Rabu, 27 Februari 2013

Kuat Tak Berarti Sendiri

Sempat terfikir bahwa orang lain cukup tahu hasilnya. Dan biar Allah yang tahu prosesnya. Sempat terfikir, manusia cukup tahu apa yang mereka lihat, dan di belakang atau di dalamnya, biar hanya rahasia. Sempat terfikir, orang lain hanya perlu tahu kita sampai. Entah lebih dulu, tepat waktu, atau terlambat. Mereka tak perlu tahu tentang jalan pintas yang ditemukan, tentang jurang yang menghadang, atau sekedar luka yang didapat karena terjatuh. Orang lain cukup tahu bahwa kita telah sampai, tanpa perlu tahu apa yang telah lewat.

Tapi lantas, ternyata perlu juga, berbagi sedikit tentang apa yang melambatkan langkah. Tapi lantas, ternyata perlu juga, mencari orang lain untuk memegang lilin di jalan panjang yang berkabut ini.

Sesekali memang akan ada persimpangan yang hadir. Ada saat dimana perlu seseorang untuk bertanya "mesti kemana?", meskipun pilihan akhir ada di tangan kita sendiri. Kadang ada saatnya dimana ada kubangan yang muncul entah darimana, lalu kita jatuh, terseok, dan kotor. Ada saatnya orang lain juga perlu tahu kalau kita butuh uluran tangan. 

Hari ini aku belajar bahwa kuat tak berarti tulang rusukmu harus tegak. Bahwa kuat tak berarti matamu menatap matahari tengah hari tanpa berkedip. Bahwa kuat tak berarti menepis semua yang datang dan senantiasa berjalan lurus ke depan. Bahwa kuat tak berarti kamu mampu bernafas dalam air. Bahwa kuat tak berarti kamu harus melesak ke tanah, lalu muncul lagi tanpa bantuan siapapun.

Jalan ini memang kita yang memilih sendiri. Entah kita yang memilih sejak awal, entah orang lain yang memilihkan, tetap saja saat tapak pertama kita di jalan ini menjejak, itu artinya kita memilih untuk melewatinya. Kadang pasti muncul ranting tak terduga asalnya, atau gas airmata, atau bahkan buaya dengan moncong menganga. Lalu kenapa? Sejak kita memutuskan untuk melangkah itu artinya kita memutuskan untuk menghadapi semuanya. Bukan berarti kamu harus selalu tampak kuat dimanapun. Tapi ada saatnya. Ya, ada saatnya kamu boleh meluapkan semuanya. Dengan caramu sendiri. Di tempat kamu sendiri. Atau kepada seseorang yang sanggup untuk menerima luapanmu. Sebut saja semuanya "Ruang Cerita", entah ruang dengar seseorang, entah suatu tempat pribadimu. Luapkan semuanya di Ruang Ceritamu... Setelah itu, pulihkan semuanya!
Keluar dari Ruang Ceritamu dengan punggung lebih tegap. Dengan senyum lebih terkembang, Dengan kata yang lebih tertata. Keluar dari Ruang Ceritamu sebagai "Kamu yang Biasanya", sebagai "Kamu yang Sempurna".

Sebab perjuangan itu butuh kekuatan. Dan kekuatanmu tak hanya berasal dari kamu. Jangan terlalu lama berjuang sendiri. Bangunan yang ditopang satu tiang akan lebih cepat runtuh dari bangunan yang memiliki banyak tiang.

Orang lain juga butuh tahu apa yang terjadi dalam perjalananmu. Mungkin mereka bisa mengangkatmu dari lumpur hisap yang menarikmu ke dalam bumi. Atau mereka bisa datang dan mengusir singa yang mengintaimu. Sebab kamu bukan satu-satunya manusia yang berjuang di tempat ini. Maka tegakkan kepalamu dan kembangkan senyummu!