Jumat, 14 Februari 2014

Menyerah (?)

Saat dua kebutuhan berpapasan, maka terkadang harus ada yang mengambil langkah mundur.

Kinara, pagi ini aku di kandang kuda, memandang kuda yang tengah sarapan. Ada kuda kecil, Kinar... yang waktu itu masih sekaki ibunya, sekarang sudah lebih besar. Tiba-tiba, aku ingin bisa berkuda, Kinar. Hahha..

Ohya, Kinara apa kabarnya?
Beberapa waktu aku bertahan buat tak bicara. Mencoba menyaring segalanya sejernih mungkin. Tapi tetap saja keruh. Hahha
Aku...lagi-lagi cemburu. Berkali-kali. Padahal aku pikir aku sudah berdamai dengan rasa-rasa itu. Hahha. Mungkin ada sesuatu yang kurang dariku ya Kinar?

Hei, Kinar...
ternyata memang selalu lebih mudah bicara denganmu. Apa mungkin... sudah waktunya aku menyerah ya, Kinar?
Menyerah untuk membiarkan oranglain mendengarku, menyerah untuk membiarkan oranglain meluruskan pikiranku.
Entah bagaimana, mungkin mereka kira aku sangat kuat atau sangat sabar untuk menunggu terlalu lama. Aku bosan, Kinar... tentang mengalah dan segalanya itu. Waktu telah diserap habis hingga tak ada lagi untukku. Yasudah, kita ciptakan saja waktu, tentangku dan Kinara. Saja.

Kinara....
Kalau suaraku tak terdengar, mungkin lebih baik aku hilang. Menghilangkan diri dalam kepadatan waktu yang tak kunjung usai. Biar semua pikir tak punya ruang lagi untuk hadir. Biar tak ada yang perlu disampaikan. Biar tak ada lagi kebutuhan akan kehadiran yang lainnya. Biar tak perlu lagi menunggu.

Kinar,
Rasanya waktu belum berdamai denganku. Di saat aku perlu jawaban, semuanya hilang. Beberapa waktu lalu, kepalaku penat dengan sesuatu. Aku terus mencoba tak bicara. Membiarkan segalanya menemukan muaranya sendiri. Tapi kepenatan itu bukannya berkurang malah bertambah. Hingga ada cemburu, lagi-lagi, memenuhi rongga. Aku tahu menyimpannya bukan hal baik. Lalu, aku minta seseorang sejenak menjadi tempat. Awalnya semua baik, tapi tepat saat aku baru akan memulai ceritanya, orang itu pergi. Apa ceritaku begitu membosankan? Atau ada begitu banyak keperluan? Tapi bagaimanapun, kenapa tidak dikatakan saja? Kalau memang siap, kalau memang masih tak ada waktu, kalau memang tak mau. Pada akhirnya, semua selalu tak ada saat memang dibutuhkan.

Pada akhirnya, tetap saja aku ingin seseorang datang

Aku lapar, Kinar. Masih ada waktu sebelum jam 9, mari sarapan.. :)