Senin, 14 April 2014

Tapi Sisanya Tetap Sama

Malam ini langit syahdu membawakan kisah tentang kita
Mengalun dengan irama lambat malu-malu
Ada dawai celah ilalang dalam tempo satu-satu
Mengiringkan suara tentang kisah kita yang semakin menua

Kamu masih sama saja dengan pertama kali kita bertemu
Binar pagi yang tak pernah meredup dari saat itu
Kamu masih sama saja dengan perjumpaan kita pertama kali
Suara santun yang menggugurkan segala ragu

Lambat kupalingkan wajah ke arahmu
Ada sedikit guratan di tepi matamu saat ini
Tapi sisanya tetap sama :
Ada pancaran semangat juga hati yang hangat

Perlahan kita beranjak dari kursi rotan yang berderit
Menambah romansa malam yang kembali kita selesaikan berdua
Si kukuk, hadiah dari anak kita yang pertama, berkicau
Seakan menggodamu yang kini membungkus hangat telapak tanganku
Tanganmu tidak selembut pertama kali kita berjabat
Tapi sisanya tetap sama :
Kehangatan yang membuatku merasa terjaga


Angin mulai bertiup pelan
Sang ilalang mulai bergoyang lamat-lamat
Satu anak rambutku jatuh ke pelipis
Lembut kau rapikan ia kembali ke tempatnya
Kamu tidak setegap pertama kali kita menghabiskan waktu bersama
Tapi sisanya tetap sama :
Perhatian dan rasa cinta yang membuat segala ragu enggan menetap

Kamu semakin menua
Tapi sisanya tetap sama :
Rasa cinta dan kesetiaan yang telah kita nikmati sepanjang perjalanan ini
Akupun semakin menua
Tapi sisanya tetap sama :
Mata yang hanya memandang ke arahmu saja. Hati yang tak pernah alpa merasakan kehadiran dan rasamu.
Maka nikmat Tuhan yang mana yang mau ku-ingkari?