Selasa, 18 Februari 2014

100 Menit dalam Rahim Ular Besi

100 menit. Bahkan seringkali tak sampai 100 menit. Ini waktuku. Ada guncang kecil sesekali. Tapi tak pernah cukup mengganggu. Ini 100 menitku yang seringkali tak sampai sebulan sekali bisa kunikmati.
100 menitku dalam rahim ular besi.

Ada suara-suara absurd berirama. Ada guncang kecil yang melenakan. Tapi 100 menit ini sungguh cukup buat jadi cadangan energi hingga 3 bulan ke depan.
Dalam rahim ular besi, aku bebas bicara dalam baris kata yang jatuh lewat ujung jemari. Bebas pula berpikir tentang hari lalu, dan nanti. Jerat jahat yang membungkus akal sehat terurai perlahan di tempat ini. Bersama terbangnya rindu yang tak terbayar. Dan harap yang tak tergarap.

Juga bebas berpikir tentang kamu. Seseorang yang biasa kusebut Zeta. Kamu tak selalu muncul. Tapi sekali kamu tiba, seringkali rasanya cukup menepis ragu. Tentang apa saja. Tentang tempat berdiri yang tak kuharap. Tentang kesendirian yang belakangan mulai mengganggu. Tentang duga yang membuat bibir kelu.

Kamu tak bicara, hanya binar semangat yang hadir di matamu itu... rasanya meletupkan sesuatu yang mengempis di dalam sini.
Aku juga tak perlu bicara bagaimana sesekali aku mengharap kamu jatuh tak sengaja di retinaku. Tapi bagaimana? Aku juga telah berjanji tak membiarkan bayang imaji menguasai. Hanya khawatir dengan segala euforia yang biasanya hadir kemudian.
Jadi bagaimana? Biar Tuhan lagi yang menerima segala titip harap yang muncul malu-malu. Hingga nanti. Hingga nanti jika semuanya memang digariskan begitu adanya.