Kamis, 11 April 2013

Unggas Kecil dan Metamorfosa Bintang

Kali ini aku mau cerita tentang orang yang selalu aku lihat sebagai bintang. Mereka mengerjap. Sejak lama, seakan memang terlahir untuk jadi bintang. Sinarnya saat ini memang kecil jika dibandingkan cahaya yang aku lihat akan lahir dari mereka bertahun-tahun lagi dari sekarang. 

Entah kenapa aku selalu percaya bahwa orang lain mampu untuk menjadi seseorang yang luar biasa. Mereka punya "cahaya" dalam dirinya yang menunggu untuk terluapkan. Mereka "bintang kecil", yang bertahun lagi dari saat ini akan bermetamorfosa jadi "matahari".

Mereka itu orang-orang yang terlihat bersinar di mata kecilku. Seakan dunia meng-amin-i setiap tapaknya. Orang yang mampu mengatur banyak hal. Bersinar perlahan dan semakin terang setiap harinya. Tapaknya semakin tinggi setiap harinya. Mungkin jika suatu hari mereka muncul di tempat yang "jauh" pun, bukan hal yang mustahil.

Kadang, ada saat dimana aku merasa jadi unggas kecil. Terbang perlahan untuk menyapa langit. Semakin tinggi mendekati langit. Tapi langkahku pelan. Atau mungkin aku yang tak menyadari bahwa aku juga punya potensi?

Kadang, ada saat dimana aku merasa mampu melakukan segala hal sendiri. Unggas kecil itu merasa, semakin kuat ia mengepakkan sayapnya, akan semakin tinggi jarak terbangnya. Akan semakin dekat ia dengan langit. Semakin dekat ia dengan bintang kecil, dengan matahari. 

Tapi, di saat yang sama ada perasaan yang terselap. Memblokir segala optimis yang unggas kecil bangun. Tak semua hal mampu ia lakukan. Tak mesti ia harus mampu melakukan segalanya. Lalu unggas kecil itu belajar menutup mata. Bertanya pada dirinya, apa yang paling mampu ia lakukan?
Ada memang. Barang satu atau dua. Hal sederhana. Tapi unggas kecil merasa tak akan cukup untuk mengimbagi bintang kecil. "Masih jauh", batinnya.

Matahari itu tegap, tegas, dan bersinar. Ada kalanya unggas kecil itu juga ingin menjadi matahari. Tegap, tegas, dan bersinar. Juga dapat diandalkan. Unggas kecil itu seringkali hanya ingin mampu berguna buat sebanyak-banyaknya makhluk yang bisa ia temui. Tapi unggas kecil mungkin tak pernah mengungkapnya, atau kalaupun pernah hanya kepada dirinya sendiri. Unggas kecil ingin terbang, tinggi....sekali. Juga cepat. Agar ia bisa melihat banyak hal dan datang dengan sigap. Tapi itu hanya dalam ruang batinnya. "Masih jauh," batinnya lagi.

Ada kalanya unggas kecil merasa bingung. Ia hanya ingin membantu, tapi tak pernah tepat sasaran. Beberapa bilang unggas kecil terlalu baik, terlalu berlebihan. Ya, unggas kecil memang belum sematang bintang kecil dalam membaca situasi. Jadi, berkali ia menahan diri dan mengambil waktu untuk mengamati, lalu berjalan perlahan. Seperti anak kecil yang belajar berlari. Ia tahu langkahnya lambat. Dan pada saat itu mungkin bintang kecil sudah semakin bersinar, metamorfosanya semakin mendekati akhir.

Ada hal yang unggas kecil khawatirkan. Bintang kecil yang berubah jadi matahari dan unggas kecil masih tak kunjung terbang tinggi. Ada hal yang tak kan mampu ia lakukan dari tempat yang rendah, karena itu unggas kecil ingin terbang tinggi. Tinggi....sekali. Hingga ia mampu melihat apa yang tak terlihat dari bawah.

Ada hal yang unggas kecil khawatirkan. Bintang kecil berubah jadi matahari dan unggas kecil masih berada di bumi. Lalu bumi berputar, malam datang, dan unggas kecil kehilangan matahari yang tengah memberi di sisi lain bumi. Unggas kecil ingin terbang jauh. Jauh...sekali. Hingga jarak tak lagi jadi pembatas.

Unggas kecil hanya ingin mampu memberi sebanyaknya. Meski kadang ia tak tahu seberapa banyak yang mesti diberi. Unggas kecil hanya ingin mampu memberi sebanyaknya. Meski kadang ia tak tahu bagaimana caranya. Unggas kecil hanya ingin mampu memberi sebanyaknya. Meski kadang ia tak tahu apa yang ia punya.

Kadang, unggas kecil ingin jadi matahari. Tapi berkali ia tahu diri, ia bukan bintang. Meski berkali pula ia tak peduli. Ia mau jadi matahari. Tapi ia tak tahu sinar macam apa yang bisa ia berikan pada bumi kalau ia jadi matahari. Unggas kecil mau tumbuh, mau berkembang, mau bersinar. Tapi ia butuh sesuatu...yang tak pernah bisa ia katakan. Jadi, diam-diam ia mencarinya sendiri. Meski berkali pula ia ragu. Mampukah?