Minggu, 29 Desember 2013

Rendang

Kadang, untuk mendapatkan sesuatu yang kita mau, kita mesti bertahan di tempat yang tak kita nyamani.

Hei, selamat sore Kinara. Percikan hujan sore ini seperti melarutkan sampah hati yang mengendap. Agak ringan rasanya..

Ini hari yang penuh, Kinar...
Akhir dari sesuatu, berarti mula bagi sesuatu yang lain. Tongkat estafet telah dipergilirkan. Tapi lomba ini bukan tentang siapa yang paling CEPAT mencapai finish. Tapi tentang seberapa JAUH pencapaiannya. Ini tentang kualitas kita, bukan sekedar kuantitas masa.

Hei, Kinar...
Aku percaya tentang garis takdir. Bahwa Allah membawa kita ke tempat yang terbaik menurutNYA. Melalui jalan yang paling tepat menurutNYA. Lalu, bukankah tak masalah jika sekali waktu kita diletakkan di tempat yang kita tak mau. Karena bukankah boleh jadi apa yang kita anggap baik belum tentu baik menurutNYA? Pun sebaliknya...

Tapi tak lantas ini pembenaran bagi kita untuk diam, dan menyerahkan "semuanya" pada yang lain. Ungkapkan dengan cara apapun yang kita mampu. Bicara. Kalau toh tak bisa dengan cara yang lainnya.
Setiap kita punya hak memilih kan? Kalau sudah memilih dengan baik, menyampaikan, dan hasilnya berbeda.... mungkin Allah tengah persiapkan sesuatu buat kita.

Hei Kinara, kamu tahu rendang?
Masakan olahan dari daging yang biasa di warung padang.
Coba tentukan siapa tokoh utamanya. Dagingnya atau rempahnya?

Mungkin akan ada satu waktu, kita menganggap daging adalah tokoh utamanya. Lalu kita bersiap, memilih, dan menyampaikan bahwa kita ingin menjadi daging dalam masakan rendang. Namun keputusannya kita menjadi rempah atau bumbu, lalu kenapa?
toh rendang tanpa rempah tak akan jadi rendang.
Bahkan meskipun, meskipun kita hanya sejumput garam, hal ini sungguh memiliki peran, sungguh membuat perbedaan.
Namun hanya bila, hanya bila kita memberikan yang terbaik dalam peran kita. Menjadi daging terbaik, rempah terbaik, bahkan garam terbaik yang pernah ada.