Jumat, 17 Agustus 2012

Menjarak Sejenak

Ikhlas....
kadang saya bingung dengan definisi kata itu.

Syukur....
apalagi tentang yang ini.

Kerapkali saya diam, mencoba mengulik apa yang sedang dirasakan hati. Ah, atau mungkin saya terlalu banyak berlogika, lantas menempatkan perasaan dan logika dalam porsi yang masih timpang?
Lagi-lagi tentang seseorang, yang hingga saat ini saya masih belum tahu jawabannya. Atau saya yang kerap kali membantah jawaban yang sebenarnya saya tahu? Ada sesuatu yang dia miliki, dan itu tidak ada pada saya.

ini tentang seseorang yang begitu cemerlang, sampai saya merasa bias saat bersamanya. Sampai saya merasa ragu untuk bercerita, sekedar melayangkan tanya, "apa yang sungguh membedakan saya dan dia?" pada orang yang mengenal kami berdua.
dia cenderung sederhana dalam bersikap jika dibandingkan saya yang mungkin cukup kompleks bagi sebagian orang. caranya berbicara pun lebih ramah dan kekanakan dibanding saya. ini bukan berarti saya kaku, hanya saja, dalam beberapa kondisi dia tampak lebih "perempuan" dibanding saya. disamping itu, dia juga lebih keras kepala dan moody. Yah, saya memang lebih terlihat tenang memang, terlampau tenang malah, sampai banyak orang mengira saya hampir tak pernah terlihat marah atau tak menyukai sesuatu.

dia baik, cantik, lembut, dan sedikit kekanakan. mungkin itu hal yang diperlukan untuk membuat banyak orang "terkesan" sejak pandangan pertama. Mungkin itu hal yang membuat banyak orang mudah merasa sayang dan ingin melindungi.

ada saat, dimana saya merasa cukup minder dengan segala hal yang dia miliki. Tak nyaman saat harus berjalan beriringan dengan tampilan luar yang sama. tentu saja, dia akan tampak jauh lebih menarik dari saya.  saya perempuan, dan rasanya sedikit wajar kalau saya ingin tampak sedikit lebih anggun. hahha...
beberapa saat yang lalu saya sempat belajar untuk memodifikasi sedikit cara saya berpakaian. belajar agar sedikit tampak lebih "feminin" mungkin. di samping itu, saya memang kurang suka terlihat sama dengan orang kebanyakan. semuanya menyenangkan, hingga saat dia juga mulai melakukan apa yang saya lakukan. tampilan anggun mungkin memang lebih cocok untuknya. ada saat dimana saya justru merasa menjadi lelucon saat dia dan beberapa orang lainnya mulai "memuji" saya yang berusaha sedikit tampil beda, "akhwat gaul" katanya. entah kenapa ini membuat saya begitu risih. mungkin saya yang biasa tampil sekenanya dan cenderung asal-asalan jadi tampak aneh saat mencoba untuk sedikit tampil anggun.
hahha....
tentang penampilan memang saya dan dia begitu jauh. mungkin karena pembawaan kami yang begitu berbeda. Banyak orang yang dengan mudahnya mengatakan dia "cantik" atau "manis" dengan ringannya. okelah, anggaplah karena memang saya tanpa sadar memberikan sinyal bahwa saya tak suka dipuji fisik, atau memang tak cukup untuk dipuji. ini bukan tentang dipuji atau tidak. ini bukan soal cantik atau tidak. Tapi entah kenapa, banyak orang yang lebih memilih dia daripada saya.

