Senin, 03 Februari 2014

Bertahan

Sore Kinara,
Kampus beberapa hari ini begitu sepi. Wajarlah, ini hari libur, Kinar. Kehidupan seakan hanya ada di beberapa titik saja. Tadi aku berkeliling, mencari jalan ke lab tempatku penelitian. Jarak yang dekat terasa jauh ternyata, Kinar. Banyak pintu-pintu yang dikunci hari ini.
Kinar, Kinar.
Kau tahu, sepi seperti ini membuat bayang-bayang abstrak sering menyapa. Pun niat-niat yang juga tak seharusnya dipikirkan. Kinar, sepi seperti ini seringkali membuat rindu-rindu hadir tanpa permisi. Apalagi waktu senggang yang lumayan dengan kegiatan yang setiap hari namun tak banyak. Menahanku tetap di Kota Hujan.

Ini Kota Hujan, Kinar...
Dengan cuaca yang seringkali bersahabat dengan imaji. Simponi hujan yang berduet dengan romentisme alam seringkali membimbing harap melambung menuju apa yang biasanya tak mampir di waktu yang biasa.
Ini Kota Hujan, Kinar...
Dan hujan, seringkali mampu membimbing memori kita ke tempat-tempat penuh kenangan. Menggali memori kita ke sudut-sudut yang nyaris usang. Menjemput rindu akan beberapa kejadian. Hingga sesekali ada niatan untuk mengulang beberapa hal.

Lalu kenapa?Apa itu salah, Kinar? Berpikir itu manusiawi toh? Berharap juga hal yang biasa saja sebagai manusia. Tapi pertanyaannya sekarang kan tinggal apakah dilakukan atau diurungkan?
Allahpun tak memberi dosa buat setiap niat buruk yang terlintas, namun dosa itu baru ada ketika niat itu jadi dikerjakan. Bahkan Allah memberi balas pahala untuk setiap niat buruk yang diurungkan.
Kinar, mungkin memang sulit menahan sesuatu yang diniatkan. Apalagi kalau hal itu tampak menyenangkan, meskipun sejatinya sia-sia bahkan merugikan. Mungkin karena itu pula Allah memberinya harga seperti melakukan kebaikan.

Kinar, Kinar, Kinar...
Ada banyak hal berharga disini. Lingkungan yang kondusif, teman yang selalu ada, sahabat yang hampir seperti keluarga, dan segalanya. Syukur itu segalanya bukan? Dalam banyak cara, banyak ekspresi, banyak jalan. Maka bagaimana aku tak bersyukur tentang segala yang saat ini ada? Maka biarlah, niat itu kuurungkan. Semoga saja Allah dapat menghitungnya sebagai bentuk syukurku atas segala kondisi yang telah Allah gariskan ini. Aku hanya ingin belajar bersyukur, Kinar. Mempertaankan segalanya tetap dalam batas, tetap dalam koridor. Keinginan itu ya ada, niat juga sesekali tetap saja, tapi masalahnya sekarang kan tinggal dikerjakan atau diurungkan, semoga saja Allah selalu memberi kekuatan untukku bertahan.