Senin, 13 Januari 2014

Karakter

Kinara, akhir-akhir ini banyak orang yang begitu seringnya menggunakan golongan darah dan empat karakter utama untuk mengenal orang lain. Kau tahu kan? Tentang bagaimana kita mengira karakter seseorang dari golongan darah yang ia punya. Apakah A,B,O, atau yang paling langka dan aneh, AB. Lalu mengklasifikasi orang ke dalam empat karakter utama, sanguinis periang, melankolis sempurna, plegmatis damai, dan koleris kuat.

Hemm...
Entah kenapa aku mulai bosan, Kinar. Hidup jadi terasa sedikit terkotakkan. Pada awalnya aku juga menyenangi hal tersebut. Meraba seseorang sebelum sempurna mengenalnya. Agak menyenangkan. Setidaknya cukup membantu bagiku yang agak sulit berkomunikasi. Hahha...

Tapi belakangan, dua parameter itu seakan cukup untuk mengenal seseorang seutuhnya. Hanya dengan mengetahui golongan darah dan karakternya, lantas merasa telah sempurna tahu bagaimana sifat seseorang. Itu membosankan. Mengetahui seseorang, agaknya tidak sesederhana itu. Sebab bagaimanapun, semakin kita mengenal seseorang, semakin kita tahu bahwa banyak dari dirinya yang belum kita tahu. Maka sesuatu yang lebih kuat dari ikatan persaudaraan bisa benar-benar terasa, mengena, dan berkesan. Dua hal tersebut bagiku, murni untuk membantu bersikap di kesan pertama. Dan selanjutnya, komunikasi, waktu bersama, diskusi dan tukar pikiran, serta interaksi yang semakin banyak akan membawa kita ke kesimpulan yang tidak sesederhana itu. Namun, semakin kesini, aku melihat banyak orang rasa-rasanya menjadikan hal itu seperti titel yang melekat selamanya dalam seseorang. Hal ini jadi tidak menarik lagi, Kinar...

Belajar mengenal. Bagaimanapun seperti merangkai potongan puzzle menjadi gambar utuh. Kita boleh mulai dari sudut atau tepinya, sekedar untuk mempermudah proses perangkaian. Lalu, setelah itu, mulai darimanapun akan sama saja. Dan setiap paket puzzle tentu saja memiliki gambaran yang berbeda. Manusia tersusun dari kode genetik yang unik, fingerprint, katanya dalam sebuah kuliah. Hal yang menjadikan setiap individu itu unik. Berbeda satu dengan lainnya. Maka ketika kita hanya menilik seseorang dari dua hal tersebut, segalanya malah jadi tampak absurd dan tak logis. Perbandingan kombinasinya jadi terlalu sedikit dibandingkan dengan kombinasi yang sesungguhnya ada. Kalau kita hanya menilik seseorang dari dua hal tersebut, maka akan ada banyak manusia yang serupa. Ada sekian persen jumlah manusia dengan golongan darah A yang koleris. Ada sekian persen jumlah manusia dengan golongan darah B yang plegmatis. Jadi, dimana sisi unik yang dimiliki setiap orang?

Ah, Kinar...
Lalu setelah pengkotakkan, pikiran kita pun jadi sedikit tergugu. Seperti kutu loncat yang disimpan dalam sebuah kotak korek. Lompatannya merendah. Kita terjebak dalam mindset basi bahwa sang koleris seperti ini dan seperti ini. Bahwa sang melankolis seperti ini dan seperti ini. Maka sang sanguinis bagus menempati posisi ini atau ini. Bahwa sang plegmatis bagus sebagai ini dan ini. Lalu sebagiannya lagi mewajarkan diri. "Wajar lah saya begini, saya koleris tho?", "Wajar lah saya ga paham dia, karakter kita terlalu berbeda. Saya sanguinis, dia melankolis"

Ah, Kinar...
Kenapa tidak kita buang saja semuanya di saat kita telah memutuskan untuk saling mengenal yang lainnya. Mengenal seseorang seperti mencari jalan di kota yang baru. Hati-hati. Menikmati setiap prosesnya. Menjalani setiap langkahnya. Merangkai segalanya hingga jadi satu gambar utuh. Mungkin dengan begitu kita jadi lebih mudah menghargai seseorang, dan lebih mudah pula membantunya menuju kesempurnaan.