Selasa, 13 Agustus 2013

Untuk Apa Hidup?

"Untuk apa aku ada?" Gumamku malam itu.

Anak kecil berlarian di pekarangan ibukota. Tak peduli meski ratusan mobil hilir mudik tanpa jeda. Seakan seluruh lahan ibukota adalah pekarangan rumahnya.

Sejenak aku melangitkan pandang. Teringat orang-orang yang bak raja duduk di singgasananya. Seakan dunia berputar karena dirinya. Mengeluarkan titah, yang biasa kita dengar sebagai "kebijakan".

Mobil yang kutumpangi masih terus berjalan. Mataku tertambat ke sebuah plang yayasan. Teringat sekumpulan orang dengan idealisme melangit. Dengan program segudang. Waktunya telah didedikasikan untuk berbakti, bagi masyarakat. Katanya. Dengan jas almamater dan argumen cerdas, juga senyum penuh wibawa.

Aku telah sampai di rumah. Rak-rak berjajar, buku-buku berbaris rapi di dalamnya. Terbayang wajah seseorang. Dengan buku, visinya terwariskan, jutaan orang berlomba menyusun citanya. Visinya melampaui batas negara. Mereka bilang, seorang mujaddid akan datang per 100 tahun.

Bayi kecil di rumah telah tertidur. Ia lahir dengan cerita luar biasa. Dibanding usianya, pendengarannya masih jua belum sempurna benar. Jadi apa dia 30 tahun dari sekarang?

Cermin seukuran tubuh tergantung di dinding. Seakan menantang, "berapa umurmu? Untuk apa kamu ada?"

Setiap orang lahir dengan pesan hidupnya. Untuk apa, untuk siapa? Tak pernah ada yang tertakdir menjadi sia-sia. Tapi tak pernah ada yang mau hidup dalam batas.

Lalu... perlahan aku menggumam, "apa takdirku? Seluas apa lahan pahala yang bisa kugarap"
Lirih berharap, "kumohon Allah... luaskan lahannya, kuatkan diriku. Jangan persempit... jangan persempit... sesungguhnya segala kekuatan berasal dàri-Mu, segala takdir ada di tangan-Mu. Jangan persempit... jangan persempit... dan jadikan aku orang yang mampu"