Minggu, 01 Juni 2014

Ukhuwah (expired)

"Sahabat"
sebenarnya tak pernah punya cukup kesanggupan menyematkan kata ini di antara kita.
Bukan karena kamu yang tak pernah ada, tp sebaliknya. Karena kamu yang selalu sedia sementara pengorbananku tak pernah cukup sepadan.

Ikhlas. Dan ukhuwah islamiyah.
Dua nama yang beriring dan mudah disebut saat ini. Sebab kita masih siswa, meski ada sematan kata 'maha' di depannya. Sebab idealisme kita masih murni, belum terbentur realita. Maka mudah saja melakukan tadhhiyah dengan hati ikhlas. Maka mudah saja mengatasnamakan ukhuwah islamiyah dan merasa paling paham dengan konsep tersebut.

Tapi perjalanan kita tak selesai hanya sampai gerbang wisuda. Justru kehidupan baru akan dimulai ketika ijazah telah diterima. Saat idealisme terbentur realita. Tak hanya tentang ukhuwah, tapi segala di luar sana akan lebih menguji seluruhnya dari kita. Namun, biarkan aku bicara tentang ukhuwah saja di rangkai kata malam ini.

Kamu yang merasa sahabat. Kita yang merasa sahabat. Setidaknya untuk saat ini. Untuk masa yang akan tiba, 10 bahkan 20 tahun lagi dari saat ini apa kita akan tetap sama? Meski kita masih sama melingkar, apa keikhlasan kita dalam berkorban masih akan tetap sama.
Hidup begitu mudah di dalam sini. Dalam zona nyaman yang kita sebut kampus. Saat mudah saja merelakan segalanya untuk yang lainnya. Apa nanti akan tetap sama?
Saat mudah saja kita mengulurkan bantuan saat saudara kita kesulitan. Apa nanti akan tetap semudah ini?
Menerapkan itsar meski diri sendiri masih terlilit? Mencintai saudara meski urusan rumah telah menyita seluruh daya dan upaya? Masihkah kita 'satu tubuh'? Menyadari kesulitan saudara bahkan sebelum ia bicara, apalagi meminta.
Masihkah?

Atau kita hanya akan diam? Pura-pura tak melihat kesulitan oranglain, bahkan meski itu tetangga sebelah rumah, meski itu saudara satu lingkar cahaya.
Menutup mata. Membutakan hati.

Sahabat. Saudara. Atau apapun yang kita letakkan dalam bingkai 'ukhuwah', tak ditentukan dari bagaimana kita bersikap antar sesama saat ini. Tapi nanti. Ketika seluruh realita dan dinamika hidup tiba, masihkah kita mampu membantu saat diminta (kalaulah menyadari sebelum ia bicara terasa sulit luar biasa)?
Atau ukhuwah, hanya cerita masa muda. Pelengkap romantika perjalanan dakwah aktivis kampus, lalu pupus.
Atau bahkan... mungkin kitapun belum sepenuhnya memahami bagaimana 'ukhuwah', lalu bagaimana kita berani bicara bahwa ukhuwah ini takkan lekang dimakan usia?