Kamis, 13 September 2012

Kali ini, untuk hal yang sulit dikatakan

"Ikhlas itu ada tiga : di awal, tengah, dan akhir."
"Sabar itu tak berbatas..." seharusnya begitu. bagaimanapun aku ingin percaya dan selalu mencoba yakin bahwa memang sabar tak berbatas... namun... apakah ia tak bisa terganggu?
"Kak, bagaimana kalau tiba-tiba keikhlasan itu terganggu?" tanyaku ragu.
"Muraqabatullah" jawabnya, sederhana.

Sesungguhnya aku bukannya tak tahu, hanya kadang...saat ada sisi hati yang sedikit tersinggung, yang terjadi malah sebaliknya. Ketika pengorbanan rasanya tak terlihat memberikan hasil. Ada sisi hati yang mulai ragu ... "salahnya dimana?", lalu ketika kesalahan tak ditemukan dalam diri sendiri, malah kecewa yang hadir, "kenapa ia tak kunjung menunjukkan peningkatan?"
Lalu rasa lelah mulai merayap...perlahan-lahan. menggerogoti hati yang susah payah dijaga biar tak keruh.
Aku sempat berfikir untuk pergi.
Banyak hal kalau mau dijadikan alasan. Semakin hari alasan itu pun semakin banyak dan terasa menguat.

Duh Allah... Duh Rasul...
lantas, salahkan aku?
perih di dalam sini, bukannya tanda bahwa ada hati yang tergores? luka kecewa? atau dosa karena berburuk sangka?
Kau tahu, kadang manusia bisa lelah. Aku ingin mampu kuat. Aku ingin mampu sabar. Aku ingin mampu ikhlas. Entah ini memang sepihak aku saja yang berjuang menjaga semuanya, atau orang yang dimaksud juga berusaha semakin baik. 
Kau tahu... Aku ingin berguna, bukan hanya untuk manusia, tapi juga untuk-Mu... lalu, adakah caraku yang salah? atau hanya aku yang kurang bersabar?
Allah, aku sangat ingin sabar. Tapi, berapa lama? Ini bukan tentang batas kesabaran, tentang itu, aku selalu berusaha membuatnya tak terbatas. Tapi berapa lama? Ini tentang waktu, tentang hal lain. Aku hanya khawatir banyak hal lain yang seharusnya aku urus, tapi malah tak tersentuh hanya karena berharap orang yang dimaksud bisa maju. Aku hanya takut, semakin lama aku ada, semakin tinggi aku berharap dia bisa semakin baik, semakin besar kecewa yang aku rasa kalau dia masih tetap sama. Lalu, apa kabar hatiku? Sudah seberapa banyak debu yang singgah disana? Masih mampukah ia merefleksikan cahaya yang datang?
Aku hanya khawatir jika ia tak kunjung jadi baik, maka hatiku yang pasti akan semakin mengeruh.

Dan lagi-lagi, mungkin aku memang hanya perlu menyimpannya sendiri. mendiamkannya, mengendapkannya, dan menghilang sejenak.
Allah... bolehkah aku hijrah?
menjarak sesaat? entah seberapa saat... sampai waktu dimana aku siap untuk kembali.
sungguh, semakin lama aku semakin ingin menghilang. entah untuk berapa saat.
semoga saat aku kembali, ada suatu kebaikan yang bertambah. ada sesuatu yang berkembang.

Tapi sisi hati yang lain merasa malu.
Bukankah Rasul mendapat cobaan yang lebih berat? Batu itu ya Allah.. batu yang dilemparkan saat ia pertama kali datang ke Madinah... mana mungkin itu tak sakit. Aku yakin itu lebih dari sakitnya pengorbanan satu arah yang saat ini aku lakukan.

Aku ingin sabar ya Allah...
ingin lebih kuat lagi...
tapi bagaimana membuat orang lain maju, sementara orang yang dimaksud tak siap dikritisi? Tak siap berubah meski dikritisi?

Kadang, aku merasa percuma mendoakannya sampai menangis. merasa percuma dengan segala yang aku lakukan. 
Iyakah, aku hanya bisa menunjukkan pada-Mu bahwa aku adalah manusia yang memiliki serendah-rendahnya iman? yang apabila terdapat kemungkaran di hadapannya ia hanya mampu berdoa. Lalu, apa nanti harapanku masuk syurga juga hanya sekedar doa? Apa aku mampu memasuki surga-Mu dengan pantas kalau aku tak mampu melakukan apa-apa?

ya Rasul...
aku mau jadi kuat... aku mau mampu...

ya Allah...
tetap jaga hati ini pada kejernihannya. tetap jaga hati mereka semua dengan kejernihannya. dan bantu kami membersihkannya setiap kali ada debu yang menempel, sebelum hati kami benar-benar pekat.