Minggu, 13 April 2014

Sepotong Bait Rindu


Pertemuan kita singkat saja, dan kelanjutan cerita yang juga hanya sekelebat. Tapi ada bayang yang hingga kini tetap jua bersikukuh untuk lekat.
Hei Zeta, apa titipku pada angin telah sampai ke telingamu?
Tentang bagaimana sekali waktu ada rindu yang melekat di satu-dua ruang pikir.

Tapi, kau tahu...
Allah begitu menyayangi kita. Sangat. Aku juga tak tahu bagaimana kisah ini akan berakhir. Entah dengan kamu atau yang lainnya. Tapi untuk jenak ini, mungkin Allah ingin agar kita menjaga ruang kita masing-masing dan memenuhinya dengan hal-hal yang jauh lebih berharga daripada sekedar pertemuan pelepas rindu.

Hei Zeta,
Apa kabarnya.
Belakangan ada waktu dimana aku takut sekali untuk bertemu. Hingga degup jantung yang begitu berirama mampu membuat semilir angin yang biasanya lekat di telinga terdengar begitu hampa. Kamu tahu bagaimana rasanya aku ingin membawa bantal, atau menyimpan jantungku di salah satu ruangan. Studio misalnya. Biar kamu tak bisa mendengar degupnya dan aku bisa menghadapimu dengan lebih tenang.
Kadang ada kalanya aku ingin membeli topeng kamen rider, hanya agar kamu tidak bisa melihat mukaku yang merah padam setiap kali melihat siluetmu dan cara berjalan yang hampir kuhafal.

Tapi Zeta,
Kamu tahu bagaimana Allah menyayangi kita? Dan seakan menunda setiap perjumpaan yang mungkin kita lakukan.
Kamu tahu bagaimana Allah menjaga kita? Dan seakan memberi batas perjumpaan meski kita berada di ruang yang sama.
Kamu tahu bagaimana Allah melindungi hati kita? Dan seakan membuat mata harus melihat ke arah yang berbeda meski kamu ada disana.

Jadi, Selamat malam, Zeta..
Dan seiring malam yang bergulir, semoga keberkahan sentiasa melimpah padamu, sebagaimana gemintang melimpah di langit malam.