Rabu, 15 Mei 2013

Di Balik Kaca

Berwaktu lalu, gue pernah memutuskan buat "berhenti dewasa" dan "keep thinking like a child".
Kenapa? Sementara banyak orang ingin cepat dewasa gue malah nahan langkah gue tetep di tempat.
Sebenernya alasan gue ga ribet. Gue cuma mau tetep "bahagia". Gue pengen tetep bisa nikmatin hidup. Gue pengen bahagia dengan alasan yang ga perlu banyak, gue pengen bisa ketawa cuma karena hal yang sangat sangat sangat sederhana.
Ciap burung, semilir angin, matahari sore, pecahan butir hujan di atas tanah. Gue pengen bisa bahagia karena itu semua. 
Gue ngeliat anak kecil itu sederhana. Mereka ribut, nangis, marah. Tapi sedetik kemudian mereka bisa ketawa terpingkal-pingkal. Mereka bisa kesel, ngadu, berantem, tapi sedetik kemudian mereka bisa bantu orang yang bikin mereka kesel. Mereka bisa dengan ringannya jalan di atas pagar tinggi, jatuh ke tanah, tapi menganggap mereka terbang. Mereka melihat tumpahan oli di genangan air, tapi yang mereka anggap, itu potongan pelangi yang jatuh ke bumi.

Saat itu, gue ngeliat orang yang beranjak dewasa justru sebaliknya. Seringkali tak bahagia, dan menularkan rasa itu ke sekitarnya. Menyimpan lama suatu hal dan sulit bahagia karena hal sederhana. Terlalu banyak berfikir dan mempertimbangkan sesuatu. Tapi sedikit sekali tersenyum tulus dan membangun dunianya sendiri.

Tapi lantas. Ada waktu dimana gue pernah berdoa supaya jadi kuat. Lalu banyak hal datang. Dinding kekanakan yang gue bangun, pelangi-pelangi kaca yang gue lukis di sekitarnya mulai luntur. Langit yang tak sebiru di taman fantasi mulai tampak. Tapi ternyata, selama ini gue terlalu banyak melihat tanah dan tak menyadari dinding yang semakin luntur itu. Hingga saat gue menarik nafas, pelangi kaca telah hilang, dan yang ada hanyalah langit yang kelam, juga cermin besar di hadapan. Tapi orang di depan cermin itu benar-benar ga gue kenali. Tampangnya terlalu menyebalkan. Gue acuh. Tapi saat gue menoleh untuk kedua kalinya, gue sadar. Hey! ITU GUE!

Jadi, ayo kita reset ulang semuanya! Bukan berarti gue mesti berhenti. Tapi kotak fantasi gue yang harus gue perkecil. Sebesar kotak harta di pojok kamar saat kecil dulu. Simpan semua hal berharga dan yang menjadi cerita antara gue dan diri gue di dalamnya. Lalu bungkus, dan hias secantik mungkin.
Kita buat kotak baru. Tak terlalu besar hingga mampu mengisolasi gue dari dunia fakta. Tapi juga tak terlalu kecil agar sekali waktu gue bisa menenggelamkan diri ke dalamnya. Mengukir sedikit fantasi agar setidaknya bisa menghadapi yang lain dengan hati penuh. Kemudian gue bisa menatap langit lagi dengan tegak.

Sebab gue, ga akan kalah dari apapun!
Jadi cepat kembali, dan bersinar lagi!