Minggu, 26 Agustus 2012

Bukannya tak Sabar


"Laa Taghdhob wa Lakal Jannah, Jangan marah bagimu syurga!"
terpatah-patah dan dengan mimik lucu anak kecil yang masih TK itu memamerkan hadits yang sudah dihafalnya di sekolah. lengkap pula dengan gerak tubuh yang membuat kakak dan orang tuanya makin tergelak.

JANGAN MARAH. Sederhana saja memang kedengarannya. Hadits yang melarangnya pun relatif singkat dan bisa dihafal dalam sekali dengar. Namun sebagaimana emosi lainnya, memiliki rasa marah adalah hal yang normal. Menghandel nya dengan baik pun bagi sebagian orang adalah hal yang cukup mudah.

ORANG SABAR. Biasanya orang yang jarang tampak marah akan serta merta mendapat titel itu. Titel yang baik? yah, mungkin... Lantas bagaimana jika dengan titel itu orang lain jadi merasa ringan berbuat apa saja.
"Toh dia tak akan marah," biasanya itu yang lantas terdengar dari orang yang sebut saja kurang mampu menghargai kesabaran orang lain. Atau belum mampu.

Nah, lantas mungkin ada kalanya marah itu diperlukan. bukan untuk meluapkan emosi yang selama ini tertahan. Bukan karena kesabaran yang telah mencapai batasnya. Bahkan kadang mereka yang punya cukup kesabaran memang tidak merasa kesal sama sekali.

Lalu, untuk apa marah itu dilakukan?

Marah disini dilakukan bukan karena ego pribadi. Tapi lebih kepada kepentingan si objek kemarahan. Marah seperti ini pada hakikatnya didasarkan pada rasa sayang dan keinginan agar si objek marah semakin berkembang. Tentu saja marah dilakukan dengan cara-cara yang halus. Misalnya berupa teguran terlebih dahulu. Dan bila dalam waktu tertentu orang yang dimaksud tak kunjung paham atau berubah, mungkin marah dalam konteks mendiamkan, acuh, atau dengan gaya yang sedikit keras juga diperlukan.

Bahkan dalam suatu kondisi, dimana diskusi santai tak mampu benar-benar mengeluarkan isi kepala orang yang dituju, atau sekelompok orang yang dituju, marah akan menjadi jalan alternatif untuk memanaskan keadaan. Menjadikan orang (-orang) tersebut lebih mudah mengungkapkan isi kepalanya. Kadang, marah yang diungkapkan dalam bentuk tangisan pun memiliki caranya sendiri untuk membuat orang lain berfikir.

Tentu saja setelah itu, dalam tempo yang bisa langsung ataupun berjangka diperlukan adanya semacam "pendinginan" agar tujuan marah dapat terwujud tanpa menyisakan kecanggungan di antara yang bersangkutan.