Sabtu, 05 Juli 2014

Sama Rasa

"Rasa dalam hatimu masih saja awet?" Tanya seorang teman.

"Ngg... Sudah hampir 2 tahun sepertinya." Jawabku setengah menggumam. "Dan anehnya ia tetap ada, meski rasanya tipis...sekali. Baik 2 tahun lalu atau sekarang, ia tetap ada dengan kadar yang sama. Tak hilang, tapi juga tak mekar sempurna."

"Tentu saja. Sebab kalian berdua sama-sama berkembang. Sama-sama maju ke arah yang sama. Sama-sama masih satu jalan.
Tentu saja wajar kalau masih ada!" Tegasnya lagi.

"Hmm... sebab jika salah satu dari aku atau dia berhenti mungkin rasa itu akan kikis ya?" Aku mulai mengandai. "Jika dia yang berhenti, aku akan takut dia tak lagi sejalan. Jika aku yang berhenti, ia akan tampak jauh dan tak tergapai. Dan jika itu terjadi, maka aku akan belajar berhenti menyimpan rasa."

Temanku mengangguk.

"Hanya saja..." batinku, "hal terpentingnya bukan hanya itu. Pertanyaannya adalah... apakah aku dan dia juga sama rasa? Sebab meski kita sama jalan dan sama berkembang, tapi berbeda dalam hal rasa, maka segalanya usai."

Aku tersenyum tipis. Membiarkan segala gundah diterbang angin.
"Biar Allah yang menggores ceritanya, kita hanya bisa berharap, berusaha, dan belajar ikhlas terhadap apapun yang jadi ketentuan-Nya"