Senin, 11 Agustus 2014

Bicara

A : hei, aku kembali.
B : kemana?
A : ke kamu, tentu saja. Kamu kan yang sekarang ada di hadapanku. Siapa lagi?
B : untuk apa?
A : bicara.
B : tentang apa?
A : apapun, kamu mau berbicara?
B : tadi kau yang mau bicara, kenapa jadi aku?
A : hahha. Aku bosan mendengar suaraku. Jadi sekarang aku mau mendengarmu.
B : mendengarku?
A : ya.
B : tidak mungkin.
A : kenapa?
B : aku dan kamu adalah satu hal yang sama. Segalanya sama saat kita bicara.
A : tapi aku nyaman. Apa tak boleh?
B : boleh saja. Tapi....
A : ya?
B : kenapa harus aku?
A : tentu saja karena itu kamu.
B : bagaimana dengan yang lain? Apa kau tak punya tempat bicara yang lain?
A : ada.
B : lalu kenapa harus aku?
A : aku bicara pada mereka kok. Hanya saja... itu ketika aku memang siap. mereka... menakutkan.
B : bagaimana bisa? Memang aku tidak?
A : kamu jauh lebih menakutkan. Tapi dalam hal yang berbeda.
B : bedanya?
A : mereka selalu tampak baik. Itu menyeramkan.
B : mereka baik, lalu kenapa menyeramkan?
A : mereka baik, tapi mereka berfikir, lalu berprasangka. Mereka meng-iya-kan, tapi membantah dalam hati. Selain itu, aku mengganggu mereka.
B : darimana kau tahu?
A : aku merasa. Cara mereka menatap, gerak tubuh, dan segalanya.
B : kalau begitu kau sama dengan mereka.
A : bagian mananya?
B : berprasangka. Kau berprasangka pada mereka.
A : ya... mungkin.
B : lalu?
A : apalagi?
B : kenapa aku juga menyeramkan? Karena aku berprasangka?
A : tidak.
B : lalu?
A : kamu terlalu jujur, dan kadang menyakitkan. Kamu mengatakan sesuatu yang tak mau kukatakan pada diri sendiri. Kamu... terlalu tepat sasaran.
B : hahha. Lalu maumu apa?
A : biasa saja.
B : biasa? Bagaimana?
A : biasa saja seperti kamu adanya...
B : aku tak paham. Lalu kenapa kamu terus bicara padaku?
A : karena kamu tulus. Kamu tak berprasangka. Kamu mengatakan hal yang sama dengan yang kamu pikirkan. Meski kadang itu merepotkan. Kamu tak berpura-pura.
B : darimana kau tahu?
A : aku merasakannya.
B : itu tidak logis. Kenapa kau tidak mengatakan sesuatu yang sedikit logis. Seperti psikolog misalnya.
A : aku tidak tahu. Aku bukan psikolog, jadi aku tidak tahu. Aku hanya bisa merasa.
B : kamu terlalu absurd.
A : aku  tahu, karena itu aku tak banyak bicara begini ke orang lain.
B : ....
A : terimakasih
B : dengan alasan?
A : ya. Terimakasih untuk mendengar dan bersabar. Untuk selalu rela dan selalu ada. Untuk selalu mau jadi teman bicara.
B : kau bisa gila...
A : kenapa?
B : karena aku dan kamu adalah satu hal yang sama.
A : tenang saja, suatu hari akan ada seseorang di luar sana yang sama sepertimu.
B : kamu harus belajar menerima orang lain.
A : ya, aku belajar. Aku menerima mereka sejauh yang mereka mampu dalam menerimaku.
B : kau tahu, kau egois.
A : entahlah. Aku tidak paham tentang kata itu. Bisa kau jelaskan?
B : mungkin lain kali.
A : baiklah~