Selasa, 18 Desember 2012

Melepas Batas



Tanpa terasa ini sudah tahun keempat sejak aku menetapkan batasan itu : 
"Enggan menjadi dewasa. Enggan kehilangan sifat kekanakan"
Mungkin aneh, kebiasaan mengamati orang lain membuatku memutuskan untuk membuat batasan itu. Karena setiap orang yang memutuskan untuk "Menjadi dewasa" selalu terlihat berat. Selalu terlihat seakan langit di bebankan ke pundaknya sendiri. Terlihat seakan-akan hanya ada satu pundak yang mampu menjaga bumi tetap pada porosnya. Selalu terlihat lelah, temperamen, dan hilang senyum. Okelah, kalaupun ada seringkali senyumnya terasa kosong. Formalitas. Dan hal seperti itu benar-benar tak sedap dipandang mata. Dan terasa menggangu siklus kehidupan, menyerap segala keceriaan yang ada. Dan itu benar-benar menyebalkan.
Mereka yang memutuskan men-Dewasa selalu datang dengan idealisme-nya sendiri. Merasa paling benar, dan seakan ingin membenahi semuanya. Menunjuk, mengarahkan, dan terkadang menghapus gelak yang sebelumnya tersebar begitu bebas di atmosfer. 

"Menjadi dewasa" tampak seakan memutuskan untuk membuang segala kecerian masa kanak-kanak. Mengganti pertimbangan polos kekanakan dengan estimasi-estimasi yang terasa begitu pelik. Menganggap bahwa hiburan sekecil apapun adalah sia-sia dan duduk terpekur dengan data, rencana, evaluasi, dan konsep yang menguntai sepanjang waktu sebagai hal yang paling utama.
"Menjadi dewasa" adalah duduk tegap di singgasana baru sebagai pembenah. Dan ketika kesalahan itu hadir segala bentuk evaluasi harus dibenahi. Dan segala kepenatannya itu terpancar jelas di wajahnya. Orang-orang yang memutuskan untuk menjadi dewasa tiba-tiba merasa penting dan enggan diganggu dengan hal menyenangkan.

Lalu...
Aku memutuskan enggan maju, enggan men-dewasa. Jika dewasa adalah membuang sepenuhnya segala kesenangan. Jika dewasa adalah kehilangan mimpi-mimpi dan celotehan sederhana yang kadang bermakna. Jika dewasa adalah menyepi, dengan pikiran yang selalu kalut dengan hal-hal pelik. Jika dewasa adalah kehilangan senyum dan menambah kerut di dahi.

"Aku akan tetap jadi anak-anak. Kecuali aku memiliki alasan kuat untuk men-dewasa tanpa kehilangan senyum, kesenangan, dan pikiran sederhana para bocah"

"Aku tak akan berhenti senyum. Aku tak akan menunjukkan kepenatan pada orang yang tak tahu. Aku tak akan mengeluh untuk hal yang kupilih, kecuali pada mereka yang bisa mendengar. Aku tak akan berubah, kecuali mereka telah mampu menerima aku yang berubah. Aku akan tetap tahu caranya bersenang-senang dan menemukan kesenangan bahkan dalam kondisi paling penat sekalipun. Aku akan terus belajar melihat kebaikan sehingga senyum di hati dan rasa syukur tak akan hilang, sehingga aku tak pernah menyalahkan IA yang telah menyusun naskah hidupku. Sehingga setan tak akan menemukan celah untuk membuatku menggugat-NYA. Aku akan maju, tanpa kehilangan sisi kekanakan. Aku mau dewasa, selama kedewasaan tak menjulurkan jerujinya ke hidupku."

Berkali-kali kugaungkan itu dalam hati. Meski ragu sebab aku belum menemukan orang yang mampu menghapus penat dari wajahnya.

Allah tak pernah mengangkat tangan dari hamba yang percaya. Allah tak pernah mengangkat tangan dari hamba yang selalu ingin dituntun. Allah tak pernah mengangkat tangan dari hamba yang meminta.

Maka berbulan lalu, perlahan satu per satu manusia yang membuatku berfikir bermunculan. Aku tak pernah mau tahu mendetail tentang dimana saja mereka ada. Tahu mereka memegang banyak hal dan tak kehilangan cahaya di wajahnya saja itu sudah lebih dari cukup. Maka perlahan aku mulai membuang satu-satu batasan itu. Belajar setapak demi setapak untuk bisa mencapai tempat yang lebih tinggi lagi. Berjalan setapak demi setapak untuk dapat menjunjung mimpi yang kian hari kian terasa dekat.
Jalan ini masih jauh dari akhir. Ada waktu aku merasa aku berjalan dengan tempo yang lebih cepat dari biasanya. Ada waktu juga dimana aku merasa masih ada yang kurang. Masih ada bekal yang belum tercukupi. Masih ada ruang kosong di ransel kehidupan yang tengah kubawa. Merasa masih terlalu banyak waktu kosong. Masih terlalu banyak energi yang belum terpakai. Aku belajar untuk dapat berlari, lebih cepat dan lebih cepat lagi. Kadang ada waktu yang terasa menyesakkan ketika aku merasa masih banyak yang harus kuperbaiki, masih banyak bekal yang belum kubawa, dan tak ada orang yang bisa memberi tahu apa yang kurang. 

Tapi bagaimanapun itu, kita tetap tak sempurna. Begitupun orang lain. Pemakluman itu harus tetap ada. Senyum itu tak boleh hilang. Prasangka baik harus tetap terjaga. Dan penat tak boleh terlihat.
Kita punya tempo. Orang lain juga punya tempo. Tak perlu saling menunggu. Berlari sekuat yang kita bisa. Sambil sesekali menoleh agar kita tak saling hilang. Agar kita tak saling kecewa. Agar tak seorangpun merasa diabaikan. Agar tak seorangpun merasa dilupakan. Agar tak seorangpun merasa sendirian. Temukan hikmah sebanyak yang kita mampu. Simpan, kembangkan, bagikan.

Aku mencintai jalan ini. Dengan kecintaan yang bahkan sulit untuk kuungkapkan. Karena itulah, aku tak ingin kehilangan senyum. Aku tak ingin kehilangan rasa dalam menikmati setiap prosesnya, tak ingin kehilangan bahagia dalam menikmati setiap tapaknya.