Jumat, 26 Juli 2013

Sesederhana Ego

Husnudzon. Katanya ini hal paling memdasar dalam sesuatu yang kita sebut "ukhuwah".
Tapi, hal yang paling mendasar justru bisa jadi hal yang paling sulit dilakukan. Mungkin karena itu pula hal tersebut menjadi dasar.

"Undzur maa qoola, wa laa tandzur man qoola"
Ini hal yang lain lagi.
"Lihat apa yg dikatakan, bukan lihat siapa yang mengatakan"
Terdengar sederhana. Tapi sesederhana itukah?

Manusia itu terlahir egois. Tak perlu ditepis kalau memang tak mampu. Kenapa tak coba saja jadi oportunis?
Kalau husnudzon dirasa berat, bukannya suudzon pun membuat pepat? Buat apa habiskan energi buat sesuatu yang hasilnya nol, bahkan minus bisa jadi. Rugi saja.

Buang saja semua wajah yang bicara. Saring biar hanya terdengar suaranya. Buat apa memenuhi memori dengan data berat?
Atau tak peduli siapa, anggap saja semua suara datang dari orang yang baru dikenal satu menit lalu. Pembicaraan jangan sampai berujung rugi. Meski satu, temukan saja kalimat berguna. Kalau tak ada, buat saja. Simpulkan sendiri yang mau kamu simpulkan.

Aah manusia...
Seringkali terjebak memori masa lalu. Milik sendiri, dan seringkali milik orang lain pula.