Ada saat, dimana saya menemukan bahwa dia ada di depan saya dalam suatu struktur kepengurusan. sebut saja semacam Rohis. bisa dibilang saya tahu beberapa hal untuk bisa disana. bahkan saya belajar untuk melepas seseorang yang selama ini menjadi tempat saya berkesah, orang yang mungkin sempat berharga untuk saya. Saya belajar berdiri sendiri. orang boleh berspekulasi banyak hal, tapi hanya Allah yang tahu bagaimana saya belajar untuk menahan ego remaja saya yang kadang tak mau sendiri. Saya tahu, "pacaran" adalah hal yang tabu bagi seorang aktivis. ada banyak hal yang seringkali membuat saya lebih nyaman berbincang dengan lawan jenis, tapi saya enggan, saya tahu saya mampu berdiri sendiri. Dan kalau tentang teman bertukar fikiran, saya tahu, banyak perempuan yang bisa saya ajak diskusi, setidaknya nanti pasti akan saya temukan. Kalau tentang kebutuhan untuk diperhatikan, saya ingin belajar cukup dengan perhatian orang tua dan sahabat-sahabat perempuan saya.

Saya bukan anak baik yang penurut. saya bukan orang yang mau terikat aturan. saya bukan perempuan yang sangat alim. saya bukan perempuan yang suka memakai jilbab menyentuh siku. saya bukan orang yang merasa nyaman rapat dengan adanya hijab.saya bukan orang yang bisa lama-lama memperhatikan pembicaraan orang tanpa melihat si pembicara. bahkan saya merasa belum cukup pantas menyandang titel "akhwat". Tapi saya sempat belajar menahan diri. menghormati mereka yang merasa itu perlu. belajar berhenti memakai kalimat-kalimat akrab dan smiley dalam sms. belajar bicara seperlunya kepada lawan jenis. bahkan berdoa agar bisa lost kontak dengan teman laki-laki saya saat SMA, yang ternyata jawabannya adalah hilangnya HP saya dan semua kontak di dalamnya.

kadang, ada rasa jengah yang terselip saat tahu bahwa dia masih bahkan memiliki seseorang yang "istimewa". dengan posisinya saat ini, dengan kepercayaan orang-orang terhadapnya, dengan pandangan orang-orang bahwa dia lebih baik dari saya. Kadang, ada kecewa yang sempat terselip.

kenapa?
bahkan sejak lama pun dia selalu ada di depan saya. tentang struktur kepengurusan, bahkan tentang "rasa". orang yang saya suka, kalau orang itu mengenal dia, orang itu lantas menyimpan rasa untuknya. ini tak hanya sekali.
Ada saat, dimana saya memberanikan diri untuk bercerita, sekaligus bertanya kepada seorang sahabat, yang mengenal saya, juga mengenal dia, lantas yang saya dapat adalah "cobalah, kenal dia lebih dekat lagi. pasti akan semakin banyak kebaikan yang kamu temukan"
Sejak saat itu, saya memutuskan untuk tak lagi menceritakan tentang ini kepada siapapun. tidak, bahkan kepada sahabat terdekat saya sekalipun.

Saya......
saya tahu bahwa ada yang salah dengan diri saya, ada yang salah tentang hati saya. Saya tahu banyak kebaikan dia, lebihnya dia, tapi hal itu malah membuat saya semakin tenggelam dalam perasaan "kalah". 
Saya tahu karakter kami berbeda, ada kalanya saat saya berjuang menenangkan perasaan saya, menetralkan perasaan saya, mencoba cukup dengan apa yang saya punya, mencoba kuat hanya dengan diri saya sendiri, mencoba berdamai dengan hal yang berkecamuk dalam diri saya, dia datang dan mengeluhkan ini-itu. Saya tahu ada kalanya dia butuh saya, tapi setiap kali dia menangis, saya malah makin sakit. "kamu punya segalanya, kamu ada di depan saya, tolonglah...jangan mengeluhkan itu di depan saya"

Jadi, saya memutuskan untuk menenangkan diri sejenak dari dia, mungkin saya terlampau jenuh dengan sesuatu. mungkin ada sesuatu yang tak sehat dan justru akan selesai kalau kami menjarak. Mungkin, saya butuh waktu untuk hilang sejenak dari dia. entah berapa lama. sampai hati saya sehat lagi. sampai saya cukup siap untuk tak merasa "kalah". sampai saya cukup siap untuk jadi sahabatnya lagi.

Mungkin ikhlas saya tengah diuji. mungkin syukur saya tengah diuji.