Sabtu, 08 Desember 2012

Catatan Satu per Tiga


Hai kamu yang disana! Apa kabarnya? Masih bisa dengar suaraku? Masih bisa lihat aku?
Malam menurunkan tirai kegelapan, asal tahu kamu ada itu sungguh lebih dari cukup untuk membuatku tidur dengan nyenyak.

Ssshh... diamlah. Ada anak kecil bermain di bawah tetes ratusan air. Wajahnya sumringah. Hahha, aku sedikit cemburu. Seiring usia yang bertambah, seperti memasukkan koin ke celengan ayam yang kita taruh di pojok ruangan. Semakin lama semakin berat. Hilang cara bahagia karena hal-hal sederhana.


Ada orang yang datang, ia mengajariku untuk menjadi dewasa tanpa kehilangan senyum sederhana. Ketulusan. Katanya, jangan pernah lupa kebahagiaan kecil yang datang. Sesederhana apapun itu, cobalah tetap tersenyum, hingga akhirnya terbiasa. Dan debu-debu yang datang akan hilang dengan sendirinya. Biar hati tak keruh. Biar memori otak yang terbatas ini tak keruh.

Lalu datang lagi manusia lain. Katanya tak cukup dengan belajar bahagia. Coba datang sesekali ke "muara"mu. Laut biru yang terhampar luas sejauh mata memandang. Samudera yang tak pernah habis meski coba kau kuras sampai menggila. Hulu yang tak pernah jemu menjadi tempat kembali. Tuhanmu. Katanya. Sesekali datang saja. Saat gelap mulai merajai, saat penat tak terelak. Datang saja, dan katakan kerinduanmu, dan katakan semua masalahmu. Ia tak pernah kehabisan energi untuk diberi. Ia tak pernah hilang sabar untuk mendengar.Datang saja sejenak, hati yang tak bisa diam, pasti takluk pada yang menciptakan. Sesekali, atau setiap saat pun tak apa. Biar segala gundah menguap, biar segala lelah terganti, biar sang hati bertemu penciptanya sejenak.