Minggu, 11 Maret 2012

Tarbiyah Ruhiyah (One night with LPQ)

 Mabit LPQ Perdana 10 Maret 2012

Materi : Tarbiyah Ruhiyah

Apa itu Tarbiyah Ruhiyah?

Pengertian singkatnya itu tentang bagaimana kita mendidik atau membina ruhiyah kita sendiri. Kan ada tiga komponen ruhiyah, yaitu Tarbiyah Ruhiyah, Fikriyah, kemudian Jasmani. Semuanya sebenarnya penting, tapi mungkin yang menjadi pokok adalah Tarbiyah ruhiyah.

Sebenarnya esensinya itu apa untuk diri kita sebagai aktivis dakwah? Pentingkah? Mengapa penting?
Misalnya begini, kalian misalnya katif di BEM, Dewan Mushala, kegiatannya banyak, berdakwah, dan blablabla. Tapi ternyata dalamnya kosong. Misalnya sehari itu ga tilawah, ga Dhuha, kira-kira masuk ga dakwah kita ke orang lain? Jadi istilahnya kita menyampaikan apa yang tidak dilakukan, maka itu tarbiyah Ruhiyah menjadi penting. Banyak pekerjaan dakwah, tapi hatinya kosong. Padahal yang penting itu hubungan dengan Allah dulu, baru dengan manusia.

Manusia itu mengalami masa-masa futur. Dimana ketaqwaannya meningkat, ada di QS Asy-Syams ayat 9 : “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa jalan kefasikan dan ketaqwaan”. Karena itulah, iman kita menjadi naik turun. Maka kefuturan itu wajar, namun jangan dijadikan alasan, tapi perbaharui dengan “Laa ilaha illa Allah”. Jadi, ketika kita tahu bahwa iman itu fluktuatif, maka berusahalah untuk meningkatkan ketaqwaan dengan cara :


1.       Mu’ahadah. Artinya, mengingat atau mengikat perjanjian. Misalnya dalam sholat, dalam surat Al-Fatihah : “Iyyaka Na’budu wa iyya ka nasta’in”. Misalnya di sepertiga malam kita berkhalwat dengan Allah. Sehari itu kita memiliki 24 jam, masa sih kita ga punya waktu sejenak untuk Qiyamul Lail, yang paling lamanya sekitar satu jam? Kadang, kalau kita curhat sama teman itu khan bisa berjam-jam, masa sama Allah Cuma sejenak, bahkan 5 menit aja udah nyerah?

2.       Musyarokah. Istilahnya itu berikrar dlaam hati. Setelah kita tahu kalau iman fluktuatif, maka kita ber-azzam dalam hati. Misalnya hari ini saya mau shalat Dhuha, tilawah 3 juz, dan lain-lain. Jadi, ada lah penetapan kita dalam satu hari itu mau ngapain. Menargetkan.

3.       Muroqobah. Merasa diawasi oleh Allah dalam segala tindakan apapun.

4.       Muhasabah. Kalau tadi yang kedua itu penetapan, maka muhasabah ini adalah evaluasi dari kegiatan tersebut. Tercapaikah?

5.       Muaqobah. Menghukum diri. Setelah kita menetapkan, lalu mengevaluasi, ternyata ga nyampe nih, maka kita meng-iqob diri kita, misalnya shodaqoh.

6.       Mujahadah. Bersungguh-sungguh. Setelah kita iqab, maka kita bersungguh-sungguh, agar target yang berikutnya bisa tercapai.

7.       Nah, yang terakhir ini Muatabah. Muatabah itu kita menyadari akan kekurangan diri kita. Jadi setelah kita bersungguh-sungguh, kita sadar akan kekurangan diri kita. Nah, setelah dievaluasi ternyata target tidak tercapai, maka kita tahu bahwa ada “penghalang”, jadi kita coba dengan metode yang lain jika metode sebelumnya tidak dapat digunakan.

Kalau di dalam buku “Tarbiyah Ruhiyah” Said Hawwa, disitu itu dijelaskan sedikit tentang ini....emm... di antara latihan ruhani yang disarankan :
1.       Shalat fardhu 5 waktu berjamaah
2.       Menegakkan shalat dhuhaa, tahajud, dan witir
3.       Mengerjakan sunnah rawatib
4.       Jika memungkinkan melaksanakan shalat tasbih setiap hari
5.       Mengatur dan menentukan saat pengkhataman al-Qur’an
6.       Menyibukkan diri
7.       Membaca wirid, misalnya yang setelah sholat, almatsurat
8.       Puasa di hari yang memungkinkan
9.       Membiasakan sedikit makan, sedikit bicara, dan sedikit bergaul

Sesi Tanya Jawab :
è Maksud berkhalwat dengan Allah itu apa?
è Khalwat itu maksudnya berduaan, jadi kalau berkhalwat dengan Allah itu maksudnya menyediakan waktu khusus sama Allah.

è Membatasi bergaul itu maksudnya gimana?
è Gini, saya pernah membaca, bahwa syahwat itu adalah banyak makan, bicara, dan tidur. 3 hal itu mudah mengeraskan hati kita. Misalkan makan, kita perhatikan halal dan thoyyib nya, Jangan terlalu banyak bicara, maksudnya jangan terlalu banyak bercanda. Nah, jangan terlalu banyak bergaul itu maksudnya bagaimana kita “men-shibghoh” bukan “tershibghoh”, jadi diperlukan lingkaran atau komunitas yang baik untuk menguatkan.
è Tapi pergaulan itu dibutuhkan juga, jadi tanpa pergaulan yang luas itu perlu juga untuk memperluas sayap dakwah, karena dakwah jika tidak berkembang maka ia berpotensi untuk mati.
è Jadi gini, sedikit bergaul.  Jadi memang benar, ketika kita banyak bergaul,maka akan menyebabkan lebih banyak bercandanya, tertawanya. Kalau seandainya bergaulnya itu tilawah, berdakwah, ga masalah. Jadi selama bergaul itu dalam rangka mencari kebaikan, maka ga masalah. Misalnya bergaul dengan pencuri, ga masalah kalau kita kuat dan kemudian menjadikannya baik, tapi kalau kita belum kuat salah-salah malah kita yang terbawa oleh mereka.