Selasa, 29 Mei 2012

Untuk Pemilik Langit



“Runa…” sapanya lembut, “Ada kondisi dimana tiba-tiba kita merasa hampa, gamang, bosan, entah karena apa. rindu, entah kepada siapa.”
aku diam.
“ada satu tempat di hati manusia” lanjutnya, “yang hanya bisa diisi oleh-Nya. Saat kita merasa tak nyaman karena sesuatu yang tak kita pahami, cobalah periksa tempat itu. Adakah Allah tengah disana?”
Kalimat itu sederhana saja. Tanpa unsur menggurui rasanya. Ya, kalimat sederhana dari murabbiyah pertamaku, 7 tahun lalu. Yang selalu saja berputar di kepalaku saat jenuh itu mulai menyapa. Saat kebosanan mulai singgah. Saat akal mencari-cari pembenaran dunia tentang sebab-sebab kejenuhan itu ada.
kalimat itu sederhana, tapi entah sudah berapa kali berhasil menyentil ego yang sok meraja di dalam diri.
Adakah Allah di hatimu?
Allah….
Biarkan aku menyapamu malam ini. Ada setumpuk tugas yang menuntutku untuk tawazun di sampingku. Tapi biarkan aku sejenak berkesah dengan-Mu meski tak hanya aku dan Kamu yang kan tahu
:)
Allah…
Adakah Engkau di hatiku?
Mungkin kalimat itu lebih tepat kunyatakan pada diriku sendiri. Hari ini Allah, aku berkesah begitu banyak. Adakah Engkau di hatiku? Adakah Engkau tak bersamaku? Adakah Engkau lupa turut “campur tangan” dalam hidupku hari ini?
Allah…
Aku bukannya meragukanmu. Terkadang aku hanya takut bahwa Kau akan pergi dan membiarkan aku berada dalam persimpangan lalu membiarkanku memilih sendiri jalan mana yang kan ku tempuh. Allah…. Aku hanya ingin Kau selalu ada, memilihkan untukku jalan mana yang mesti ku tempuh, aku rela, sungguh, aku ridho dengan semua pilihan yang telah Kau gariskan.
Tapi Allah…
Teruslah bersamaku, teruslah jaga aku. Teruslah ada dan menenangkan hatiku Yaa muqallibal quluub… 
Allah…
beberapa hari ini, kecemasan, kejenuhan, dan kepenatan mampir dalam hidupku. Itukah tanda bahwa justru aku yang lupa pada-Mu. Itukah tanda bahwa Kau juga telah rindu mendengarku membaca surat cinta-Mu, ber-khalwat dengan-Mu saat yang lain tengah asyik mengulum mimpi. Itukah tanda bahwa Kau juga telah memanggilku untuk bercerita?
Allah…
Kalau aku menangis karena merindu-Mu, adalah bulir air mata itu akan menjadi permata dalam untaian do’a yang kurangkai sampai ke langit?
Allah…
Kau tahu, ibadahku sangat sederhana. Qiyamul Lail ku hanya sesekali, shalat wajib pun tak selalu tepat waktu. Bacaan Qur’an pun tak terlalu banyak. Aku tahu, mungkin tak pantas bagiku minta penjagaan dari-Mu, minta perlindungan dari-Mu, minta Kau selalu campur tangan dalam urusanku.
Allah…
Kau juga tahu bahwa aku begitu pemalu untuk tampak baik di depan lainnya. Terlalu malu untuk mengaku bahwa aku ingin. Terlalu canggung menunjukkan apa yang aku rasakan. Allah… aku mau bertemu… mau ber-khalwat dengan-Mu. Tapi aku malu kalau ada yang tahu bagaimana caraku bercerita pada-Mu. Bagaimana caraku meminta pada-Mu.
Karena itu, Allah…
bolehkah. bila aku hanya meminta sedikit setelah shalat, sederet doa yang rutin kupanjatkan setelah kita bertemu 5x itu. Dan melanjutkan sisanya sambil bergumam dalam hati sepanjang jalan? Dan melanjutkan sisanya sambil berdoa dalam diam? Dan melanjutkan sisanya sambil termenung di saat malam?
Aku mencinta-Mu.
Dan orang-orang yang Kau hadirkan dalam hidupku.
Aku mencinta-Mu.
Dan orang-orang yang kini ada di lingkupku.
Aku mencinta-Mu.
Dan semakin mencinta-Mu dengan adanya mereka yang membuatku bisa membaca surat cinta-Mu tanpa segan.
Aku mencinta-Mu.
Sungguh…
Dan berdo’a adalah caraku menunjukkan cinta itu.
.:Untuk pemilik langit dan anugerahnya yang selalu indah
^^