Minggu, 23 Maret 2014

Orang yang Luar Biasa

Halo, pagi Kinara...
Pagi ini hujan turun lagi menyapa kotanya. Ada dingin yang menelusup lewat sela. Ada janggal yang memaksa masuk. Kekosongan yang terlalu, seringkali membuat rasa sesak saat sesuatu ingin mengisinya. Pun kejadian malam tadi.

Kinar apa kabarnya?
Rasanya sudah lama sejak terakhir kali kita bertukar kata. Ada banyak cerita yang aku ingin kamu dengar.
Kinar apa kabarnya?
Ada beberapa tanya yang mau kusampaikan.
Tentang potongan rasa yang entah ego atau bukan. Tentang tanda tanya akan sesuatu yang bukan semestinya. Dan tentang ketenangan mengambil langkah di dua jalan yang entah sejalan, entah tidak.

Hei, Kinara...
Ditinggalkan dan meninggalkan adalah sesuatu yang secara rasa tak berbeda.
Kita merangkak menuju apa yang biasa disebut sebagai "dewasa".
Tapi tetap saja mungkin keputusan lama menjadi batas gerak kita. Bukan. Batas gerak saya.

Hei Kinara.
Bagaimana tentang sesuatu yang berharga. Seseorang yang berharga?
Tak banyak orang yang bisa kudengar. Tak banyak pula orang yang bisa kuingat lama. Tapi mereka yang meninggalkan bekas, tapi mereka yang luar biasa selalu memiliki orang yang lebih luar biasa baginya.
Pada akhirnya, jangankan menjadi berkas pelangi, prisma hujan sajapun kita tak mampu.
Sesuatu tentang ikhlas dan rela, mungkin seharusnya begitu. Setiap orang berdiri di ruangnya masing-masing. Jauh dari ruang lainnya. Jadi, bagaimana?
Setiap orang akan menguap. Mungkin kita hanya menguap sedikit lebih cepat dari yang lainnya....

Lalu dua hal lagi, mungkin akan kusampaikan lain kali.
Selamat pagi, Kinara. Selamat Hujan yang menghanyutkan pikir kita ke dalam bumi.