Rabu, 07 Januari 2015

Hilang

Urus-urusan tentang cinta memang menyeret nalar dan rasa jauh dari logika. Tak selalu, tapi seringkali begitu. 
Entah bagaimana, semakin sering saya mendengar kata itu dari seseorang, semakin mati rasanya hati saya merasakannya. 
Takut. Ya, mungkin saja itu bentuk takut saya. Takut akan sesuatu yang biasa mengiringi sebelum waktunya. Begitu takut sampai khawatir salah-salah saya jadi bagian yang terseret itu.
Ada banyak kata yang saya telan. Sebagai pertahanan. Tapi beberapa waktu belakang, sepertinya sedikit pertahanan saya melemah. Pertahanan yang saya bangun hampir tiga tahun, hampir rubuh dalam beberapa hari. Lalu, setelah tahu beberapa hal, perasaan itu hilang begitu saja. Mati lagi. Saya ketakutan, bahkan sekedar untuk melihat kemejanya saja saya sudah hampir putar arah. Jadi, tarik napas dan palingkan mata, menuju mentari yang lebih meminta perhatian kita. Pada genggaman yang mulai melemah minta dikuatkan.
Saya takut, dan pilihan untuk berpaling dari semua romantisme cinta dan euforianya adalah cara saya menahan diri. Mengikat monster manja yang semakin minta dilepas seiring pertambahan usia. “Sudah waktunya” kata mereka. Tapi saya lebih memilih untuk tetap tak melihat kepada romantisme absurd. Memilih untuk tak melihat kepada janji-janji kebahagiaan yang mungkin jadi impian setiap gadis.
Ini sudah hampir 6-7 tahun sejak terakhir saya membaca cerita-cerita romance, dan yang berubah dari saya hanyalah bisa membariskan “kata itu” dalam tulisan, tapi tak pernah sanggup melisankan. Masih tak menerima, meski tak memungkiri. Saya hanya memilih untuk membuka cerita semacam itu, juga membuka hati untuk merasakannya lagi, nanti, setelah sebuah prosesi sakral di depan mata. Enggan saja memulainya dari saat ini. 
Saya masih tetap sama, menjaga semuanya tetap seperti mulanya. Tak menguncup, apalah lagi berbunga.
Meski di sisi lain juga sadar diri : Siapa saya?