Kamis, 28 Juni 2012

Saat Aku dan Kamu Beririsan dan Menjadi Kita


"Cinta itu..." katamu suatu hari. berbisik lembut dengan latar gemerisik daun, "adalah saat dimana aku merasa  bintang yang kulihat di langit malam menjadi perantara antara hatiku dan hatimu"
Aku diam. Ahh... kapan kah aku sungguh membantah katamu? Tak setuju pun aku hanya akan tersenyum seulas tipis. Setiap kata yang mengalir dari sungai suaramu entah kenapa terasa begitu gemericik.
Cinta? Aku bahkan belum terfikir hingga kesana.
Saat itu, aku hanya tahu bahwa aku mengagumimu. "Butir syurga yang jatuh ke bumi". Gumamku. Entah kenapa, beberapa kali kamu begitu terlihat menawan. bersinar dengan segala kesederhanaanmu. kau tak sempurna, jauh malah dari kata itu. Aku tahu banyak, bahkan lebih dari yang kau duga. Tapi sudah, hanya sampai situ. Merangkai pribadimu satu demi satu entah kenapa terasa begitu membahagiakan. Kamu mungkin tak kan tahu sejak kapan aku mulai menyimpan setiap tapak masa lalu yang kau tinggalkan. Aku menyukainya, bahkan sebelum menyadari bahwa itu adalah benih-benih "rasa".

"Hari itu..." ujarmu lagi. membiarkan aku merebahkan kepala di pangkuanmu yang sebelumnya kosong. "kau tampak sangat menawan. lebih dari cantik. kau bersinar". lanjutmu sambil memilin rambutku, seakan aku ini kucing kecil yang  benar-benar kau manja.
Aku menarik tanganmu dari rambutku memainkan jari jemarimu yang hari ini terasa begitu besar. Cukup besar untuk dapat menggenggam hatiku dan menjaganya dari kontaminan-kontaminan yang tak diharapkan kehadirannya.
Hal yang mungkin kamu tak tahu adalah bahwa kamu telah tampak begitu menarik di mataku, bahkan mungkin sebelum kamu menyadari kehadiranku. semuanya, semuanya tentangmu seakan memiliki daya magnetis tersendiri. Yang menggiringku untuk menyimpan seluruh serbuk besi yang mendekat perlahan, atau justru aku serbuk besi itu? Rasaku yang terhitung telat kusadari. Kamu memang menarik, tapi kamu pula yang membuatku tahu bagaimana menerjemahkan semua hal tak terdefinisi itu menjadi satu kata : "Cinta"

Kau menarik tanganmu dari genggaman kecilku, mengelus rambutku lembut sekali, memberi kode yang membuatku mengangkat kepala dari pangkuanmu. Kini genggamanmu membungkus hangat genggaman mungilku, dengan senyum hangat, kau mengajakku beranjak. Sebuah kejutan kecil lagi? Semoga saja...
Kau yang sebelum ini begitu datar dan mudah ditebak, sejak hari itu menjadi orang paling sering memberi kejutan kecil menyenangkan dalam hidupku.

Ya, mungkin getar itu akan tetap sama meski masih jutaan masa lagi yang akan kita lalui bersama.
Kamu, dan aku....dan entah siapa yang nantinya kan hadir di tengah-tengah kita.