februari, hari ke sepuluh. Sesuai kesepakatan uang rumah sudah dibayar lunas. Masya Allah. Alhamdulillah seluruh kekurangannya bisa tertutupi. Sepuluh hari ini kami tinggal di rumah nenek, orangtua Abi. Abi masih tetap menjalani aktivitasnya, pun dengan Umi, liqo masih tetap berjalan, pengajian di beberapa kantor juga masih berjalan, bahkan kemarin sempat menjenguk adek yang masih di pondok, hanya saja pengajian tetangga yang biasa diadakan di rumah diliburkan sementara sampai pindah di rumah baru itu.

“Sesungguhnya Allah bersama prasangka hamba-Nya”

Uang untuk melunasi rumah itu tak sedikit memang. Dan Alhamdulillah terlunasi, bukan pinjaman tentu saja. Ini bukan kali pertama aku melihat bagaimana Allah itu kaya. Bagaimana kita meyakini bahwa Allah itu tempat meminta dan manusia sebagai perantara. Bukan sebaliknya. Seringkali saat kita merasa sulit, hal yang pertama terpikir adalah “Siapa?”, bukan “Allah”.

“Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”

“Kehidupan itu mesti tetap berjalan, Kak!” Kata Umi. Ya, Umi tetap mondar-mandir ngisi liqo, ngisi pengajian, ngisi taklim. Abi juga tetap ngisi liqo, tetap rapat, tetap menjaga hubungan. Padahal urusan di rumah juga tak kalah besar kalau mau dipusingkan. Dan memang Allah pun membantu, memudahkan, menunjukkan, memberikan apa yang dibutuhkan hamba-Nya.

Dan satu hal lagi yang menarik. Kemarin sebelum kesini tiba-tiba ada tamu yang datang. Umi masuk ke kamar sambil berlari-lari kecil dengan tampang sumringah, mengambil sejumlah uang, lalu keluar lagi. Setelah Umi kembali Umi cerita kalau yang datang itu Tukang Pos yang dulu mengantar surat dari Abi saat Abi tengah di luar negeri. Umi pernah nadzar untuk memberikan sesuatu kepada Tukang Pos itu, dan Alhamdulillah ternyata hari ini diizinkan untuk membayar nadzar tersebut. Aku masih belum cukup paham, “Emang ngapain itu tukang pos kemari?”

“Nganter paket dari ibunya Kaisya – adik(angkat)ku yang paling kecil – tadinya dianter ke rumah yang lama, tapi katanya udah pindah ke sini. Nah kalo bagian sini itu bagiannya Tukang Pos yang tadi datang, jadi tadi dia nyari-nyari terus ketemu disini.”

Yah, begitulah. Satu hal lagi aku melihat bagaimana hebatnya Allah merangkai setiap kejadian agar berpilin dengan indah, satu dengan lainnya. Sebuah “kebetulan” yang telah dipersiapkan. Mungkin boleh jadi kalau kepindahannya berjalan lancar tanpa hambatan, kami tak perlu menginap di rumah nenek. Dan nadzar Umi mungkin belum terbayar hari itu.

“Selalu ada hikmah di setiap kejadian”

Mungkin hal itu yang secara sadar ataupun tidak sadar menjadikan kami sekeluarga begitu tenang menjalani kejadian ini. Kita hanya perlu bersabar membaca untuk mengetahui akhir dari bab yang tengah kita nikmati.