Senin, 08 Agustus 2016

"Biar Kuantar"

Ah, hujan baru saja reda. Langit masih menaawarkan aura syahdu. Ada khawatir yang tiba-tiba. Hujan benar-benar telah reda, atau hanya tertahan beberapa jenak saja?

Kamu masih terdiam sejak semalam. Merungut karena aku menghilang hampir seharian. Bahkan kucing pun kalah manja jika perbandingannya kamu. Segelas kopi kusajikan di meja ruang tamu. Matamu masih terpaku pada layar tablet, membaca sederet berita hari ini. Sambil duduk bersandar pada sofa.

"Selamat pagi..." sapaku seraya melingkarkan tangan pada bahumu yang masih saja kaku.
Kamu diam, aku mengambil tempat di sisimu. Menyelesaikan riasan seperti biasanya. Sebotol minyak wangi kuambil dari dalam tas. Aku hampir memakainya ketika kamu menahan tanganku, seraya berkata, "Jangan terlalu banyak," matamu masih saja tak lepas dari layar di tanganmu. "Tanpa itu pun kamu sudah menarik."

Aku menahan tawa. Kamu mengatakannya dengan suara dingin. Kusimpan lagi botol minyak wangi itu. Tidak jadi. Sebuah wedges hitam kupakai dan selesailah sudah persiapan pagi ini.

"Mau antar, atau aku pergi sendiri?" Tanyaku sambil berdiri. Sambil tersenyum lucu dengan sikap diam merajukmu.
Kamu meletakkan tabletmu, menyeruput kopi sedikit, dan pergi. Tak lama suara mesin terdengar, seolah ganti suaramu yang terlalu gengsi untuk sekedar mengatakan, "Mana mungkin kubiarkan kamu pergi sendiri."