Sabtu, 19 Maret 2016

Hujan, Malam, dan Kamu

Zrass...!
Deru hujan bergemeletuk di atas atap rumah. Berkolaborasi dengan angin yang berhembus dalam melodi tanpa ritme. 

Dingin.
Ada yang meremang di balik lembar baju. Sehelai selimut kurapatkan hingga menyisakan kepala. Memberi ruang bagi mata menikmati layar televisi yang tersaji.

Malam melarut bersama hujan. 
Aku terlarut ke dalam rindu.
Tentang kamu yang muncul dari balik deras hujan. Dengan rambut berbasah-basah dan wajah yang sumringah. Aku yang sumringah. Di satu tempat janji temu, dimana kemungkinan kau tiba hanya seperti lapis kertas agar di permen susu gambar kelinci. Tapi kau tiba.

Deru hujan. Deru memori.
Dingin malam. Dingin rindu.
Dan kamu, kabut masa lalu yang mengajarkan arti rela.