Selasa, 09 Oktober 2012

Paused

"Berhenti sejenak"
Berkali-kali terfikir tentang ini. Saat segalanya mulai tak sejalan dengan perkiraan. Berat. Memang.
Lalu saat kejenuhan itu rasanya mulai tak tertampung lagi, seperti gelas yang terus menerus diisi air, semakin lama ia akan kelebihan muatan. Lalu?
Ya, tumpah...

Rasanya ingin berhenti sejenak. Gelasnya terasa begitu keruh. Terisi dengan berbagai hal yang menghijab cahaya. Ya, pekat..
Namun, seringkali Sang Pengamat tak sejalan dengan apa yang kita mau. Yang melihat dari ketinggian tentu saja tahu bahkan kepada detil yang tak dapat kita lihat. Saat itu, tiba-tiba tersadar bahwa manusia begitu kecil. Terlalu kecil untuk tahu gambaran keseluruhan jalan hidup ini. Terlalu kecil untuk dapat melihat apa yang ada di balik gunung besar masalah yang saat ini terpancang di depan kita. Tapi Allah yang berada pada ketinggian, pasti mampu melihat apa yang dihijabi gunung besar itu. Maka Ia bisa memberi kita sesuatu yang dapat membantu kita. Meski, akan ada lebih banyak energi yang dibutuhkan. Akan lebih banyak waktu yang dikorbankan.

Berhenti sejenak.
Dan mengembalikan diri ke zona nyaman?
Tak jarang nasihat itu datang, "Lalu, setelah kamu berhenti, apa kamu yakin akan dapat kembali lagi, dan menjadi lebih baik?"

Lalu Allah "memaksa" gelas itu untuk dapat menampung lebih banyak air. Menuangkan banyak kesibukan alih-alih membuat kita berhenti bergerak. Tapi "air rabbani" pastilah jernih. jadi, kita hanya perlu terus maju, dan membiarkan Allah menuangkan lebih banyak air jernih ke gelas kita yang keruh. Suatu hari, air keruh itu akan menjernih perlahan. 

Belajar, tak harus mengulang segalanya dari awal. Tak harus berhenti untuk mengkaji. Kita bisa belajar sambil mengajar. Bisa membaca sambil berjalan.
Satu hal yang pasti....
Saat segalanya terasa berat, kembalikan lagi segalanya kepada Pemiliknya.

Ganbatte ne~~