Minggu, 10 Agustus 2014

Rindu

A : aku merindukanmu
B : bagaimana mungkin?
A : kenapa tidak mungkin?
B : kita tak pernah saling bertemu, kita tak saling mengenal, bagaimana bisa rindu?
A : sebab aku rindu
B : ya, tapi bagaimana bisa?
A : apakah segalanya harus beralasan?
B : tak selalu, tapi...
A : sebab aku rindu. Itu saja. Mungkin karena kita satu resonansi. Mungkin. Aku tak tahu juga, karena kamu yang tahu...
B : bagaimana kamu tahu kita satu resonansi?
A : hanya 'mungkin', aku tak tahu. Kalau kamu juga rindu aku, mungkin resonansi kita benar sama.
B : bagaimana jika tidak?
A : apa itu masalah?
B : entahlah. Apa itu masalah bagimu? Rindumu tak berbalas kan?
A : lalu kenapa? Itu rasamu. Aku tak punya hak atasnya. Terserah saja. Yang aku tahu, ya rasaku. Jadi tak apa.
B : kamu masih akan tetap rindu aku?
A : ya, itu tak berhubungan.
B : bagaimana kalau itu menggangguku?
A : apanya?
B : rindumu, dan caramu mengungkapkannya.
A : kalau begitu aku akan diam.
B : tapi, rindumu akan terus ada?
A : lalu kenapa? Tak masalah. Dia akan hilang dengan  sendirinya.
B : bukannya malah semakin nembuncah?
A : ya, kalau kita satu resonansi.
B : itu lagi?
A : kau mau bagaimana?
B : aku hanya tak paham.
A : rinduku tak perlu alasan. Dia akan padam kalau kita berbeda jalan, tapi akan bertahan jika kita memang satu resonansi, meski tak pernah terkata.
B : kamu terlalu rumit.
A : tidak juga, kamu yang terlalu beranggapan bahwa segalanya mesti beralasan.
B : memang apalagi yang tak perlu alasan?
A : banyak. Terimakasih, bahagia, beberapa airmata, rindu, dan... mungkin cinta?
B : kau terlalu perasa.
A : apa itu masalah?
B : sedikit, tapi lebih banyak 'aneh'.
A : hahha, kau tak dapat melihat segalanya dengan mata.
B : tapi kau bisa tenggelam dan buta karena rasamu sendiri.
A : ya, aku tahu. Sebab itu aku butuh kamu.