Jumat, 06 Juni 2014

Teman Makan

Selamat sore...
Perkuliahan kali ini berjalan sangat santai. Segala hal tentang bermain pura-pura seringkali menyenangkan. Ya, banyak dari kita lebih nyaman melihat tawa bahagia orang lain meski hanya pura-pura, daripada berempati terhadap apa yang sebenarnya terjadi.

Sore mengiring memori kita sejak mula. Meramu apa yang tlah kita jalani sejak pagi. Pagi....sekali. saat mentari masih malu-malu keluar dari dipannya.

Hei, apa menu sarapanmu pagi ini?
Masihkah sama seperti masa yang telah lamaaa sekali.
Sekantung pikiran yang minta diolah sehari ini. Rebusan semangat yang menggelegak. Dan secangkir harapan untuk hari yang kan dijalani.
Sarapanmu selalu luar biasa. Maka tak heran sehari ini kamu selalu menapak bumi dengan langkah mantap penuh arti.

Aku penikmat langkahmu. Pemerhati prosesmu. Pagimu selalu luar biasa. Begitu pula harimu.
Tapi aku penikmat proses, bukan hasil. Kamu boleh menjadi siapapun di muka dunia. Tapi jangan kenakan topengmu di hadapanku.
Saat sarapanmu telah habis terkonversi jadi energi, kamu boleh datang kapanpun, dan kita akan makan siang atau makan malam bersama. Agar asupan energimu tak pernah defisit di hadapan orang banyak. Agar semangatmu tak pernah pudar sepanjang hari.
Kamu hanya perlu datang padaku, dan aku akan mengisi penuh-penuh piring, mangkuk, dan gelas sarapanmu. Atau setidaknya, menemanimu mengisi semuanya.
Kamu hanya perlu tahu aku akan  selalu siap menjadi teman makanmu. Sebab aku penikmat proses dan segala likunya, bukan penikmat topeng bahagia yang pura-pura.

Selamat bergerak, dan jangan lupa untuk menikmati sarapanmu dengan baik.